
BANYUASIN, cimutnews.co.id – Upaya meningkatkan kualitas pendidikan dasar di Kabupaten Banyuasin mulai diarahkan pada penguatan kolaborasi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi. Salah satunya melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sriwijaya (Unsri), di SD Negeri 12 Sungai Pinang, Kecamatan Rambutan, Sabtu (8/8/2026).
Wakil Bupati Banyuasin Ir. Netta Indian, S.P menyambut baik kegiatan tersebut. Menurut dia, peningkatan mutu pendidikan membutuhkan keterlibatan banyak pihak, bukan hanya pemerintah daerah.
“Peningkatan mutu pendidikan tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata. Diperlukan kolaborasi yang erat antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, serta seluruh elemen masyarakat,” ujar Netta dalam kegiatan tersebut.
Kegiatan PPM ini melibatkan unsur pemerintah daerah, jajaran pendidikan, dosen dan peserta pelatihan. Kehadirannya sekaligus menempatkan perguruan tinggi bukan hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi sebagai mitra yang dapat membawa pengetahuan dan inovasi langsung ke sekolah serta masyarakat.
Pendidikan Dasar Jadi Titik Penting Peningkatan Kualitas SDM
Kolaborasi tersebut relevan dengan tantangan pembangunan sumber daya manusia di daerah. Badan Pusat Statistik (BPS) menempatkan pendidikan sebagai salah satu dimensi utama dalam pengukuran pembangunan manusia melalui dimensi pengetahuan.
Di tingkat Provinsi Sumatera Selatan, BPS mencatat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 2024 mencapai 73,84, naik 0,66 poin atau 0,90 persen dibandingkan 2023 yang sebesar 73,18. Pada dimensi pengetahuan, Harapan Lama Sekolah meningkat dari 12,63 tahun menjadi 12,64 tahun, sedangkan Rata-Rata Lama Sekolah meningkat dari 8,50 tahun menjadi 8,57 tahun.
Data tersebut menunjukkan bahwa pembangunan pendidikan tidak berhenti pada persoalan akses ke sekolah. Kualitas proses belajar, kompetensi pendidik, serta kemampuan sekolah merespons kebutuhan peserta didik menjadi bagian penting dari peningkatan kualitas manusia dalam jangka panjang.
BPS Kabupaten Banyuasin juga menyediakan data pendidikan menurut kecamatan, termasuk jumlah satuan pendidikan, pendidik dan peserta didik pada jenjang SD tahun ajaran 2025/2026. Data tersebut menjadi salah satu basis statistik yang dapat digunakan pemerintah daerah untuk melihat kebutuhan pendidikan secara lebih terukur.
Lima Tim dan Lima Tema Disiapkan untuk Peserta
Ketua Pelaksana Kegiatan Pelatihan, Prof. Dr. Siti Dewi Maharani, M.Pd., mengatakan kegiatan tersebut dirancang melalui lima tim, lima klasikal dan lima tema.
Format tersebut diharapkan membuat proses pelatihan tidak hanya berlangsung satu arah. Peserta dapat berdiskusi, mengajukan pertanyaan, berbagi pengalaman dan mengembangkan gagasan berdasarkan persoalan yang ditemui dalam praktik pendidikan.
“Kolaborasi ini menjadi awal kemitraan. Mari manfaatkan kesempatan ini dengan berdiskusi, bertanya, dan saling belajar. Kita jadikan kegiatan ini sebagai bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang benar-benar berkontribusi bagi masyarakat, sehingga lahir inovasi yang memberikan dampak positif,” kata Siti Dewi Maharani.
Model seperti ini sejalan dengan semangat pengabdian kepada masyarakat dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Regulasi tersebut mendefinisikan Tridharma Perguruan Tinggi sebagai kewajiban perguruan tinggi yang mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Pengabdian dimaksudkan untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi guna memajukan kesejahteraan masyarakat dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Dengan demikian, kegiatan di SD Negeri 12 Sungai Pinang memiliki konteks yang lebih luas. PPM tidak sekadar menjadi agenda akademik, tetapi dapat menjadi mekanisme transfer pengetahuan dari perguruan tinggi kepada satuan pendidikan.
Kompetensi Guru Menjadi Kunci Perubahan di Ruang Kelas
Koordinator Prodi PGSD FKIP Unsri, Dr. Esti Susiloningsih, M.Si., menegaskan bahwa kerja sama antara Unsri dan Pemerintah Kabupaten Banyuasin harus diterjemahkan menjadi kegiatan yang memberikan manfaat langsung.
“Ini bukan hanya kerja sama antara Unsri dan Pemerintah Banyuasin. Kerja sama ini tidak hanya tertulis di atas kertas, tetapi kami buat menjadi aksi nyata,” tegas Esti.
Penekanan pada aksi nyata menjadi penting karena kebijakan pendidikan nasional saat ini juga semakin mengarah pada peningkatan kompetensi guru dan kualitas pembelajaran.
Kemendikdasmen dalam arah kebijakan 2026 menempatkan penguatan kompetensi guru sebagai salah satu agenda penting pendidikan dasar. Program yang didorong antara lain Pembelajaran Mendalam, penguatan numerasi, Bahasa Inggris di sekolah dasar, serta pengembangan kemampuan terkait koding dan kecerdasan artifisial.
Dalam dokumen strategis Direktorat Guru Pendidikan Dasar 2025–2029, kualitas pembelajaran jenjang SD/SDLB/Paket A berdasarkan Rapor Pendidikan 2025 tercatat mencapai skor 65,27 pada 2024, meningkat dari 59,01 pada 2021. Namun pemerintah juga mencatat adanya variasi capaian antarwilayah dan kelompok sosial ekonomi sehingga peningkatan kualitas perlu dilakukan secara berkelanjutan dan merata
Artinya, pelatihan guru memiliki nilai strategis apabila hasilnya dapat diterapkan dalam pembelajaran sehari-hari. Pengetahuan yang diperoleh dalam pelatihan perlu diterjemahkan menjadi perubahan metode mengajar, pengelolaan kelas, asesmen, pemanfaatan teknologi, serta kemampuan guru menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan murid.
Tantangan Kolaborasi: Jangan Berhenti pada Kegiatan Seremonial
Kegiatan pengabdian masyarakat umumnya memiliki tantangan pada keberlanjutan. Pelatihan satu kali belum otomatis menghasilkan perubahan permanen di sekolah apabila tidak dilanjutkan dengan pendampingan, evaluasi dan pengukuran hasil.
Karena itu, kerja sama Unsri dan Pemerintah Kabupaten Banyuasin memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi pola kemitraan jangka panjang. Misalnya melalui pendampingan guru, komunitas belajar, pengembangan perangkat ajar, penelitian berbasis persoalan sekolah, serta evaluasi terhadap penerapan inovasi pembelajaran.
Pendekatan tersebut sejalan dengan arah pengembangan kompetensi guru yang mulai menekankan pembelajaran bersama rekan sejawat dan komunitas praktik, bukan hanya pelatihan konvensional satu arah. Dokumen strategis Direktorat Guru Pendidikan Dasar bahkan mencatat pentingnya peer learning, komunitas praktik dan pendampingan intensif agar peningkatan kompetensi lebih kontekstual dan berkelanjutan.
Dari sisi pemerintah daerah, kemitraan dengan perguruan tinggi juga dapat menjadi sumber dukungan berbasis keilmuan dalam merumuskan kebijakan pendidikan. Perguruan tinggi memiliki sumber daya akademik yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi persoalan, menguji pendekatan pembelajaran, serta mengukur dampak suatu program.
Nilai Strategis PPM Bukan pada Pelatihannya, tetapi Dampaknya
Micro Insight: Keunikan kegiatan PPM PGSD FKIP Unsri di Banyuasin terletak pada peluang mengubah hubungan perguruan tinggi dan pemerintah daerah dari sekadar kerja sama administratif menjadi kemitraan berbasis kebutuhan sekolah.
Jika pengetahuan dari kegiatan tersebut diterapkan dan dievaluasi secara berkelanjutan, manfaatnya dapat melampaui peserta pelatihan. Guru memperoleh penguatan kapasitas, sekolah mendapat inovasi pembelajaran, peserta didik berpotensi memperoleh pengalaman belajar yang lebih baik, sedangkan pemerintah daerah mendapatkan mitra akademik untuk mendukung kebijakan pendidikan berbasis bukti.
Sebaliknya, apabila kegiatan berhenti setelah pelatihan selesai, dampak jangka panjangnya akan sulit diukur. Karena itu, indikator keberhasilan berikutnya bukan hanya jumlah peserta atau jumlah tema pelatihan, melainkan perubahan praktik pembelajaran dan manfaat yang dirasakan sekolah.
Kolaborasi Pendidikan dan Target SDM Unggul
Penguatan pendidikan dasar juga berkaitan dengan agenda pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Bappenas menempatkan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai bagian penting dalam agenda pembangunan jangka menengah dan pencapaian visi tersebut. Pemerintah juga telah membangun kemitraan dengan sejumlah perguruan tinggi, termasuk Universitas Sriwijaya, untuk mendukung agenda pembangunan nasional melalui penguatan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Pada level daerah, agenda tersebut perlu diterjemahkan melalui program yang menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung. Sekolah dasar menjadi salah satu titik penting karena pada jenjang inilah kemampuan dasar membaca, menulis, berhitung, berpikir kritis, karakter dan kebiasaan belajar mulai dibentuk.
Standar pendidikan nasional juga menempatkan guru sebagai komponen penting dalam penyelenggaraan pendidikan. Kemendikdasmen menjelaskan bahwa kompetensi pendidik mencakup kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional. Guru juga dituntut mampu merancang pembelajaran yang berpusat pada murid serta berkolaborasi dengan sesama pendidik, orang tua dan masyarakat.
Karena itu, kegiatan pengabdian masyarakat yang mempertemukan akademisi dengan guru memiliki ruang strategis untuk memperkuat ekosistem pendidikan secara lebih luas.
Bagi Banyuasin, kemitraan tersebut dapat menjadi salah satu instrumen untuk mempertemukan kebutuhan sekolah dengan sumber daya akademik yang dimiliki Unsri. Tantangan selanjutnya adalah memastikan kolaborasi tersebut memiliki agenda lanjutan, indikator capaian dan evaluasi sehingga manfaatnya dapat dilihat secara konkret.
Kegiatan PPM PGSD FKIP Unsri di SD Negeri 12 Sungai Pinang akhirnya bukan hanya tentang pelaksanaan pelatihan. Lebih jauh, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun hubungan yang lebih erat antara perguruan tinggi, pemerintah daerah dan sekolah untuk memperkuat kualitas pendidikan dasar.
Jika kesinambungan program dapat dijaga, kolaborasi semacam ini berpotensi menjadi model kemitraan pendidikan yang tidak berhenti pada seremoni, tetapi menghasilkan praktik pembelajaran yang lebih baik dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat. (Noto)

















