Beranda Nusantara Fakta di Lapangan: Siskamling Diaktifkan Kembali, Namun Rasa Aman Warga Masih Menjadi...

Fakta di Lapangan: Siskamling Diaktifkan Kembali, Namun Rasa Aman Warga Masih Menjadi Pertanyaan

5
0
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyampaikan pengaktifan kembali program Warga Jaga Warga, Warga Jaga Kota sebagai upaya memperkuat keamanan lingkungan selama masa libur sekolah. (Foto: Siti/CimutNews)

BANDUNG, cimutnews.co.id — Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung kembali menghidupkan sistem keamanan lingkungan (siskamling) dan ronda malam melalui program “Warga Jaga Warga, Warga Jaga Kota”. Kebijakan tersebut diumumkan di tengah meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap kasus kekerasan yang melibatkan pelajar selama masa libur sekolah, sekaligus sebagai langkah mengantisipasi aksi kriminalitas seperti begal.

Keputusan itu menjadi sinyal bahwa keamanan lingkungan kembali menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Namun, di balik langkah tersebut, muncul pertanyaan yang juga dirasakan sebagian masyarakat: apakah mengaktifkan kembali ronda malam cukup efektif menghadapi pola kejahatan yang kini semakin dinamis?

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengatakan peningkatan kasus kekerasan di kalangan pelajar selama libur sekolah menjadi alasan utama pemerintah memperkuat pengawasan berbasis masyarakat.

“Kalau terkait keamanan, saat ini tingkat kekerasan di kalangan pelajar sedang meningkat karena masa libur sekolah. Karena itu, kami akan melakukan tindakan tegas yang disertai pembinaan,” ujar Farhan di Balai Kota Bandung.

Selain pembinaan terhadap pelajar yang terlibat tindak kekerasan, Pemkot Bandung juga meminta seluruh kecamatan dan kelurahan kembali mengaktifkan ronda malam secara konsisten.

Menurut Farhan, keterlibatan warga merupakan salah satu cara mempersempit ruang gerak pelaku kriminal sekaligus memperkuat deteksi dini terhadap potensi gangguan keamanan.

Program “Warga Jaga Warga, Warga Jaga Kota” pun akan dijalankan di seluruh wilayah Kota Bandung dengan melibatkan masyarakat secara langsung dalam menjaga lingkungan masing-masing.

“Untuk mengantisipasi begal, siskamling dan ronda melalui program ‘Warga Jaga Warga, Warga Jaga Kota’ akan terus diaktifkan di seluruh kelurahan dan kecamatan,” katanya.

Namun fakta di lapangan menunjukkan, tantangan menjaga keamanan perkotaan tidak hanya berkaitan dengan keberadaan ronda malam. Perubahan pola aktivitas masyarakat, meningkatnya mobilitas kendaraan, hingga penggunaan media sosial sebagai sarana berkumpul kelompok remaja membuat pola pengawasan lingkungan juga perlu terus beradaptasi.

Baca juga  Itera Gelar Wisuda ke-23, Luncurkan Dokumen Kelulusan Digital Pertama di Lampung

Di sejumlah kawasan perkotaan, aktivitas ronda memang masih berjalan, tetapi intensitasnya berbeda-beda. Ada lingkungan yang tetap aktif menjaga keamanan setiap malam, sementara di wilayah lain kegiatan tersebut mulai berkurang karena keterbatasan partisipasi warga maupun kesibukan masyarakat.

Sejumlah warga mengaku keberadaan ronda malam dapat memberikan rasa aman, terutama pada jam-jam rawan. Meski demikian, sebagian lainnya menilai pengamanan lingkungan akan lebih efektif apabila diiringi patroli aparat secara berkala, penerangan jalan yang memadai, serta pengawasan terhadap titik-titik yang selama ini rawan dijadikan lokasi berkumpul hingga larut malam.

Selain mengaktifkan siskamling, Pemkot Bandung juga berencana melakukan penertiban di sejumlah lokasi yang sering menjadi tempat berkumpul pada malam hari, terutama kawasan yang memiliki nilai religius dan dinilai perlu dijaga ketertibannya.

Langkah tersebut diharapkan mampu mengurangi potensi gangguan keamanan sekaligus menciptakan ruang publik yang lebih tertib selama masa libur sekolah.

Pengamat kebijakan publik umumnya menilai pendekatan keamanan berbasis masyarakat memang memiliki kelebihan karena mampu membangun kepedulian sosial dan mempercepat penyampaian informasi ketika terjadi gangguan keamanan. Namun efektivitasnya tetap bergantung pada konsistensi pelaksanaan, koordinasi dengan aparat keamanan, serta dukungan fasilitas pendukung lainnya.

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan di sejumlah kawasan perkotaan yang menghadapi tantangan berupa tingginya mobilitas penduduk dan berkurangnya interaksi sosial antarwarga. Situasi tersebut membuat semangat gotong royong yang menjadi fondasi siskamling memerlukan penguatan kembali agar tidak hanya menjadi program sesaat.

Hingga kini, belum semua rincian mengenai mekanisme evaluasi, indikator keberhasilan, maupun pola koordinasi program “Warga Jaga Warga, Warga Jaga Kota” dijelaskan secara menyeluruh kepada publik. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana efektivitas program tersebut akan diukur dalam menekan angka kriminalitas dan kekerasan pelajar dalam jangka panjang.

Baca juga  Bupati Egi Pratama Resmikan Jalan Way Harong–Simpang Sidoharjo: Infrastruktur Mantap, Ekonomi Lampung Selatan Kian Tumbuh

Ke depan, masyarakat tentu berharap penguatan ronda malam tidak sekadar menjadi respons terhadap meningkatnya kasus keamanan saat libur sekolah, melainkan menjadi gerakan bersama yang berkelanjutan.

Apakah pengaktifan kembali siskamling mampu menjawab keresahan warga terhadap ancaman begal dan kekerasan pelajar, atau justru masih menyisakan pekerjaan rumah yang memerlukan langkah-langkah lain yang lebih komprehensif? Waktu dan konsistensi pelaksanaannya akan menjadi jawabannya. (Siti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here