Beranda Banyuasin Panen Raya IP 200 Banyuasin Tembus 1,044 Juta Ton, Bupati Dorong Percepatan...

Panen Raya IP 200 Banyuasin Tembus 1,044 Juta Ton, Bupati Dorong Percepatan Panen Hadapi Hama Tikus

29
0
Bupati Banyuasin Dr. H. Askolani memanen padi IP 200 bersama petani di Desa Tirta Raharja, Kecamatan Muara Sugihan, Kamis (9/7/2026).(Foto:Noto/cimutnews)

MUARA SUGIHAN, cimutnews.co.idPanen Raya IP 200 Banyuasin kembali menjadi momentum penting dalam menjaga ketahanan pangan daerah. Bupati Banyuasin Dr. H. Askolani, SH., MH melakukan panen raya padi Indeks Pertanaman (IP) 200 di Desa Tirta Raharja sekaligus meninjau pertanaman jagung IP 300 di Desa Rejosari, Kecamatan Muara Sugihan, Kamis (9/7/2026).

Kunjungan tersebut tidak hanya memastikan keberhasilan musim tanam, tetapi juga menjadi ajang evaluasi terhadap berbagai tantangan yang masih dihadapi petani, terutama serangan hama tikus yang mulai mengancam hasil panen menjelang musim panen berakhir.

Produksi Padi Banyuasin Terus Bertumbuh

Bupati Askolani menyampaikan optimisme bahwa panen IP 200 di Desa Tirta Raharja mampu menghasilkan sekitar 3–4 ton meski sebagian lahan terdampak serangan hama tikus.

Menurutnya, percepatan panen menjadi langkah paling efektif untuk mengurangi kehilangan hasil akibat serangan hama yang biasanya meningkat ketika sebagian lahan sudah dipanen, sementara lahan lain masih memasuki masa panen.

“Insya Allah setelah panen hari ini seluruh hasil panen dapat diselamatkan dari serangan tikus. Karena itu petani harus segera menyelesaikan panennya,” ujar Askolani.

Ia menjelaskan, salah satu penyebab meningkatnya populasi tikus adalah ketidaksamaan waktu tanam antarlahan. Kondisi tersebut membuat sumber makanan bagi hama tersedia lebih lama sehingga serangannya berlangsung terus-menerus.

Pola Tanam Serempak Dinilai Jadi Solusi

Sinkronisasi Jadwal Tanam Perlu Diperkuat

Bupati menilai penerapan pola tanam serempak menjadi salah satu strategi penting dalam menekan risiko serangan organisme pengganggu tanaman.

Dengan jadwal tanam yang seragam, masa panen berlangsung hampir bersamaan sehingga siklus hidup hama dapat diputus secara alami.

Ia berharap koordinasi antara kelompok tani, penyuluh pertanian, dan pemerintah desa semakin diperkuat agar pola tanam serempak dapat diterapkan lebih luas pada musim tanam berikutnya.

Baca juga  Ketua TP PKK Banyuasin Dorong UMKM Naik Kelas lewat HKG PKK dan HUT Dekranas di Makassar

Produksi Padi Banyuasin Sudah Capai 1,044 Juta Ton

Dalam kesempatan itu, Askolani mengungkapkan bahwa produksi padi Kabupaten Banyuasin hingga saat ini telah mencapai sekitar 1.044.000 ton.

Angka tersebut menunjukkan posisi Banyuasin sebagai salah satu daerah penyangga produksi pangan terbesar di Sumatera Selatan yang selama ini berkontribusi terhadap pasokan beras regional maupun nasional.

“Kami hadir di tengah petani untuk memberikan motivasi, melakukan edukasi sekaligus mengetahui persoalan yang mereka hadapi secara langsung,” katanya.

Pemerintah Kabupaten Banyuasin, lanjutnya, berkomitmen menjaga tren peningkatan produksi melalui pendampingan budidaya, peningkatan sarana pertanian, serta penguatan koordinasi dengan berbagai instansi terkait.

Jagung IP 300 Disiapkan Menghadapi Musim Kemarau

Diversifikasi Tanaman Jadi Strategi Petani

Selain memanen padi, rombongan juga meninjau pertanaman jagung IP 300 di Desa Rejosari.

Menurut Askolani, petani Banyuasin telah memahami karakter musim sehingga mampu menentukan waktu tanam yang paling tepat.

Saat musim kemarau seperti sekarang, lahan mulai dimanfaatkan untuk penanaman jagung karena tanaman tersebut membutuhkan intensitas sinar matahari yang tinggi.

Sebaliknya, penanaman jagung saat curah hujan tinggi dinilai berisiko menurunkan kualitas hasil karena kelembapan berlebih dapat memicu pembusukan tongkol maupun batang tanaman.

Strategi pergiliran komoditas antara padi dan jagung juga dinilai mampu menjaga produktivitas lahan sekaligus meningkatkan pendapatan petani sepanjang tahun.

Ketahanan Pangan Tidak Hanya Bergantung pada Produksi

Keberhasilan meningkatkan produksi padi bukan semata ditentukan oleh luas panen, tetapi juga kemampuan mengurangi kehilangan hasil akibat hama maupun perubahan iklim.

Berdasarkan berbagai kajian sektor pertanian di Indonesia, kehilangan hasil panen akibat organisme pengganggu tanaman masih menjadi salah satu tantangan utama dalam menjaga produktivitas nasional. Karena itu, pengendalian hama terpadu, pola tanam serempak, serta pendampingan penyuluh menjadi bagian penting dari strategi peningkatan produksi.

Baca juga  Eksplorasi Sultan Muda Digencarkan, Namun Hilirisasi dan Kesejahteraan Peternak Masih Jadi Pertanyaan

Di sisi lain, diversifikasi usaha tani melalui pengembangan jagung setelah musim padi juga menjadi langkah adaptasi terhadap perubahan pola cuaca yang semakin dinamis.

Banyuasin Perkuat Perannya Sebagai Lumbung Pangan

Pencapaian produksi lebih dari satu juta ton menunjukkan bahwa Banyuasin terus memperkuat posisinya sebagai salah satu sentra pangan strategis di Sumatera Selatan. Namun tantangan ke depan tidak lagi hanya berfokus pada peningkatan luas tanam, melainkan menjaga stabilitas hasil panen melalui manajemen budidaya yang lebih modern.

Serangan tikus yang muncul akibat ketidaksinkronan waktu tanam menjadi pelajaran penting bahwa keberhasilan sektor pertanian tidak hanya bergantung pada kemampuan individu petani, tetapi juga koordinasi antarkelompok tani dalam satu hamparan. Jika pola tanam serempak diterapkan secara konsisten, efisiensi pengendalian hama dapat meningkat sekaligus menekan potensi kerugian produksi. (Noto)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here