Beranda OKU Timur Hari Keluarga Nasional ke-33: OKU Timur Perkuat Ketahanan Keluarga untuk Menyongsong Indonesia...

Hari Keluarga Nasional ke-33: OKU Timur Perkuat Ketahanan Keluarga untuk Menyongsong Indonesia Emas 2045

6
0
• Bupati OKU Timur Ir. H. Lanosin, M.T., M.M. bertindak sebagai inspektur upacara pada Peringatan Hari Keluarga Nasional (HARGANAS) ke-33 Tahun 2026 di Halaman Perkantoran Pemerintah Kabupaten OKU Timur, Senin (30/6/2026). Upacara tersebut menjadi momentum memperkuat komitmen pembangunan keluarga sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. (Foto: Agus/CimutNews.co.id)

OKU TIMUR, CimutNews.co.id – Peringatan Hari Keluarga Nasional (HARGANAS) ke-33 Tahun 2026 di Kabupaten OKU Timur menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik dan ekonomi, tetapi juga dimulai dari kualitas keluarga sebagai lingkungan pertama pembentukan karakter generasi penerus bangsa.

Momentum tersebut ditandai melalui upacara yang digelar Pemerintah Kabupaten OKU Timur di halaman Perkantoran Pemkab OKU Timur, Senin (30/6/2026). Bupati OKU Timur Ir. H. Lanosin, M.T., M.M. bertindak sebagai inspektur upacara yang diikuti pejabat eselon II, III, dan IV di lingkungan pemerintah daerah.

Nuansa kebhinekaan turut mewarnai pelaksanaan upacara. Seluruh peserta mengenakan pakaian adat daerah dan wastra Nusantara sebagai simbol persatuan dalam keberagaman sekaligus refleksi bahwa keluarga Indonesia tumbuh dari berbagai latar belakang budaya yang memiliki tujuan sama, yakni membangun generasi berkualitas.

HARGANAS Bukan Sekadar Seremoni Tahunan

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Lanosin membacakan sambutan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Dr. Wihaji, S.Ag., M.Pd.

Menteri menegaskan bahwa Hari Keluarga Nasional bukan sekadar agenda seremonial, melainkan momentum nasional untuk mengingat kembali pentingnya keluarga sebagai fondasi pembangunan bangsa.

“Hari ini bukan sekadar seremoni, tetapi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri, sudahkah keluarga kita menjadi tempat yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi setiap anggotanya?” demikian kutipan pidato Menteri yang dibacakan Bupati Enos.

Menurut Menteri, keluarga merupakan titik awal pembangunan sumber daya manusia. Seluruh proses pembentukan karakter, kesehatan, pendidikan, hingga ketahanan sosial bermula dari lingkungan rumah tangga.

Bonus Demografi Menjadi Peluang Strategis

Pemerintah menilai Indonesia saat ini sedang memasuki periode bonus demografi, yaitu ketika jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibanding usia nonproduktif.

Baca juga  Percepatan Tanam Digencarkan, Namun Tantangan Petani Masih Ada Fakta Lapangan: Program Didorong, Tapi Belum Semua Petani Merasakan

Berdasarkan proyeksi resmi pemerintah dan Badan Pusat Statistik (BPS), bonus demografi diperkirakan berlangsung hingga sekitar tahun 2035 dan menjadi modal penting dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 apabila mampu diiringi peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Karena itu, pembangunan keluarga menjadi salah satu prioritas nasional yang sejalan dengan arah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), implementasi Asta Cita Pemerintah, serta target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan mengenai kesehatan, pendidikan berkualitas, kesetaraan gender, dan pengurangan kemiskinan.

Dalam pidatonya, Menteri menekankan bahwa peluang bonus demografi tidak akan otomatis menghasilkan kemajuan apabila keluarga gagal mempersiapkan generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, dan memiliki daya saing.

Pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan

Pemerintah juga kembali mengingatkan pentingnya investasi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.

Periode tersebut menjadi fase krusial dalam mencegah stunting, mendukung perkembangan otak, memperkuat sistem imun, serta membentuk kualitas kesehatan jangka panjang.

Program ini selaras dengan berbagai kebijakan nasional yang selama beberapa tahun terakhir difokuskan pada percepatan penurunan angka stunting melalui kolaborasi pemerintah pusat dan daerah.

Selain pemenuhan gizi, pendidikan karakter sejak usia dini juga dinilai menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam membangun generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.

Peran Ayah Mendapat Penekanan Khusus

Salah satu pesan yang mendapat perhatian dalam sambutan Menteri adalah pentingnya kehadiran ayah dalam proses tumbuh kembang anak.

Menurutnya, peran ayah tidak berhenti sebagai pencari nafkah, melainkan juga sebagai pendidik, pelindung, sahabat, sekaligus teladan di dalam keluarga.

Kehadiran ayah, baik secara fisik maupun emosional, dinilai berpengaruh terhadap pembentukan karakter, kepercayaan diri, kemampuan sosial, hingga ketahanan mental anak dalam menghadapi tantangan kehidupan.

Baca juga  Sekolah Berasrama Religi OKU Timur Diresmikan Herman Deru, Perkuat Pendidikan Karakter Siswa

Karena itu, para ayah diajak meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan anak, mendampingi aktivitas belajar, mendengarkan cerita mereka, serta membangun hubungan yang hangat di tengah kesibukan pekerjaan.

Keluarga Menjadi Pilar Pembangunan Daerah

Bagi Pemerintah Kabupaten OKU Timur, pembangunan keluarga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan daerah.

Kemajuan daerah bukan hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi maupun pembangunan infrastruktur, tetapi juga dari kualitas manusianya.

Ketika keluarga mampu menciptakan lingkungan yang sehat, harmonis, dan penuh kasih sayang, maka peluang lahirnya generasi produktif, sehat, serta memiliki daya saing akan semakin besar.

Komitmen tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pembangunan manusia yang berkelanjutan di Kabupaten OKU Timur.

Ketahanan Keluarga Menjadi Investasi Jangka Panjang

Peringatan HARGANAS tahun ini memperlihatkan semakin kuatnya pendekatan pemerintah yang menempatkan keluarga sebagai pusat pembangunan nasional.

Pendekatan tersebut tidak hanya berorientasi pada peningkatan kesejahteraan rumah tangga, tetapi juga diarahkan untuk menghasilkan sumber daya manusia berkualitas yang mampu menghadapi tantangan perubahan ekonomi, transformasi digital, hingga persaingan global.

Dalam konteks daerah, keberhasilan membangun keluarga berkualitas akan berdampak langsung terhadap berbagai indikator pembangunan, mulai dari penurunan angka stunting, peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan masyarakat, hingga produktivitas tenaga kerja di masa depan.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa lingkungan keluarga yang harmonis memiliki hubungan erat dengan rendahnya risiko putus sekolah, kekerasan terhadap anak, penyalahgunaan narkoba, hingga berbagai persoalan sosial lainnya. Karena itu, investasi terhadap keluarga sebenarnya merupakan investasi jangka panjang bagi pembangunan daerah. (Agus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here