
MURATARA, cimutnews.co.id — Semangat kebersamaan mewarnai pembukaan Turnamen Bola Voli Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), yang mempertemukan 26 tim dari kecamatan dan desa di Halaman Silampari, Kecamatan Rupit.
Ajang olahraga tersebut bukan hanya menjadi kompetisi antarkader, tetapi juga membawa pesan besar tentang pentingnya memperkuat solidaritas, pola hidup sehat, dan peran PKK sebagai mitra pemerintah dalam pembangunan masyarakat.
Namun, hal ini juga menimbulkan pertanyaan. Apakah semangat yang dibangun melalui sebuah turnamen mampu berlanjut menjadi gerakan nyata yang dirasakan hingga ke desa-desa, atau hanya berhenti ketika pertandingan usai?
Turnamen mengusung tema “Melalui Turnamen Voli PKK Kita Rajut Kebersamaan, Sportivitas, dan Prestasi Menuju Masyarakat yang Sehat, Aktif, dan Sejahtera.” Sebanyak 26 tim dari berbagai wilayah di Muratara ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Pembukaan dilakukan oleh Staf Ahli Bupati Muratara Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan SDM, Al-Azhar, serta dihadiri Ketua TP PKK Kabupaten Muratara Hj. Nafisah Wahyudi, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Amirul, jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Kapolsek Rupit, dan para kader TP PKK.
Dalam sambutannya, Ketua TP PKK Muratara Hj. Nafisah Wahyudi menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, panitia, dan Dispora Muratara yang telah mendukung penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Menurutnya, turnamen tidak semata-mata bertujuan mencari tim terbaik, melainkan menjadi ruang mempererat hubungan antarkader yang selama ini menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat di wilayah masing-masing.
“Turnamen ini bukan untuk mencari siapa yang terbaik, tetapi untuk menjalin silaturahmi dan mempererat rasa kebersamaan sesama anggota TP PKK,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan seluruh peserta agar menjaga keselamatan selama pertandingan serta menjunjung tinggi nilai sportivitas.
Sementara itu, Staf Ahli Bupati Muratara Al-Azhar menilai kegiatan olahraga memiliki manfaat yang lebih luas dibanding sekadar kompetisi.
Menurutnya, olahraga mampu menjadi media memperkuat persaudaraan, membangun kekompakan, sekaligus menjaga semangat kebersamaan di tengah kader PKK yang tersebar di berbagai kecamatan dan desa.
Ia mengajak seluruh peserta tetap bersemangat, baik yang nantinya menjadi juara maupun yang belum berhasil meraih kemenangan.
Namun fakta di lapangan menunjukkan, tantangan membangun budaya hidup sehat dan aktivitas olahraga masyarakat masih membutuhkan upaya yang berkelanjutan. Di berbagai daerah, kegiatan olahraga massal kerap berlangsung meriah ketika ada agenda tertentu, tetapi intensitas pembinaan rutin di tingkat desa masih menjadi pekerjaan yang perlu terus diperkuat.
Di sisi lain, kader PKK selama ini memegang peran yang cukup luas, mulai dari pemberdayaan keluarga, kesehatan, pendidikan, hingga pembinaan masyarakat. Karena itu, kegiatan olahraga seperti turnamen voli dinilai dapat menjadi sarana memperkuat komunikasi antarkader yang nantinya berdampak pada pelaksanaan program di lapangan.
Sejumlah peserta yang hadir mengaku antusias mengikuti turnamen karena menjadi kesempatan bertemu kembali dengan kader dari kecamatan maupun desa lain. Selain berkompetisi, kegiatan tersebut juga menjadi ruang berbagi pengalaman mengenai pelaksanaan program PKK di wilayah masing-masing.
Meski demikian, hingga kini, belum semua daerah memiliki kesempatan dan fasilitas olahraga yang memadai untuk mendukung aktivitas masyarakat secara rutin. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri apabila semangat hidup sehat ingin terus dijaga setelah kegiatan seremonial selesai.
Berdasarkan temuan di lapangan, penyelenggaraan turnamen berlangsung dengan suasana penuh kekeluargaan. Panitia juga mengingatkan peserta untuk mengutamakan keselamatan selama pertandingan guna meminimalkan risiko cedera.
Pengamat pembangunan masyarakat menilai kegiatan seperti ini akan memberikan dampak lebih besar apabila diikuti dengan pembinaan olahraga berkelanjutan, peningkatan aktivitas masyarakat di tingkat desa, serta kolaborasi lintas sektor agar semangat yang dibangun tidak berhenti pada satu agenda tahunan.
Turnamen Bola Voli TP PKK Muratara menjadi gambaran bahwa olahraga dapat menjadi media memperkuat kebersamaan sekaligus mendukung pembangunan sosial masyarakat.
Namun, apakah semangat yang tumbuh selama turnamen ini benar-benar akan berlanjut menjadi budaya hidup sehat dan memperkuat peran kader PKK hingga ke pelosok desa, atau masih menyisakan pekerjaan rumah yang harus diwujudkan melalui program nyata? Waktu yang akan menjawabnya. (Noto)

















