Beranda Musi Rawas Utara Terungkap, Semangat Literasi Tumbuh Lewat Dongeng, Namun Kebiasaan Membaca Belum Merata

Terungkap, Semangat Literasi Tumbuh Lewat Dongeng, Namun Kebiasaan Membaca Belum Merata

8
0
Bunda Literasi Kabupaten Musi Rawas Utara bersama RELIMA Perpustakaan Nasional RI mendongeng di hadapan anak-anak TK Fallah Abrar dalam kegiatan penguatan budaya membaca sejak usia dini. (Foto: Noto/CimutNews)

MUSI RAWAS UTARA, cimutnews.co.id — Budaya membaca terus didorong sejak usia dini di Kabupaten Musi Rawas Utara. Kali ini, pendekatan yang dipilih bukan sekadar membagikan buku, melainkan menghidupkan imajinasi anak melalui cerita dan dongeng.

Namun, di balik semangat berbagai gerakan literasi yang terus digelorakan, muncul satu pertanyaan yang masih relevan. Apakah kegiatan seperti ini mampu membentuk kebiasaan membaca secara berkelanjutan di tengah tantangan era digital?

Pertanyaan itu menjadi penting mengingat minat baca anak tidak hanya dipengaruhi kegiatan di sekolah, tetapi juga lingkungan keluarga, ketersediaan bahan bacaan, hingga pendampingan orang tua di rumah.

Kegiatan bertajuk “Membaca Awal Petualangan, Mendongeng Jembatan Imajinasi Anak” digelar pada Kamis (16/7/2026) oleh Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA) Perpustakaan Nasional RI Lokus Musi Rawas Utara bersama Bunda Literasi sekaligus Bunda PAUD Kabupaten Musi Rawas Utara, Hj. Nafisah Wahyudi.

Kegiatan berlangsung di dua lembaga pendidikan anak usia dini, yakni TK Fallah Abrar di Kelurahan Muara Rupit dan TK Izzatul Islam di Desa Karang Anyar.

Anak-anak diajak menikmati cerita bertema “Ayo Membaca, Ayo Berpetualang” yang dipadukan dengan cerita rakyat lokal “Tenggelamnya Danau Rayo dan Kebaikan Bujang Kurap.” Pendekatan tersebut membuat peserta aktif berinteraksi, bertanya, dan mengikuti alur cerita hingga kegiatan berakhir.

Selain memperkenalkan buku sebagai teman bermain, sesi mendongeng juga menjadi media untuk menanamkan nilai kejujuran, kepedulian, saling menghargai, serta pentingnya membangun kebiasaan membaca sejak dini.

Bunda Literasi Kabupaten Musi Rawas Utara, Hj. Nafisah Wahyudi, mengatakan literasi bukan hanya kemampuan membaca, tetapi juga bekal penting untuk menghadapi tantangan kehidupan.

Menurutnya, kemampuan literasi membantu seseorang memperluas wawasan, memahami informasi secara lebih utuh, melatih berpikir kritis, membedakan fakta dan opini, serta tidak mudah terpengaruh informasi yang belum tentu benar.

Baca juga  Muratara Perluas Akses Pendidikan Kedinasan Lewat Kerja Sama dengan PKN STAN

Ia berharap budaya membaca tidak hanya tumbuh di sekolah, tetapi juga menjadi kebiasaan di rumah melalui kolaborasi antara keluarga, guru, pemerintah, dan masyarakat.

Gerakan literasi memang semakin sering dilakukan di berbagai daerah, termasuk Musi Rawas Utara. Meski demikian, membangun budaya membaca merupakan proses panjang yang tidak cukup hanya mengandalkan kegiatan seremonial.

Berdasarkan temuan di lapangan, masih terdapat sejumlah tantangan yang kerap dihadapi, mulai dari keterbatasan akses terhadap bahan bacaan berkualitas di sebagian wilayah, kebiasaan penggunaan gawai pada anak, hingga belum meratanya pendampingan membaca di lingkungan keluarga.

Di sisi lain, sejumlah guru mengaku metode mendongeng menjadi salah satu cara paling efektif untuk mengenalkan buku kepada anak usia dini karena lebih mudah menarik perhatian dibandingkan metode belajar yang bersifat satu arah.

Sejumlah orang tua yang hadir juga menilai kegiatan seperti ini memberikan pengalaman baru bagi anak-anak. Mereka berharap kegiatan serupa tidak berhenti pada momentum tertentu, tetapi dapat dilakukan secara berkala agar minat membaca benar-benar tumbuh menjadi kebiasaan.

Mengapa Pendekatan Dongeng Dinilai Penting?

Praktik literasi anak usia dini tidak hanya bertujuan mengenalkan huruf. Mendongeng juga membantu perkembangan bahasa, memperkaya kosakata, meningkatkan kemampuan mendengar, sekaligus membangun keberanian anak dalam berkomunikasi.

Cerita rakyat lokal yang digunakan dalam kegiatan ini juga memiliki nilai strategis karena memperkenalkan budaya daerah kepada generasi muda sejak dini.

Meski demikian, para pegiat literasi menilai keberhasilan gerakan membaca tetap bergantung pada kesinambungan program. Tanpa dukungan lingkungan keluarga, sekolah, serta tersedianya bahan bacaan yang mudah diakses, kebiasaan membaca dikhawatirkan sulit berkembang secara konsisten.

RELIMA Perpustakaan Nasional RI Lokus Musi Rawas Utara turut menyampaikan apresiasi kepada Bunda Literasi, Bunda PAUD, Dinas Pendidikan, Dinas Perpustakaan, para guru, dan orang tua yang mendukung penguatan budaya literasi di daerah.

Baca juga  Sunatan Massal PT Triaryani Jangkau 129 Anak di Muratara, Perkuat Akses Layanan Kesehatan dan Komitmen CSR Berkelanjutan

Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperluas jangkauan gerakan membaca sekaligus menciptakan generasi yang lebih siap menghadapi perkembangan informasi di masa depan.

Hingga kini, belum semua tantangan dalam membangun budaya membaca sejak usia dini dapat terjawab hanya melalui satu kegiatan. Yang masih menjadi perhatian adalah bagaimana semangat literasi yang tumbuh di ruang kelas dapat terus hidup di rumah dan lingkungan sekitar. Apakah gerakan ini mampu melahirkan generasi pembaca yang konsisten, atau masih menyisakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama? (Noto)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here