
OKU TIMUR, cimutnews.co.id — Lomba Balita Indonesia Tingkat Kabupaten OKU Timur Tahun 2026 kembali digelar sebagai bagian dari upaya meningkatkan perhatian terhadap kesehatan dan tumbuh kembang anak usia dini. Namun, di balik pelaksanaan lomba tersebut, masih ada tantangan yang dinilai belum sepenuhnya terjawab, yakni bagaimana memastikan seluruh anak memperoleh pendampingan tumbuh kembang secara optimal, bukan hanya saat mengikuti kompetisi.
Pesan itu mengemuka dalam kegiatan yang berlangsung di Aula Hotel Parai Tani, Martapura, Rabu (15/7/2026), ketika Ketua TP PKK Kabupaten OKU Timur, dr. Sheila Noberta, Sp.A., M.Kes., mengingatkan bahwa perkembangan anak tidak cukup diukur dari berat badan maupun tinggi badan semata.
Hal ini menimbulkan pertanyaan. Apakah kesadaran orang tua untuk mengenali potensi anak sejak usia dini sudah benar-benar merata, atau masih terbatas pada keluarga yang aktif mengikuti kegiatan pembinaan kesehatan?
Dalam kesempatan tersebut, dr. Sheila mengajak para orang tua agar lebih peka terhadap setiap fase perkembangan anak. Menurutnya, perilaku balita yang sering dianggap mengganggu justru bisa menjadi petunjuk adanya bakat maupun kemampuan tertentu yang belum dikenali.
Ia menegaskan bahwa perhatian terhadap anak harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemenuhan gizi, imunisasi, hingga pembentukan karakter dan pengenalan minat sejak dini.
“Kami berharap keluarga, khususnya orang tua, terus memantau tumbuh kembang anak, rajin membawa ke posyandu untuk imunisasi, dan yang paling penting adalah memberikan asupan makanan yang sehat dan seimbang,” ujar dr. Sheila.
Ia juga mengingatkan bahwa menjadi orang tua pada era sekarang bukan hanya memastikan anak tumbuh sehat, tetapi juga memahami setiap keunikan yang dimiliki masing-masing anak.
“Sering kali kita tidak menyadari bahwa kebiasaan anak balita yang kurang kita sukai justru merupakan bakat yang terpendam. Karena itu, sebagai ibu kita harus cermat dalam mengasuh dan mendidik anak,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten OKU Timur, Yakub, S.K.M., M.M., menjelaskan bahwa Lomba Balita Indonesia 2026 diikuti oleh perwakilan dari 24 puskesmas yang tersebar di seluruh wilayah kabupaten.
Penilaian dilakukan menggunakan sejumlah indikator kesehatan dan perkembangan anak, meliputi berat badan, tinggi badan, status gizi, perkembangan psikologis, hingga kemampuan interaksi sosial.
Menurut Yakub, proses penilaian mengacu pada standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sehingga kondisi fisik anak dapat dinilai secara objektif.
“Kami menggunakan standar WHO untuk menilai apakah berat dan panjang badan balita sudah masuk kategori normal. Tidak boleh terlalu kurus ataupun terlalu gemuk, tetapi harus proporsional,” jelasnya.
Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa tantangan tumbuh kembang anak tidak hanya berkaitan dengan layanan kesehatan. Berdasarkan temuan di berbagai wilayah, masih terdapat orang tua yang belum rutin membawa anak ke posyandu, baik karena kesibukan bekerja, minimnya pemahaman mengenai pentingnya pemantauan pertumbuhan, maupun faktor akses pelayanan kesehatan.
Di sisi lain, perhatian terhadap perkembangan psikologis dan karakter anak juga dinilai belum menjadi prioritas di sebagian keluarga. Tidak sedikit orang tua yang lebih fokus pada pencapaian fisik, sementara kemampuan berinteraksi, komunikasi, hingga minat anak sering kali baru diperhatikan ketika memasuki usia sekolah.
Sejumlah warga mengaku kegiatan seperti Lomba Balita Indonesia memberikan motivasi bagi orang tua untuk lebih memperhatikan tumbuh kembang anak. Meski demikian, mereka berharap edukasi serupa tidak hanya berlangsung saat perlombaan, melainkan juga diperkuat melalui pendampingan rutin di tingkat desa maupun posyandu.
Pengamat kesehatan anak selama ini juga menilai bahwa masa balita merupakan periode emas pembentukan kualitas sumber daya manusia. Gangguan gizi, keterlambatan stimulasi, maupun kurangnya perhatian terhadap perkembangan psikologis pada fase ini dapat berdampak terhadap kemampuan belajar anak pada masa mendatang apabila tidak segera ditangani.
Karena itu, pelaksanaan Lomba Balita Indonesia bukan sekadar ajang memilih balita terbaik, melainkan menjadi momentum untuk mengingatkan bahwa kualitas generasi mendatang ditentukan oleh perhatian yang diberikan sejak usia dini.
Pemerintah Kabupaten OKU Timur berharap kegiatan tersebut mampu meningkatkan kesadaran keluarga mengenai pentingnya gizi seimbang, imunisasi lengkap, serta pendampingan perkembangan anak. Lomba tahun ini mempertandingkan kategori usia 6–24 bulan dan 2–5 tahun, dengan para pemenang akan mewakili Kabupaten OKU Timur pada ajang tingkat Provinsi Sumatera Selatan.
Hingga kini, belum semua keluarga memiliki tingkat pemahaman yang sama mengenai pentingnya mengenali potensi anak sejak dini. Apakah berbagai upaya edukasi yang terus dilakukan mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat dan benar-benar melahirkan generasi yang sehat sekaligus berkembang sesuai bakatnya, masih menjadi pertanyaan yang akan dijawab oleh waktu. (Agus)

















