Beranda Nusantara Anak Korban Begal Masih Jalani Operasi, Keamanan Bandung Kembali Dipertanyakan

Anak Korban Begal Masih Jalani Operasi, Keamanan Bandung Kembali Dipertanyakan

9
0
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan memberikan keterangan kepada awak media usai apel di Plaza Balai Kota Bandung terkait penanganan anak korban begal. (Foto: Siti/CimutNews).

BANDUNG, cimutnews.co.id — Kasus begal yang menimpa seorang anak di kawasan Arcamanik, Kota Bandung, pada 4 Juli 2026 masih menyisakan perhatian publik. Di tengah proses penyembuhan korban yang belum selesai, muncul pertanyaan yang lebih besar: sejauh mana rasa aman masyarakat benar-benar dapat dijamin di ruang publik?

Korban hingga kini masih menjalani operasi lanjutan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung akibat luka berat yang dideritanya. Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memastikan terus mengawal proses pemulihan sekaligus berkoordinasi dengan aparat kepolisian untuk mengusut pelaku.

Namun, kasus tersebut kembali mengingatkan bahwa persoalan kriminalitas jalanan bukan hanya soal penindakan setelah kejadian, melainkan juga efektivitas upaya pencegahan sebelum korban berjatuhan.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyampaikan hal tersebut usai memimpin apel di Plaza Balai Kota Bandung, Senin (27/7/2026).

Menurut Farhan, proses penyelidikan kini sepenuhnya ditangani Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Bandung, khususnya tim Resmob.

“Pendalaman kasus sudah diambil alih langsung oleh Satreskrim Polrestabes Bandung, khususnya Resmob. Kami menunggu perkembangan penyelidikannya,” ujar Farhan.

Ia memastikan pemerintah daerah terus memantau perkembangan penyidikan melalui koordinasi dengan aparat penegak hukum.

Selain itu, Farhan mengaku telah berkomunikasi langsung dengan pihak direksi RSHS untuk memastikan korban memperoleh penanganan medis terbaik.

Saat ini korban memasuki tahap operasi lanjutan setelah sebelumnya menjalani tindakan operasi pertama. Di sisi lain, keluarga korban yang berasal dari luar Kota Bandung juga masih mendampingi proses perawatan di Bandung.

Menurut Farhan, berbagai bantuan dari masyarakat turut membantu proses pemulihan korban.

“Kami memastikan penanganan korban berjalan baik sehingga memberikan manfaat maksimal bagi proses pemulihannya,” katanya.

Namun Fakta di Lapangan Menunjukkan…

Kasus begal yang menimpa anak tersebut bukan sekadar menjadi perhatian karena korbannya masih berusia muda. Peristiwa ini kembali memunculkan kekhawatiran masyarakat mengenai keamanan di sejumlah ruas jalan, khususnya pada jam-jam rawan.

Baca juga  Sekda Herman Suryatman Sambut Baik Mekanisme Baru Penyaluran Tunjangan Profesi Guru ASN Daerah

Sejumlah warga mengaku kasus kriminal jalanan masih menjadi kekhawatiran ketika harus beraktivitas pada malam maupun dini hari.

Berdasarkan temuan di lapangan dalam berbagai pemberitaan kriminal beberapa waktu terakhir, aksi pencurian dengan kekerasan masih menjadi salah satu tindak pidana yang membutuhkan penanganan cepat sekaligus langkah pencegahan yang berkelanjutan.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah sistem pencegahan yang selama ini berjalan sudah mampu mengurangi peluang terjadinya aksi kriminal serupa?

Siskamling Kembali Didorong

Menanggapi kondisi tersebut, Farhan kembali mengajak masyarakat menghidupkan Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling).

Menurutnya, keberadaan siskamling bukan berarti pemerintah menyerahkan tanggung jawab keamanan kepada warga, melainkan memperkuat kolaborasi antara masyarakat, Linmas, kepolisian, TNI, kelurahan hingga pengurus RW.

“Siskamling jangan pernah lengah. Ini bukan pemerintah melepas tanggung jawab, tetapi mengajak masyarakat bersama-sama menjaga lingkungan. Tujuan utamanya adalah deteksi dini dan pencegahan dini,” ujarnya.

Ia juga mengimbau agar setiap keluarga meningkatkan komunikasi ketika anggota keluarga berada di luar rumah, terutama pada malam hari.

Selain itu, masyarakat diminta memanfaatkan layanan darurat apabila menghadapi situasi berbahaya.

Pemerintah mengingatkan nomor 110 untuk kepolisian, 112 layanan darurat, 113 pemadam kebakaran, serta 119 layanan ambulans tetap disiagakan dengan target respons cepat.

Dukung Hadiah Informasi Pelaku, Tapi Tolak Main Hakim Sendiri

Farhan turut mendukung kebijakan Gubernur Jawa Barat yang menawarkan hadiah bagi masyarakat yang memberikan informasi mengenai pelaku begal.

Meski demikian, ia mengingatkan agar masyarakat tidak melakukan tindakan main hakim sendiri ketika menemukan ataupun menangkap pelaku kejahatan.

“Saya ikut kebijakan Gubernur. Tapi pesan saya jelas, jangan main hakim sendiri. Jangan dipukuli apalagi sampai dibunuh. Serahkan semuanya kepada aparat penegak hukum,” tegasnya.

Baca juga  Walikota Blitar Santoso Resmi Meluncurkan Gedung Mall Pelayanan Publik (MPP) Pemerintah Kota Blitar

Patroli Malam Temukan Pemuda Mabuk

Dalam kesempatan yang sama, Farhan mengungkapkan hasil patroli malam di kawasan Braga yang menemukan sekelompok pemuda dalam kondisi mabuk di sebuah pos kamling.

Temuan tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa persoalan minuman keras ilegal dan penyalahgunaan narkotika masih membutuhkan perhatian serius.

Ia mengatakan Pemkot Bandung telah berkoordinasi dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Bandung maupun BNN Provinsi Jawa Barat untuk memetakan wilayah yang dianggap rawan.

Menurut Farhan, aparat juga tengah mendalami berbagai modus baru peredaran narkoba, termasuk metode penyimpanan barang di lokasi tertentu tanpa transaksi tatap muka antara penjual dan pembeli.

Tantangan yang Belum Selesai

Kasus begal Arcamanik memperlihatkan bahwa penanganan korban berjalan beriringan dengan upaya penegakan hukum.

Namun di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan masyarakat yang masih berharap keamanan lingkungan dapat semakin meningkat melalui kombinasi patroli, pengawasan lingkungan, penegakan hukum, serta pencegahan terhadap peredaran minuman keras ilegal dan narkotika.

Hingga kini, belum semua pertanyaan mengenai bagaimana mencegah kasus serupa agar tidak kembali terjadi memperoleh jawaban yang tuntas.

Publik tentu menantikan hasil penyelidikan kepolisian sekaligus efektivitas berbagai langkah pencegahan yang kini kembali didorong pemerintah. Apakah kolaborasi antara aparat dan masyarakat mampu mempersempit ruang gerak pelaku kejahatan, atau masih ada pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan? (Siti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here