Beranda Nusantara Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 Angkat Sungai Cikapundung sebagai Ruang Budaya...

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 Angkat Sungai Cikapundung sebagai Ruang Budaya Warga

9
0
Kawasan Taman Caskade Tamansari menjadi salah satu ruang pelaksanaan Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 yang mengangkat hubungan masyarakat dengan lingkungan sungai. (Foto:Siti/cimutnews.co.id)

BANDUNGt, cimutnews.co.id – Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 akan digelar di Kawasan Taman Caskade Tamansari, Kota Bandung, Sabtu (15/8/2026). Kegiatan yang menjadi bagian dari Pekan Kebudayaan Daerah Kota Bandung ke-2 itu membawa pesan yang lebih luas dari sekadar pertunjukan seni: menghidupkan kembali hubungan masyarakat perkotaan dengan sungai.

Mengusung tema “Neuleuman Walungan”, festival tersebut mempertemukan seni, budaya Sunda, gerakan lingkungan, kreativitas warga, ketahanan pangan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat. Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menggandeng Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Tamansari dalam pelaksanaannya.

Festival Tamansari Tidak Sekadar Pertunjukan Seni

Rangkaian Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 dirancang untuk mengaktifkan ruang publik di sekitar Sungai Cikapundung. Konsep tersebut membuat kegiatan kebudayaan tidak ditempatkan semata-mata di atas panggung, tetapi menyatu dengan lingkungan tempat masyarakat beraktivitas.

Penggagas Pekan Kebudayaan Kota Bandung, Gabriel, mengatakan Popolah ke-2 membawa gagasan “Merawat Hubungan Manusia dan Sungai” melalui kegiatan kebudayaan dan lingkungan.

“Popolah kedua tidak hanya melakukan aktivasi di sungai. Ruang-ruang di sekitar Sungai Cikapundung ikut diaktifkan sebagai bagian dari satu kesatuan kawasan,” kata Gabriel, Selasa (11/8/2026).

Sejumlah titik akan menjadi bagian dari rangkaian kegiatan, antara lain kawasan bawah Flyover Pasupati, Taman Caskade, serta lapangan futsal.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa festival dirancang sebagai kegiatan berbasis kawasan. Seni menjadi pintu masuk, sementara lingkungan, ruang publik, dan partisipasi warga menjadi bagian dari pesan yang ingin dibangun.

Dari Kaulinan Sunda hingga Karnaval Sungai

Festival akan menghadirkan sejumlah aktivitas yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Program tersebut mencakup kaulinan tradisional Sunda, kukuyaan, aksi bersih-bersih Sungai Cikapundung, karnaval sungai, hingga pagelaran seni Sunda.

Baca juga  Berbagi Berkah Ramadhan, Satlantas Polres Blitar Bagikan Takjil kepada Pengguna Jalan

Ada pula lomba memasak dengan memanfaatkan hasil Buruan Sae. Kegiatan ini sekaligus memperkenalkan potensi pangan lokal yang tumbuh dan dikembangkan masyarakat.

Kehadiran UMKM dan Stand Carnaval juga menjadi bagian penting dari festival. Ruang tersebut dapat dimanfaatkan pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produk sekaligus memperluas interaksi dengan masyarakat dan pengunjung.

Dengan demikian, festival membawa sedikitnya tiga lapisan kegiatan: pelestarian budaya, kepedulian terhadap lingkungan, serta penguatan kreativitas dan ekonomi masyarakat.

Cikapundung Memiliki Persoalan yang Tidak Bisa Diabaikan

Pemilihan Sungai Cikapundung sebagai ruang utama kegiatan bukan tanpa alasan. Sungai ini memiliki posisi penting dalam lanskap Kota Bandung sekaligus menghadapi tekanan lingkungan.

Dokumen Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyebut Cikapundung sebagai salah satu sungai utama yang membelah Kota Bandung. Sungai tersebut mengalir melalui sejumlah kecamatan di Kota Bandung sebelum bermuara ke Sungai Citarum. Dokumen yang sama mencatat adanya tekanan terhadap kualitas air Cikapundung, dengan sejumlah parameter pencemar yang pernah melampaui baku mutu.

Kawasan Cikapundung juga memiliki fungsi strategis dalam tata ruang Kota Bandung. Peraturan daerah Kota Bandung menetapkan koridor Sungai Cikapundung dan kawasan sekitarnya sebagai kawasan strategis berdasarkan kepentingan daya dukung lingkungan hidup.

Artinya, agenda menjaga sungai bukan semata persoalan estetika kawasan. Kondisi sungai berkaitan dengan kualitas lingkungan, tata ruang, pengelolaan sampah, hingga ketahanan kawasan perkotaan menghadapi persoalan hidrologis.

Tamansari dan Tantangan Lingkungan Perkotaan

Persoalan lingkungan juga bukan isu yang sepenuhnya baru bagi Kelurahan Tamansari.

Pada Januari 2026, Pemerintah Kecamatan Bandung Wetan mencatat sejumlah masukan warga Tamansari dalam agenda kesiapsiagaan wilayah. Di antaranya kerusakan kirmir, drainase tersumbat, persoalan sampah, serta sejumlah persoalan infrastruktur lingkungan.

Pada Februari 2026, Kecamatan Bandung Wetan juga menggelar koordinasi terkait pengelolaan kebersihan lingkungan melalui GASLAH dan Kawasan Bebas Sampah. Kegiatan tersebut melibatkan unsur kecamatan, kelurahan, RW, KSM, dan pendamping kawasan.

Baca juga  Bupati Banyuasin Terima Penghargaan Bintang Wira Karya Bidang Pertanian dari Presiden RI

Fakta tersebut memberikan konteks penting terhadap Festival Tamansari. Ketika kebudayaan dipertemukan dengan isu sungai, pesan yang dibangun menjadi lebih konkret karena berangkat dari persoalan yang memang dihadapi masyarakat.

Analisis: Ketika Sungai Dijadikan Ruang Kebudayaan

Festival semacam ini memiliki peluang untuk mengubah cara masyarakat memandang sungai. Sungai yang selama ini sering dilihat hanya sebagai saluran air dapat ditempatkan kembali sebagai bagian dari identitas kawasan dan ruang interaksi sosial.

Pendekatan tersebut penting karena persoalan sungai tidak selesai hanya dengan kegiatan pembersihan sesaat. Pengalaman di sejumlah titik Cikapundung menunjukkan bahwa perubahan kondisi sungai membutuhkan keterlibatan masyarakat secara terus-menerus. Program lingkungan akan lebih kuat apabila kebiasaan warga ikut berubah dan ruang sungai dipelihara setelah kegiatan seremonial selesai.

Pemerintah dan komunitas karena itu memiliki tantangan untuk memastikan pesan “Neuleuman Walungan” tidak berhenti pada agenda festival. Keberhasilan sesungguhnya justru dapat dilihat dari apakah kegiatan tersebut mampu melahirkan kebiasaan baru: mengurangi sampah, menjaga sempadan, merawat ruang publik, dan menjadikan sungai sebagai bagian dari kehidupan warga.

Di sisi lain, keterlibatan UMKM, pangan lokal, seni tradisional, dan permainan rakyat memperlihatkan bahwa isu lingkungan dapat dikemas tanpa meninggalkan karakter sosial masyarakat. Pendekatan seperti ini berpotensi membuat agenda pelestarian lingkungan lebih mudah diterima karena tidak hadir sebagai kampanye yang berdiri sendiri. (Siti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here