Beranda Pagar Alam Bendera Merah Putih 2.026 Meter Akan Dibentangkan di Puncak Gunung Dempo, Pagar...

Bendera Merah Putih 2.026 Meter Akan Dibentangkan di Puncak Gunung Dempo, Pagar Alam Matangkan Aspek Keselamatan

13
0
Wakil Wali Kota Pagar Alam Hj. Bertha memimpin rapat teknis persiapan pembentangan Bendera Merah Putih sepanjang 2.026 meter di Gunung Dempo, Rabu (12/8/2026). (Foto: Hafis/CimutNews)

PAGAR ALAM, CimutNews.co.id — Pemerintah Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan, mematangkan persiapan pembentangan Bendera Merah Putih sepanjang 2.026 meter di kawasan Puncak Gunung Dempo pada 17 Agustus 2026. Aksi tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus diarahkan untuk memperkuat promosi wisata Gunung Dempo.

Persiapan teknis dibahas dalam rapat yang dipimpin Wakil Wali Kota Pagar Alam Hj. Bertha di Rumah Dinas Wakil Wali Kota, Rabu (12/8/2026). Pertemuan tersebut melibatkan unsur pemerintah daerah, aparat keamanan, tim penyelamatan, relawan, serta tim teknis pembentangan bendera.

Wakil Wali Kota menekankan bahwa ukuran bendera yang mencapai 2.026 meter atau sekitar 2,026 kilometer membuat kegiatan tersebut tidak bisa diperlakukan sebagai seremoni biasa. Medan pegunungan, perubahan cuaca, kondisi fisik peserta, distribusi perlengkapan, hingga koordinasi antartim menjadi bagian yang harus dipastikan sebelum kegiatan berlangsung.

“Pembentangan bendera sepanjang lebih dari dua kilometer di puncak Gunung Dempo ini bukan hal yang mudah. Medan ekstrem dan cuaca yang cepat berubah menjadi tantangan utama. Oleh karena itu, sinergi antara tim teknis Bentang Merah Putih, Pemkot, TNI/Polri, serta para relawan pendakian harus benar-benar presisi,” ujar Hj. Bertha.

Gunung Dempo Bukan Sekadar Lokasi Seremoni

Gunung Dempo memiliki posisi penting dalam identitas wisata Pagar Alam. Pemerintah Kota Pagar Alam menyebut Gunung Dempo sebagai gunung tertinggi di wilayah Sumatera Selatan, dengan ketinggian sekitar 3.173 meter di atas permukaan laut.

Kawasan ini juga menjadi salah satu daya tarik utama pariwisata Pagar Alam. Pemerintah daerah menempatkan panorama Gunung Dempo, hamparan perkebunan teh, air terjun, serta peninggalan megalitik Besemah sebagai bagian dari kekuatan destinasi wisata kota tersebut.

Karena itu, rencana pembentangan Merah Putih memiliki dua dimensi sekaligus. Di satu sisi, kegiatan tersebut merupakan ekspresi nasionalisme dalam momentum kemerdekaan. Di sisi lain, keberhasilan pelaksanaannya dapat menjadi materi promosi destinasi wisata berbasis alam dan aktivitas luar ruang di Pagar Alam.

Baca juga  Terungkap, 64 Pramuka Pagar Alam Siap Berangkat ke Jambore, Tapi Pembinaan Berkelanjutan Belum Banyak Dibahas

Namun, promosi wisata di kawasan pegunungan harus berjalan beriringan dengan prinsip keselamatan. Besarnya skala kegiatan justru membuat aspek mitigasi risiko menjadi lebih penting dibanding sekadar keberhasilan seremoni.

Keselamatan Pendaki Menjadi Titik Krusial

Rapat teknis tersebut dihadiri Polres Pagar Alam, Kodim 0405 Lahat, sejumlah organisasi perangkat daerah, Basarnas, Tagana, Tim Bentang Sidoarjo, Tim Brigade, serta relawan pembentang dari Pagar Alam.

Keterlibatan berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa kegiatan membutuhkan pola komando dan komunikasi lintas lembaga. Pembagian sektor, jalur evakuasi, kesiapan pertolongan pertama, pengaturan logistik, komunikasi lapangan, serta antisipasi perubahan kondisi cuaca menjadi faktor yang menentukan.

Gunung Dempo juga merupakan gunung api aktif sehingga aspek vulkanologi tidak dapat dilepaskan dari pengelolaan kegiatan di kawasan tersebut. Dalam laporan aktivitas yang diterbitkan sebelumnya, Badan Geologi melalui PVMBG mencatat Gunung Dempo pada Level II atau Waspada dan memberikan rekomendasi terkait radius kawasan kawah. Data tersebut merupakan laporan periode 2024, sehingga kondisi dan rekomendasi pada hari pelaksanaan harus merujuk pada informasi resmi PVMBG terbaru, bukan menggunakan status lama sebagai dasar keputusan.

Dengan demikian, keputusan akhir mengenai lokasi, akses, jumlah peserta, maupun batas aktivitas harus mengikuti hasil pemantauan kondisi gunung api, cuaca, serta evaluasi keselamatan dari instansi berwenang.

Skala 2.026 Meter Membawa Tantangan Logistik

Panjang bendera yang mencapai 2.026 meter juga membawa persoalan teknis tersendiri. Material harus dipindahkan ke kawasan dengan medan yang tidak mudah, kemudian dibentangkan secara terkoordinasi agar tidak menimbulkan risiko terhadap peserta maupun lingkungan sekitar.

Semakin panjang bentangan, semakin besar kebutuhan terhadap pembagian personel dan pengaturan titik-titik pengendalian. Karena itu, keberhasilan kegiatan bukan hanya diukur dari apakah bendera berhasil dibentangkan, tetapi juga apakah seluruh proses berlangsung tertib, aman, dan sesuai prosedur.

Hal tersebut sejalan dengan prinsip pengelolaan kegiatan di kawasan wisata alam yang menempatkan keselamatan pengunjung sebagai bagian dari kualitas destinasi. Pengalaman wisata yang baik tidak hanya ditentukan oleh daya tarik visual, tetapi juga oleh akses, pengamanan, informasi, dan kemampuan pengelola menghadapi kondisi darurat.

Baca juga  Pemkot Pagar Alam Matangkan Persiapan Sambut Kunjungan Sekjen Kemenhan RI

Momentum Kemerdekaan Sekaligus Promosi Wisata

Pemerintah Kota Pagar Alam berharap kegiatan tersebut dapat membangkitkan semangat patriotisme masyarakat sekaligus memperkenalkan Gunung Dempo kepada khalayak lebih luas.

Pemerintah daerah sendiri menempatkan Gunung Dempo sebagai salah satu ikon wisata Pagar Alam. Situs resmi Dinas Pariwisata Pagar Alam mencatat bahwa kota tersebut memiliki sejumlah daya tarik wisata alam, mulai dari Gunung Dempo dan perkebunan teh hingga air terjun dan kawasan bersejarah megalitik Besemah.

Dari sisi ekonomi daerah, penguatan promosi wisata dapat membuka ruang bagi aktivitas masyarakat yang terkait dengan sektor pariwisata, seperti transportasi lokal, penginapan, kuliner, jasa pemandu, hingga produk UMKM.

Namun, efek ekonomi tersebut tidak otomatis muncul hanya karena sebuah kegiatan menjadi viral. Dampak yang lebih berkelanjutan membutuhkan pengelolaan destinasi, akses yang memadai, kebersihan kawasan, pelayanan wisata, serta promosi yang konsisten setelah kegiatan selesai.

Menunggu Pembuktian Rekor MURI

Pemkot Pagar Alam juga menargetkan aksi pembentangan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya pencapaian rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori pembentangan bendera Merah Putih terpanjang di puncak gunung.

Target tersebut menjadi salah satu alasan kegiatan dipersiapkan dengan skala besar. Meski demikian, status rekor tetap harus dibedakan dari target penyelenggara. Pengakuan rekor merupakan kewenangan lembaga pencatat rekor setelah proses pengukuran dan verifikasi sesuai ketentuan yang berlaku.

Karena itu, keberhasilan kegiatan pada 17 Agustus nantinya tidak hanya ditentukan oleh panjang bendera, tetapi juga dokumentasi, pengukuran, bukti pelaksanaan, dan pemenuhan persyaratan yang ditetapkan lembaga pencatat rekor.

  Merah Putih di Ruang Publik

Pembentangan Merah Putih di Gunung Dempo juga berada dalam konteks lebih luas peringatan kemerdekaan Indonesia. Perayaan HUT RI tidak semata menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi menjadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat kebangsaan di ruang publik.

Baca juga  Terungkap di Balik Meriahnya Festival Lagu Daerah, Pelestarian Budaya Besemah Belum Sepenuhnya Terjawab

Pemilihan Gunung Dempo sebagai lokasi memberikan karakter berbeda. Jika peringatan kemerdekaan umumnya berpusat di lapangan atau pusat pemerintahan, kegiatan ini membawa simbol nasionalisme ke kawasan pegunungan dan ruang wisata alam.

Bagi Pagar Alam, pendekatan tersebut berpotensi mempertemukan tiga kepentingan: pendidikan kebangsaan, penguatan identitas daerah, dan promosi pariwisata. Tantangannya adalah memastikan ketiganya berjalan tanpa mengorbankan keselamatan dan kelestarian lingkungan.

Nilai Strategis di Balik Bentangan 2.026 Meter

Secara jangka pendek, kegiatan ini berpotensi meningkatkan perhatian publik terhadap Pagar Alam menjelang dan saat peringatan HUT ke-81 RI. Visual bendera sepanjang 2.026 meter di kawasan Gunung Dempo juga memiliki karakter yang kuat untuk distribusi melalui media digital dan jejaring sosial.

Dalam jangka menengah, momentum tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan Pagar Alam sebagai destinasi wisata alam dan pegunungan. Pemerintah daerah memiliki modal berupa Gunung Dempo, perkebunan teh, air terjun, serta warisan budaya Besemah yang dapat dikembangkan sebagai satu ekosistem destinasi.

Namun, skala kegiatan juga meningkatkan potensi risiko. Penambahan mobilitas manusia di kawasan pegunungan dapat memperbesar kebutuhan terhadap pengawasan jalur, pengelolaan sampah, layanan kesehatan, komunikasi darurat, dan kesiapan evakuasi. Karena itu, pengendalian jumlah peserta dan akses kawasan menjadi bagian penting dari perencanaan.

Dalam perspektif pembangunan daerah, kegiatan semacam ini akan memberikan manfaat lebih besar apabila tidak berhenti pada momentum 17 Agustus. Dokumentasi dan eksposur yang diperoleh dapat diteruskan menjadi promosi destinasi, penguatan ekonomi kreatif, serta pengembangan paket wisata yang tetap memperhatikan daya dukung lingkungan dan keselamatan pengunjung (Hafis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here