
KOTA PALEMBANG, cimutnews.co.id – Wali Kota Palembang Ratu Dewa menekankan pentingnya kemampuan komunikasi yang efektif dan kepemimpinan yang berintegritas kepada mahasiswa baru Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang. Pesan itu disampaikan dalam Kuliah Iftitah Mahasiswa Baru di Gedung Academic Center UIN Raden Fatah Kampus Sudirman, Rabu (9/9/2026).
Mengusung tema “Komunikasi, Kepemimpinan dan Peran Generasi Muda dalam Membangun Palembang yang Inklusif, Berdaya Saing dan Berkemajuan”, forum tersebut menempatkan mahasiswa bukan sekadar sebagai penerima pengetahuan, tetapi sebagai bagian dari ekosistem pembangunan kota.
Komunikasi Dinilai Menjadi Fondasi Kepemimpinan
Dalam paparannya, Ratu Dewa mengingatkan bahwa kepemimpinan tidak cukup dibangun melalui kewenangan atau jabatan. Seorang pemimpin harus mampu menyampaikan gagasan secara tepat agar pesan yang dibawa dapat dipahami dan diterima masyarakat.
Menurut Ratu Dewa, prinsip tersebut juga berlaku bagi seorang komunikator, termasuk mereka yang bergerak dalam bidang dakwah. Pesan yang disampaikan harus memiliki dasar yang jelas, tidak menyesatkan, dan sesuai dengan sasaran komunikasi.
“Berkata harus tepat, jujur, akurat serta tepat sasaran,” ujar Ratu Dewa.
Pesan tersebut menjadi relevan bagi mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi karena kemampuan menyampaikan informasi pada era digital tidak lagi hanya menentukan apakah sebuah pesan didengar, tetapi juga bagaimana publik memahami dan meresponsnya.
Tantangan Komunikasi di Era Digital
Perubahan pola konsumsi informasi membuat kemampuan memilah dan menyampaikan informasi menjadi semakin penting. Pesan yang tidak akurat dapat dengan cepat berkembang menjadi kesalahpahaman, sementara komunikasi yang berbasis fakta dapat membantu membangun kepercayaan publik.
Dalam konteks pemerintahan, komunikasi juga menjadi bagian dari proses membangun hubungan antara pemerintah dan masyarakat. Karena itu, kualitas komunikasi tidak dapat dipisahkan dari kualitas pelayanan publik dan partisipasi warga.
Generasi Muda Didorong Terlibat dalam Pembangunan Kota
Ratu Dewa kemudian mengajak mahasiswa melihat pembangunan Palembang dalam perspektif yang lebih luas. Generasi muda, menurut dia, memiliki posisi strategis untuk ikut mendorong kota agar berkembang secara inklusif, berdaya saing, sekaligus berkelanjutan.
Ia menegaskan bahwa pembangunan berkelanjutan tidak dapat dipersempit hanya pada pembangunan fisik atau pertumbuhan ekonomi. Ada sejumlah sektor yang saling berkaitan dan menentukan kualitas kehidupan masyarakat.
“Substansi pembangunan berkelanjutan itu berbicara tentang ekonomi, pendidikan, kesehatan hingga lingkungan. Semua memiliki peran dan saling berkaitan dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan,” jelasnya.
Pembangunan Palembang Memerlukan Pendekatan Lintas Sektor
Arah tersebut sejalan dengan dokumen perencanaan Pemkot Palembang. Dalam RKPD Kota Palembang 2026, pembangunan diarahkan pada penguatan ekonomi masyarakat, pengurangan kemiskinan dan pemerataan kesejahteraan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penataan kota serta infrastruktur berkelanjutan, hingga penguatan tata kelola pemerintahan.
Artinya, gagasan pembangunan yang disampaikan Ratu Dewa kepada mahasiswa bukan berdiri sendiri. Tantangan kota memang membutuhkan keterhubungan antara pendidikan, ekonomi, kesehatan, lingkungan, infrastruktur dan tata kelola pemerintahan.
Data BPS juga menunjukkan skala ekonomi Palembang yang besar. Perekonomian Kota Palembang pada 2025 berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp226,47 triliun, dengan PDRB per kapita Rp130,92 juta.
Angka tersebut sekaligus menunjukkan mengapa peningkatan daya saing kota perlu berjalan beriringan dengan pemerataan manfaat pembangunan. Pertumbuhan ekonomi akan memiliki arti lebih besar apabila mampu diterjemahkan menjadi peningkatan kesempatan pendidikan, kualitas kesehatan, pekerjaan, lingkungan yang layak, dan layanan publik.
Kolaborasi Kampus dan Pemerintah Jadi Agenda Lanjutan
Ratu Dewa berharap Kuliah Iftitah tersebut menjadi titik awal penguatan hubungan antara UIN Raden Fatah, khususnya Fakultas Dakwah dan Komunikasi, dengan Pemerintah Kota Palembang.
“Semoga ini menjadi awal dan penguatan kolaborasi, sinergi serta kerja sama antara institusi UIN Raden Fatah, khususnya Fakultas Dakwah dan Komunikasi, dengan Pemerintah Kota Palembang,” tuturnya.
Harapan itu memiliki konteks yang lebih luas. Pemkot Palembang sebelumnya juga menekankan bahwa pembangunan kota perlu melibatkan masyarakat dan tidak hanya berorientasi pada pemerintah. Dalam pembahasan kota inklusif pada Mei 2026, pemerintah daerah menyebut pendekatan pembangunan perlu dilakukan secara kolaboratif dan partisipatif.
Kampus Tidak Hanya Menjadi Ruang Akademik
Kolaborasi pemerintah dan kampus dapat memberi keuntungan dua arah. Pemerintah memperoleh akses terhadap gagasan, riset dan sumber daya manusia muda, sementara mahasiswa mendapatkan ruang untuk memahami persoalan kota secara langsung dan menguji pengetahuan akademik melalui persoalan nyata.
Dalam jangka pendek, komunikasi yang lebih kuat antara pemerintah dan lingkungan akademik dapat membuka peluang diskusi kebijakan, kegiatan pengabdian masyarakat hingga riset yang berkaitan dengan kebutuhan warga. Dalam jangka panjang, hubungan tersebut dapat membantu membentuk generasi muda yang memahami bahwa pembangunan daerah bukan hanya urusan birokrasi.
pesan Ratu Dewa tentang komunikasi sebenarnya menyentuh persoalan yang lebih besar dari sekadar kemampuan berbicara. Dalam pembangunan kota, komunikasi menentukan apakah kebijakan dapat dipahami, apakah masyarakat merasa dilibatkan, dan apakah program pemerintah memperoleh kepercayaan publik.
Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya menjadi pengguna informasi. Mereka juga perlu menjadi komunikator yang mampu menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat secara akurat, jujur dan bertanggung jawab.
Pembangunan Berkelanjutan Membutuhkan Generasi yang Terlibat
Palembang sendiri telah menempatkan prinsip keberlanjutan dalam kerangka pembangunan daerah. Dokumen RPJMD 2025–2029 menyebut arah pembangunan kota ditujukan untuk menghasilkan Palembang yang berdaya saing, inklusif, maju dan berkelanjutan.
Di sisi lingkungan, misalnya, Pemkot Palembang pada Mei 2026 melaporkan progres proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) mencapai 85 persen dan menargetkan penyelesaian pada Oktober 2026
Contoh tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan berkelanjutan membutuhkan kebijakan konkret sekaligus dukungan masyarakat. Pendidikan dan komunikasi publik menjadi penting agar kebijakan tidak berhenti pada perencanaan, tetapi dipahami dan mendapat partisipasi warga.
Pada akhirnya, Kuliah Iftitah di UIN Raden Fatah menjadi lebih dari sekadar agenda penyambutan mahasiswa baru. Forum tersebut mempertemukan dunia pendidikan, komunikasi dan pemerintahan dalam satu pembahasan mengenai masa depan kota.
Tantangan berikutnya adalah bagaimana gagasan tersebut diterjemahkan menjadi kolaborasi nyata. Jika mahasiswa, perguruan tinggi dan pemerintah mampu membangun komunikasi yang terbuka dan berbasis data, generasi muda dapat mengambil peran lebih besar dalam memastikan pembangunan Palembang tidak hanya tumbuh, tetapi juga inklusif dan berkelanjutan. (Poerba)

















