Beranda Nusantara Bandara Husein Dibuka Lagi, Penumpang Masih Dihantui Ketidakpastian

Bandara Husein Dibuka Lagi, Penumpang Masih Dihantui Ketidakpastian

20
0
Suasana area keberangkatan Bandara Husein Sastranegara yang kembali melayani penumpang setelah terdampak penutupan akibat abu vulkanis.(Siti/cimutnews)

BANDUNG, cimutnews.co.id — Bandara Internasional Husein Sastranegara Bandung kembali beroperasi setelah sempat ditutup selama dua hari akibat abu vulkanis.

Pembukaan kembali ini membawa kelegaan bagi calon penumpang. Namun, pengalaman sejumlah penumpang menunjukkan bahwa persoalan perjalanan belum otomatis selesai hanya karena bandara kembali dibuka.

Lantas, apakah pembukaan kembali Husein benar-benar berarti penerbangan sudah kembali normal?

Bandara Husein Kembali Dibuka

Pemerintah Kota Bandung menyambut kembali beroperasinya Bandara Internasional Husein Sastranegara setelah layanan penerbangan terdampak sebaran abu vulkanis.

Kembalinya aktivitas penerbangan menjadi kabar penting bagi masyarakat Bandung dan daerah sekitarnya yang selama ini mengandalkan transportasi udara untuk perjalanan antarkota maupun antardaerah.

Bandara yang lokasinya relatif dekat dengan pusat Kota Bandung juga memiliki nilai strategis bagi mobilitas masyarakat.

Karena itu, penutupan selama dua hari tidak sekadar berdampak pada jadwal penerbangan, tetapi juga memaksa sebagian penumpang mengubah rencana perjalanan mereka.

Penumpang Lega, Tetapi Informasi Sempat Jadi Masalah

Salah seorang calon penumpang, Heru (30), warga Bandung, mengaku lega setelah mendapat informasi bahwa Bandara Husein kembali dibuka.

Heru sebelumnya dijadwalkan terbang menuju Medan pada 6 September 2026. Namun, penerbangannya terdampak penutupan bandara akibat abu vulkanis.

Menurutnya, kondisi tersebut memang berada di luar kendali penumpang.

“Ini kan force majeure, kita enggak bisa melihat situasi. Alhamdulillah kita dapat kabar bahwa sekarang sudah bisa dibuka,” kata Heru saat ditemui di Bandara Internasional Husein Sastranegara Bandung, 8 September 2026.

Namun, ada persoalan lain yang ikut muncul: bagaimana penumpang memperoleh informasi ketika jadwal penerbangan berubah?

Heru mengaku memesan tiket melalui aplikasi Traveloka, bukan secara langsung melalui maskapai Citilink. Kondisi itu membuatnya sempat kesulitan mendapatkan informasi terbaru mengenai penerbangannya.

Baca juga  Terungkap! Festival Film Bandung Angkat Tema Keluarga, Namun Tantangan Industri Film Masih Menjadi Pertanyaan

Di sinilah persoalan layanan penerbangan tidak berhenti pada soal apakah landasan bandara sudah kembali dibuka.

Bagi penumpang, kepastian jadwal dan akses terhadap informasi sama pentingnya.

Dibuka Bukan Berarti Langsung Tanpa Kendala

Pengalaman berbeda dialami Muhammad Sofwan (41), warga asal Pekanbaru, Riau.

Sofwan seharusnya terbang menggunakan Citilink menuju Denpasar pada 6 September 2026. Namun, penerbangannya dibatalkan setelah operasional bandara terdampak abu vulkanis.

Ia kemudian memilih melakukan pengembalian dana tiket dan membeli tiket baru untuk penerbangan berikutnya menuju Denpasar yang dijadwalkan pada 9 September 2026.

“Sudah pakai Citilink juga ke Denpasar, tapi dibatalkan. Jadi tiketnya di-refund, terus pesan tiket lagi hari Rabu,” ungkap Sofwan.

Informasi mengenai perkembangan penerbangannya diperoleh dari beberapa sumber, termasuk pemberitahuan melalui surat elektronik dari Citilink.

Namun, kepastian itu ternyata belum sepenuhnya membuat penumpang tenang.

Penerbangan berikutnya yang semula berstatus sesuai jadwal kemudian mengalami penundaan.

Fakta di Lapangan: Penumpang Masih Menunggu Kepastian

Namun fakta di lapangan menunjukkan, pembukaan kembali bandara tidak serta-merta menghapus kekhawatiran penumpang.

Sofwan mengaku masih waswas terhadap kemungkinan perubahan jadwal.

“Kalau waswas ada, ya. Tapi kalau melihat berita kan sudah ada informasi jelas dari Kemenhub bahwa per hari ini sudah dibuka kembali, ada tujuh bandara,” katanya.

Situasi tersebut memperlihatkan satu hal penting.

Pemulihan operasional bandara dan pemulihan kepastian perjalanan penumpang merupakan dua persoalan yang tidak selalu berjalan bersamaan.

Bandara bisa kembali beroperasi, tetapi penumpang tetap membutuhkan informasi yang cepat, konsisten, dan mudah diakses ketika terjadi perubahan jadwal.

Terlebih bagi mereka yang membeli tiket melalui platform perjalanan pihak ketiga, jalur komunikasi dapat terasa lebih panjang ketika kondisi penerbangan berubah secara mendadak.

Baca juga  Shalat Idul Fitri 1445 H di Komplek Margahayu Permai Bandung Berlangsung dengan khidmat

Harapan Penumpang Lebih Besar dari Sekadar Dibuka

Bagi Heru, kembali beroperasinya Bandara Husein bukan hanya soal bisa terbang lagi.

Ia berharap pembukaan tersebut menjadi momentum untuk memperluas konektivitas penerbangan dari Bandung.

“Ya, mudah-mudahan tetap flight-nya makin bertambah karena lumayan dekat juga. Senang juga sekarang Husein sudah dibuka lagi,” ucapnya.

Harapan serupa sebenarnya menyentuh persoalan yang lebih besar: seberapa kuat konektivitas udara Bandung ke depan?

Jika operasional kembali berjalan normal, masyarakat tentu berharap tidak hanya mendapatkan kepastian penerbangan, tetapi juga pilihan rute dan frekuensi yang lebih banyak.

Bandara yang berada dekat dengan kawasan perkotaan memiliki potensi memberikan alternatif perjalanan yang lebih praktis bagi masyarakat.

Sofwan sendiri tetap memilih pesawat karena perjalanan udara dianggap lebih praktis dibandingkan menggunakan transportasi darat menuju Bali.

Gangguan Abu Vulkanis Menguji Sistem Informasi

Peristiwa penutupan bandara akibat abu vulkanis juga menjadi pengingat bahwa sektor penerbangan sangat bergantung pada kondisi alam dan faktor keselamatan.

Dalam situasi seperti ini, keputusan menutup sementara operasional dapat menjadi bagian dari langkah keselamatan penerbangan.

Persoalannya kemudian bergeser kepada bagaimana informasi tersebut diteruskan kepada penumpang.

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan oleh penumpang yang harus melakukan refund, membeli tiket baru, menghadapi penundaan, hingga menunggu informasi terbaru dari berbagai kanal.

Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah sistem komunikasi kepada penumpang sudah cukup sederhana ketika terjadi gangguan penerbangan?

Belum ada penjelasan rinci mengenai sejauh mana evaluasi layanan informasi selama penutupan dan pembukaan kembali Bandara Husein dilakukan.

Bukan Sekadar Soal Landasan yang Kembali Aktif

Kembali beroperasinya Bandara Husein memang menjadi kabar positif.

Tetapi bagi penumpang, ukuran normal tidak hanya ditentukan oleh pesawat yang kembali terbang.

Baca juga  Becak Listrik Ciamis: 160 Unit Bantuan Presiden Prabowo Diserahkan kepada Pengemudi

Ada kepastian jadwal, kejelasan informasi, mekanisme refund atau perubahan tiket, serta konsistensi komunikasi ketika terjadi penundaan.

Pengalaman Heru dan Sofwan menunjukkan bahwa ketika terjadi gangguan, penumpang berada pada posisi yang sangat bergantung pada informasi dari maskapai, pengelola bandara, pemerintah, maupun platform tempat tiket dibeli.

Hingga kini, belum semua persoalan tersebut dapat dilihat hanya dari status “bandara sudah dibuka”.

Bagi masyarakat, pertanyaan berikutnya justru lebih sederhana: setelah kembali dibuka, apakah penerbangan dari Bandung benar-benar akan semakin mudah, semakin banyak, dan yang paling penting, semakin pasti? (Siti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here