Beranda Nusantara Terungkap! Festival Film Bandung Angkat Tema Keluarga, Namun Tantangan Industri Film Masih...

Terungkap! Festival Film Bandung Angkat Tema Keluarga, Namun Tantangan Industri Film Masih Menjadi Pertanyaan

11
0
Suasana pengumuman nominasi Festival Film Bandung ke-39 di Gulapadi, Bandung, yang mengusung tema Sinema Rona Keluarga. (Foto: Siti/CimutNews).

BANDUNG, cimutnews.co.id — Bandung kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu kota penting dalam perjalanan perfilman Indonesia. Festival Film Bandung (FFB) ke-39 resmi mengumumkan nominasi film dan narafilm terpuji dengan mengusung tema “Sinema Rona Keluarga”, Kamis (16/7/2026), di Gulapadi, Kota Bandung.

Tema tersebut tidak hanya menjadi identitas penyelenggaraan festival tahun ini, tetapi juga membawa pesan bahwa keluarga masih menjadi sumber inspirasi terbesar dalam berbagai karya sinema Indonesia.

Namun di balik semarak pengumuman nominasi, muncul pertanyaan yang menarik untuk dicermati. Apakah festival penghargaan seperti ini mampu memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan industri film nasional, atau justru masih sebatas ruang apresiasi bagi para pelaku perfilman?

Pemerintah Kota Bandung menyatakan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Festival Film Bandung sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem ekonomi kreatif sekaligus menjaga posisi Bandung sebagai kota kreatif dunia.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, Adi Junjunan Mustafa, mengatakan Bandung memiliki sejarah panjang dalam perkembangan perfilman Indonesia.

Menurutnya, Bandung dikenal sebagai tempat lahirnya film panjang pertama Indonesia, Lutung Kasarung, sekaligus telah menjadi bagian dari UNESCO Creative Cities Network, yang memperkuat identitas kota sebagai pusat kreativitas.

“Film menjadi muara berbagai cabang seni, mulai dari teater, sastra, musik hingga tari. Berbagai pesan kemanusiaan dan budaya dapat disampaikan melalui film karena film merupakan bahasa yang universal,” ujar Adi.

Ia berharap kreativitas para sineas terus berkembang sehingga Festival Film Bandung tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga mampu melahirkan karya-karya yang memberi kontribusi bagi perfilman Indonesia.

“Bandung harus terus mempertahankan kreativitasnya, termasuk dalam bidang perfilman. Forum Film Bandung melalui Festival Film Bandung ke-39 ini menjadi salah satu kontributor yang luar biasa bagi perkembangan perfilman nasional,” katanya.

Baca juga  Tim SAR Gabungan Berhasil Evakuasi Wanita Diduga Bunuh Diri di Jembatan Loji Pekalongan

Tema Keluarga Dinilai Paling Mewakili Wajah Film Indonesia

Ketua Regu Pengamatan Film Indonesia Forum Film Bandung, Rosyid E. Abby, menjelaskan tema Sinema Rona Keluarga dipilih setelah tim pengamat menelaah ratusan karya yang tayang sepanjang September 2025 hingga Juni 2026.

Menurutnya, hampir seluruh genre film Indonesia, mulai dari drama, komedi, aksi hingga horor, memiliki benang merah berupa cerita tentang hubungan keluarga.

“Film-film Indonesia banyak berbicara tentang hubungan ayah, ibu, dan anak, tentang kehilangan, harapan, konflik, hingga kehangatan keluarga. Sinema memberi warna bagi keluarga, dan keluarga juga memberi warna bagi sinema Indonesia. Itulah makna Sinema Rona Keluarga,” ungkap Rosyid.

Ratusan Karya Disaring Menuju Malam Puncak

Panitia Festival Film Bandung, Iwan Kusmawan, mengungkapkan proses penjurian tahun ini melibatkan pengamatan terhadap 344 karya audiovisual.

Jumlah tersebut terdiri dari:

  • 144 film Indonesia,
  • 151 film impor,
  • 26 serial televisi,
  • 23 serial web.

Pengumuman nominasi menjadi tahapan awal sebelum malam puncak Festival Film Bandung ke-39 yang dijadwalkan berlangsung pada 22 Agustus 2026.

“Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung. Mudah-mudahan ke depan dukungan Pemerintah Kota Bandung semakin besar sehingga Festival Film Bandung dapat berlangsung lebih meriah,” ujar Iwan.

Meski berbagai festival film terus bermunculan dan kualitas produksi nasional dinilai semakin meningkat, sejumlah pelaku industri kreatif menilai tantangan perfilman Indonesia belum sepenuhnya selesai.

Berdasarkan temuan di lapangan, akses distribusi film independen masih menjadi salah satu persoalan yang kerap disampaikan komunitas film di berbagai daerah. Tidak sedikit karya lokal yang kesulitan memperoleh ruang tayang luas, meski mendapatkan apresiasi di tingkat festival.

Di sisi lain, perkembangan platform digital memang membuka peluang baru bagi sineas muda. Namun persaingan dengan film internasional dan perubahan pola konsumsi masyarakat juga membuat industri film harus terus beradaptasi.

Baca juga  Polres Lampung Timur Resmi Gelar Operasi Keselamatan Krakatau 2026, Fokus Tekan Pelanggaran dan Kecelakaan Lalu Lintas

Hingga kini, belum semua kreator memiliki kesempatan yang sama untuk memperkenalkan karyanya kepada publik yang lebih luas.

Festival Dinilai Penting, Tetapi Ekosistem Tetap Menjadi Kunci

Sejumlah pegiat perfilman mengaku keberadaan festival tetap memiliki nilai strategis karena menjadi ruang apresiasi sekaligus mempertemukan pembuat film, kritikus, akademisi, dan penonton.

Namun mereka juga berharap perhatian terhadap perfilman tidak berhenti pada seremoni penghargaan semata. Dukungan terhadap pendidikan perfilman, ruang pemutaran alternatif, pendanaan produksi, hingga distribusi dinilai sama pentingnya untuk membangun industri yang berkelanjutan.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah apresiasi melalui festival akan diikuti dengan penguatan ekosistem perfilman secara menyeluruh sehingga mampu melahirkan lebih banyak karya berkualitas dari berbagai daerah di Indonesia?

Jawaban atas pertanyaan itu kemungkinan baru akan terlihat dalam beberapa tahun ke depan, seiring semakin besarnya dukungan pemerintah, industri, serta masyarakat terhadap dunia perfilman nasional.

Sementara itu, Festival Film Bandung ke-39 tetap menjadi salah satu panggung bergengsi yang dinantikan insan perfilman Indonesia menjelang malam puncak penghargaan pada 22 Agustus 2026. (Siti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here