Beranda Banyuasin Banyuasin Kembangkan Smart Greenhouse Melon, Tapi Keberlanjutannya Dipertanyakan

Banyuasin Kembangkan Smart Greenhouse Melon, Tapi Keberlanjutannya Dipertanyakan

29
0
Pemerintah Kabupaten Banyuasin bersama PT PLN (Persero) UIP Sumbagsel saat kegiatan serah terima Program Sinar Bohlam di Smart-Green House Melon Desa Tanjung Agung, Kecamatan Banyuasin III. (Foto: Noto/CimutNews)

BANYUASIN, cimutnews.co.id — Pengembangan pertanian berbasis teknologi mulai diarahkan Pemerintah Kabupaten Banyuasin ke tingkat desa. Salah satunya melalui Program Sinar Bohlam di Desa Tanjung Agung, Kecamatan Banyuasin III.

Program yang menggabungkan elektrifikasi, teknologi budidaya dan pemberdayaan masyarakat itu diharapkan mampu meningkatkan produktivitas hortikultura sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga.

Namun, di balik fasilitas Electrifying Smart-Greenhouse Melon yang disebut sebagai yang pertama di Sumatera Selatan, ada satu hal penting yang justru menarik perhatian: sejauh mana program tersebut mampu bertahan dan benar-benar menjadi sumber ekonomi masyarakat dalam jangka panjang?

Fasilitas Melon Berbasis Teknologi

Serah terima Program Sinar Bohlam atau Sinergi Kolaborasi Berbasis Agro-Holtikultura Unggul dan Mandiri Desa berlangsung di Pusat Budidaya Smart-Green House Melon Desa Tanjung Agung, Senin (24/8/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Sekretaris Daerah Banyuasin Erwin Ibrahim yang mewakili Bupati Banyuasin, bersama Senior Perizinan Pertahanan dan Komunikasi PT PLN (Persero) UIP Sumbagsel Henri Iriawan serta sejumlah pejabat pemerintah daerah dan pemerintahan desa.

Program ini merupakan bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT PLN (Persero) UIP Sumbagsel.

Konsepnya tidak sekadar membangun rumah tanam. Sistem tersebut memadukan elektrifikasi, pengairan dan teknologi budidaya dengan harapan produksi melon dapat dilakukan secara lebih terukur.

Pemerintah daerah kemudian melihat fasilitas ini sebagai pintu masuk untuk mengembangkan komoditas hortikultura lain.

Pemkab Banyuasin Ingin Program Tak Berhenti di Melon

Sekda Banyuasin Erwin Ibrahim mengapresiasi kontribusi PLN sekaligus meminta agar fasilitas yang sudah dibangun tidak berhenti sebagai proyek satu kali.

Ia berharap pengembangan kawasan dilakukan secara berkelanjutan dan tidak hanya berfokus pada tanaman melon.

Menurutnya, potensi hortikultura lain dapat dikembangkan sehingga kawasan tersebut nantinya tidak hanya menjadi lokasi produksi, tetapi juga tempat edukasi dan wisata pertanian.

Baca juga  Terungkap! Pegawai Hanya Absen Lalu Pergi, Pengawasan ASN Banyuasin Kini Diperketat

Pernyataan tersebut sekaligus memperlihatkan target yang lebih besar dari sekadar keberadaan sebuah greenhouse.

Ada harapan agar fasilitas tersebut berkembang menjadi ekosistem ekonomi baru di tingkat desa.

Namun Fakta di Lapangan Menunjukkan Tantangannya Tidak Sedikit

Namun fakta di lapangan menunjukkan, membangun fasilitas pertanian berbasis teknologi bukanlah akhir dari persoalan.

Greenhouse membutuhkan pengelolaan, keterampilan sumber daya manusia, perawatan peralatan, biaya operasional serta kepastian pasar agar dapat berjalan secara berkelanjutan.

Di sinilah keberhasilan Program Sinar Bohlam akan diuji.

Apakah masyarakat desa sudah memiliki kemampuan teknis yang cukup untuk mengelola fasilitas tersebut secara mandiri?

Bagaimana pola pemasaran hasil panen nantinya?

Dan siapa yang akan memastikan fasilitas tetap berfungsi ketika dukungan program awal telah selesai?

Bahan informasi yang tersedia belum memberikan penjelasan rinci mengenai mekanisme pengelolaan jangka panjang, target produksi, kapasitas pemasaran maupun skema pembiayaan operasional setelah program berjalan.

Hal ini menimbulkan pertanyaan penting karena keberadaan teknologi pertanian saja belum otomatis menjamin peningkatan pendapatan petani.

Bukan Sekadar Membangun Greenhouse

Di sisi lain, konsep yang ditawarkan Program Sinar Bohlam memiliki peluang cukup besar jika benar-benar dikelola secara konsisten.

Smart greenhouse dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan pola budidaya yang lebih modern kepada masyarakat desa.

Selain menghasilkan komoditas, fasilitas tersebut juga berpotensi menjadi tempat pembelajaran bagi petani, pelajar maupun masyarakat yang ingin mengenal teknologi pertanian.

Jika pengembangannya berhasil, kawasan itu dapat menciptakan rantai ekonomi baru mulai dari produksi, pengemasan, pemasaran hingga wisata edukasi.

Tetapi peluang tersebut masih membutuhkan pembuktian.

Hingga kini, belum semua pertanyaan mengenai keberlanjutan program tersebut terjawab secara rinci.

Kolaborasi Pemerintah, PLN dan Masyarakat Jadi Penentu

Baca juga  Tour Wisata Bersama Keluarga Besar Ikatan Baraya Sunda IBS OKI SUMSEL

Program ini memperlihatkan pola kolaborasi antara pemerintah, perusahaan dan masyarakat.

Pemerintah daerah berperan mendorong kebijakan serta pengembangan kawasan. PLN memberikan dukungan melalui program TJSL, sementara masyarakat desa menjadi bagian penting dalam pengelolaan potensi lokal.

Titik krusialnya berada pada fase setelah serah terima.

Serah terima fasilitas menandai dimulainya tahap baru, bukan berakhirnya program.

Tanpa pengelolaan yang kuat, fasilitas pertanian berteknologi berpotensi menghadapi persoalan klasik: teknologi tersedia, tetapi kemampuan mengoperasikan dan membiayainya belum sepenuhnya siap.

Karena itu, indikator keberhasilan ke depan tidak hanya dapat dilihat dari berdirinya greenhouse.

Yang lebih penting adalah apakah produksi berjalan, hasilnya terserap pasar, masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dan fasilitas tersebut mampu berkembang tanpa terus bergantung pada bantuan awal.

Pertanyaan yang Masih Terbuka

Program Sinar Bohlam membawa janji besar untuk Desa Tanjung Agung.

Melon menjadi titik awal, sementara hortikultura dan wisata pertanian diproyeksikan menjadi pengembangan berikutnya.

Namun, pertanyaan besarnya justru berada pada tahap setelah seremoni.

Apakah Smart-Greenhouse tersebut benar-benar mampu menjadi sumber penghasilan baru bagi masyarakat?

Atau, seperti sejumlah program pembangunan lainnya, tantangan terbesar justru baru dimulai setelah fasilitas diserahkan?

Jawabannya akan terlihat dari bagaimana masyarakat mengelola, memproduksi, memasarkan dan mengembangkan kawasan tersebut dalam waktu mendatang. (Noto)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here