Beranda Nusantara Terungkap: 86 Pengurus IPHI Ciamis Dilantik, Apa Dampaknya bagi Umat?

Terungkap: 86 Pengurus IPHI Ciamis Dilantik, Apa Dampaknya bagi Umat?

23
0
Bupati Ciamis H. Herdiat Sunarya menghadiri Pelantikan Pengurus Daerah IPHI dan MTP IPHI Kabupaten Ciamis periode 2026–2031 di Gedung K.H. Irfan Hielmy Islamic Centre, Rabu (19/8/2026). (Foto: Holil/CimutNews)

CIAMIS, cimutnews.co.id — Pelantikan pengurus baru Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) dan Majelis Taklim Perempuan (MTP) IPHI Kabupaten Ciamis periode 2026–2031 berlangsung meriah.

Sebanyak 63 pengurus IPHI dan 23 pengurus MTP IPHI resmi dilantik dalam kegiatan yang digelar di Gedung K.H. Irfan Hielmy Islamic Centre Kabupaten Ciamis, Rabu (19/8/2026).

Sekitar 1.200 tamu undangan hadir. Namun, di balik besarnya jumlah pengurus dan tamu yang memadati acara, ada satu hal yang justru lebih penting untuk ditunggu: sejauh mana kepengurusan baru tersebut mampu mengubah nilai kemabruran haji menjadi manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat?

Pertanyaan itu menjadi relevan karena tema yang diusung bukan sekadar tentang organisasi, melainkan “Perkuat Peran dan Fungsi Organisasi IPHI untuk Mewujudkan Haji Mabrur Sepanjang Hayat.”

Artinya, ukuran keberhasilan IPHI lima tahun ke depan idealnya tidak berhenti pada kegiatan pelantikan, peringatan hari besar keagamaan, atau agenda seremonial lainnya.

Janji Kemabruran Haji Tak Berhenti di Tanah Suci

Bupati Ciamis H. Herdiat Sunarya menegaskan, kemabruran haji seharusnya tidak berhenti ketika jamaah meninggalkan Tanah Suci dan kembali ke daerah masing-masing.

Menurutnya, nilai-nilai yang diperoleh dari ibadah haji perlu diteruskan dalam kehidupan sosial melalui kepedulian, persaudaraan, keteladanan serta pengabdian kepada masyarakat.

“Amanah ini bukan sekadar kedudukan dalam organisasi, tetapi tanggung jawab untuk melayani umat, menjaga persaudaraan para haji, dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat khususnya di Kabupaten Ciamis,” ujar Herdiat.

Pernyataan tersebut sekaligus menempatkan IPHI pada posisi yang lebih luas. Organisasi para alumni jamaah haji itu diharapkan bukan hanya menjadi wadah silaturahmi, tetapi juga memiliki kontribusi nyata terhadap persoalan sosial dan keumatan.

Pemerintah Kabupaten Ciamis mendorong pengurus baru memperkuat konsolidasi hingga tingkat kecamatan dan desa, meningkatkan pembinaan pasca-haji, serta mengembangkan kegiatan sosial dan ekonomi keumatan.

Baca juga  Disperindag Kabupaten Blitar Gelar Pelatihan Bagi Buruh dan Industri Rokok, Optimalkan Anggaran DBHCHT

Namun Fakta di Lapangan Menunjukkan, Ukuran Keberhasilan Belum Terlihat

Namun fakta di lapangan menunjukkan, informasi mengenai program konkret yang akan menjadi prioritas IPHI periode 2026–2031 belum dijelaskan secara rinci dalam materi kegiatan yang disampaikan.

Pemerintah daerah memang telah memberikan sejumlah arah, mulai dari pembinaan pasca-haji hingga kegiatan sosial dan ekonomi. Tetapi masyarakat tentu membutuhkan lebih dari sekadar daftar harapan.

Program seperti apa yang akan dijalankan?

Siapa penerima manfaatnya?

Bagaimana pengurus mengukur keberhasilannya?

Dan yang tidak kalah penting, apakah program tersebut nantinya benar-benar menjangkau masyarakat hingga tingkat desa?

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi kepengurusan baru.

Sebab, ketika jumlah pengurus mencapai 86 orang dan kegiatan pelantikan dihadiri sekitar 1.200 undangan, ekspektasi publik terhadap kiprah organisasi juga ikut membesar.

Di Sisi Lain, Peran Perempuan Diproyeksikan Lebih Luas

Perhatian juga diarahkan kepada Majelis Taklim Perempuan IPHI Kabupaten Ciamis.

Herdiat menyebut perempuan memiliki posisi penting dalam memperkuat akhlak, ketahanan keluarga, literasi keagamaan, pendidikan, kesehatan, lingkungan hingga kesejahteraan masyarakat.

Karena itu, MTP IPHI diharapkan tidak berhenti sebagai ruang pembelajaran keagamaan.

Organisasi tersebut didorong berkembang menjadi wadah pemberdayaan perempuan dan keluarga yang terbuka bagi berbagai generasi.

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan ketika konsep pemberdayaan tersebut harus diterjemahkan menjadi program nyata.

Belum ada penjelasan rinci mengenai bentuk program pemberdayaan yang akan menjadi unggulan MTP IPHI selama lima tahun mendatang.

Padahal, persoalan keluarga, pendidikan, ekonomi rumah tangga dan literasi keagamaan merupakan isu yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.

Jika konsep tersebut berhasil diterjemahkan menjadi kegiatan yang terukur, MTP IPHI berpotensi memiliki peran sosial yang lebih besar. Namun apabila berhenti pada agenda pertemuan dan kegiatan seremonial, ruang kontribusinya tentu menjadi jauh lebih terbatas.

Baca juga  Polres Blitar Kota Resmi Launcing Satgas Anti Premanisme untuk Jaga Keamanan dan Ketertiban

Bukan Sekadar Pelantikan, Ada Beban Amanah Lima Tahun

Pelantikan pengurus baru pada dasarnya adalah titik awal, bukan tujuan akhir.

IPHI periode 2026–2031 kini memiliki waktu lima tahun untuk membuktikan gagasan tentang “haji mabrur sepanjang hayat” tersebut.

Pemerintah Kabupaten Ciamis sendiri mendorong adanya sinergi antara IPHI, Kementerian Agama, MUI, organisasi kemasyarakatan Islam dan berbagai pemangku kepentingan.

Kolaborasi itu penting karena persoalan masyarakat tidak dapat diselesaikan oleh satu organisasi saja.

Di bidang sosial misalnya, kebutuhan masyarakat bisa berbeda antara wilayah perkotaan dan perdesaan. Begitu pula dengan kebutuhan ekonomi, pendidikan, kesehatan dan pembinaan keagamaan.

Karena itu, konsolidasi hingga tingkat kecamatan dan desa menjadi salah satu hal yang akan menentukan apakah IPHI benar-benar mampu menjadi organisasi yang dekat dengan masyarakat.

Momentum Keagamaan dan Kebangsaan

Pelantikan tersebut juga dirangkai dengan Tasyakur HUT ke-81 Republik Indonesia, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW serta Milad ke-51 MUI.

Rangkaian tersebut mempertemukan tiga pesan besar: keagamaan, kebangsaan dan pengabdian sosial.

Nilai kesetaraan, persaudaraan, ketertiban, pengorbanan dan kepedulian yang terdapat dalam ibadah haji dinilai sejalan dengan semangat membangun kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Sementara peringatan Maulid Nabi menjadi pengingat agar pengurus menjalankan amanah dengan sikap santun, adil dan penuh kasih sayang.

Milad ke-51 MUI juga menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antara ulama, pemerintah dan masyarakat.

Namun, hingga kini, belum semua gagasan tersebut memiliki gambaran implementasi yang dapat diukur publik.

Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah nilai-nilai tersebut akan diterjemahkan menjadi program yang menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung, atau kembali berputar pada agenda organisasi dan kegiatan seremonial?

Lima Tahun untuk Membuktikan

Kepengurusan baru IPHI Ciamis telah mendapatkan amanah untuk periode 2026–2031.

Baca juga  Jual Beli online Madu Lebah Hutan Asli Madu Hitam Asli dan Madu Hitam Pahit

Pesan yang disampaikan pemerintah daerah cukup jelas: organisasi diharapkan menjadi rumah besar persaudaraan para haji sekaligus mitra strategis dalam pembangunan sosial dan keumatan.

Bupati juga berharap para pengurus mampu memperkuat gotong royong, menjaga harmoni serta menjadi penggerak pembangunan di Kabupaten Ciamis.

Namun, ukuran keberhasilan tentu tidak hanya ditentukan oleh meriahnya pelantikan.

Keberhasilan akan terlihat ketika masyarakat mulai merasakan manfaatnya: dari pembinaan pasca-haji, kegiatan sosial, pemberdayaan ekonomi, penguatan keluarga hingga program keumatan yang hadir secara nyata di tengah warga.

Hingga kini, pertanyaan terbesar justru berada di sana.

Mampukah 86 pengurus yang baru dilantik menjadikan gagasan haji mabrur sepanjang hayat sebagai gerakan sosial yang nyata selama lima tahun ke depan?

Atau, apakah masyarakat masih harus menunggu untuk melihat seperti apa bentuk kemabruran yang benar-benar hadir setelah acara pelantikan selesai?

Jawabannya bukan berada di atas panggung pelantikan, melainkan akan terlihat dari kerja organisasi setelahnya. (Holil)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here