Beranda Banyuasin Banyuasin Tawarkan Lumbung Pangan Nasional, Mampukah Pasar dan Petani Sama-Sama Diuntungkan?

Banyuasin Tawarkan Lumbung Pangan Nasional, Mampukah Pasar dan Petani Sama-Sama Diuntungkan?

3
0
Bupati Banyuasin Dr. H. Askolani SH MH memaparkan potensi sektor pangan Banyuasin saat menjadi narasumber Forum Bisnis Daerah APKASI bersama Kadin di Deli Serdang, Sumatera Utara. (Foto: Noto/CimutNews)

DELI SERDANG, cimutnews.co.id — Kabupaten Banyuasin kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu daerah penyangga pangan nasional. Dalam Forum Bisnis Daerah (FORBISDA) yang digelar Asosiasi Pemerintahan Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) bersama Kamar Dagang Indonesia (Kadin) di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Bupati Banyuasin Dr. H. Askolani SH MH menawarkan potensi daerahnya sebagai mitra perdagangan antardaerah, terutama untuk komoditas beras.

Forum yang menjadi rangkaian HUT ke-26 APKASI itu tidak hanya membahas peluang investasi, tetapi juga strategi menjaga stabilitas harga pangan melalui kerja sama antarkabupaten.

Namun, di balik optimisme tersebut, muncul pertanyaan yang menarik untuk dicermati. Apakah besarnya produksi pangan otomatis berdampak langsung terhadap kesejahteraan petani dan kestabilan harga di tingkat masyarakat?

Dalam paparannya, Bupati Askolani menyampaikan Banyuasin merupakan salah satu lumbung pangan nasional dengan produksi padi yang menempatkannya sebagai salah satu daerah penghasil terbesar di Indonesia.

Menurutnya, keberhasilan sektor pertanian tidak cukup hanya dilihat dari tingginya hasil panen, tetapi juga kemampuan membangun sistem perdagangan yang mampu menghubungkan daerah surplus dengan daerah yang mengalami kekurangan pasokan.

“Kolaborasi antardaerah menjadi kunci menjaga ketersediaan pangan nasional. Daerah yang memiliki surplus beras harus dapat menjalin kerja sama dengan daerah yang mengalami defisit sehingga kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi melalui perdagangan yang efektif dan saling menguntungkan,” ujar Askolani dalam forum tersebut.

Ia menegaskan Pemerintah Kabupaten Banyuasin siap memperluas jaringan perdagangan hasil pertanian ke berbagai wilayah Indonesia.

Selain beras, Banyuasin juga menawarkan komoditas lain seperti jagung, telur, ikan, udang, kelapa sawit hingga minyak sebagai bagian dari potensi ekonomi daerah yang dinilai mampu menopang kebutuhan daerah lain.

Pemerintah daerah juga menyatakan membuka peluang investasi seluas-luasnya bagi pelaku usaha yang ingin mengembangkan sektor pangan maupun industri berbasis pertanian di Banyuasin.

Baca juga  Banyuasin Raih Penghargaan Manajemen Talenta ASN di Rakernas XVII APKASI 2026

Distribusi Dinilai Menjadi Titik Penentu

Gagasan memperkuat perdagangan antardaerah mendapat perhatian karena selama ini persoalan pangan nasional bukan hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga distribusi.

persoalan rantai distribusi masih menjadi tantangan di berbagai daerah. Tidak sedikit komoditas pertanian yang melimpah di tingkat produsen, tetapi harga di tingkat konsumen tetap tinggi akibat biaya logistik, panjangnya mata rantai perdagangan, hingga keterbatasan akses pasar.

Kondisi tersebut menjadi salah satu isu yang terus dibahas dalam berbagai forum ketahanan pangan nasional.

Jika kerja sama antardaerah mampu berjalan efektif, distribusi komoditas diyakini dapat menjadi lebih singkat sehingga disparitas harga antarwilayah dapat ditekan.

Harapan Petani Tak Hanya Produksi Meningkat

Di sisi lain, keberhasilan sebuah daerah menjadi lumbung pangan tidak selalu identik dengan meningkatnya kesejahteraan seluruh petaninya.

Sejumlah petani di berbagai daerah sentra produksi, termasuk di Sumatera Selatan, selama ini masih menghadapi tantangan berupa fluktuasi harga gabah, biaya produksi yang meningkat, hingga ketidakpastian pasar saat musim panen raya.

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan sebagian pelaku usaha yang berharap adanya kepastian pasar melalui kerja sama perdagangan antardaerah agar hasil panen tidak hanya bergantung pada pembeli lokal.

Menurut sejumlah pelaku usaha pertanian, kepastian pasar menjadi salah satu faktor penting agar produktivitas yang tinggi benar-benar memberikan nilai tambah bagi petani.

Forum Bisnis Dinilai Jadi Awal, Bukan Akhir

FORBISDA sendiri menjadi ruang pertemuan pemerintah daerah, dunia usaha dan berbagai pemangku kepentingan untuk membangun jejaring perdagangan antardaerah.

Dalam forum tersebut, Banyuasin mengajak pemerintah kabupaten lain membangun perjanjian kerja sama perdagangan sehingga setiap daerah dapat saling memenuhi kebutuhan komoditas yang tidak diproduksi sendiri.

Baca juga  Sengketa Lahan 125 Hektar di Banyuasin Masuk Ranah Perdata, Mediasi di PN Pangkalan Balai Deadlock

Konsep ini dinilai mampu memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus memperluas akses pasar bagi daerah yang memiliki surplus produksi.

Meski demikian, hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai langkah lanjutan setelah forum selesai.

Apakah kerja sama yang dibahas akan segera diwujudkan dalam bentuk kontrak perdagangan, peningkatan infrastruktur distribusi, hingga kemudahan investasi, atau masih memerlukan tahapan koordinasi yang lebih panjang?

Banyuasin Bidik Peran Lebih Besar

Selain memperkenalkan potensi pertanian, Pemerintah Kabupaten Banyuasin juga menegaskan komitmennya untuk menjadi daerah yang aktif membangun kolaborasi ekonomi nasional.

Pemerintah berharap sinergi antardaerah dapat menciptakan stabilitas harga pangan sekaligus membuka peluang investasi baru yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah.

Bupati Askolani menegaskan Banyuasin siap menjadi mitra strategis bagi daerah lain dalam memenuhi kebutuhan berbagai komoditas pangan.

Masih Menyisakan Pekerjaan Rumah

Langkah memperluas perdagangan antardaerah menjadi salah satu strategi yang dinilai penting di tengah tantangan ketahanan pangan nasional.

Namun hingga kini, belum semua detail mengenai mekanisme kerja sama, target volume perdagangan, maupun dampak langsung terhadap harga di tingkat petani dan konsumen dijelaskan secara rinci dalam forum tersebut.

Ke depan, publik tentu akan menunggu sejauh mana komitmen yang disampaikan mampu diwujudkan dalam kerja sama nyata.

Apakah Banyuasin benar-benar mampu memperkuat posisinya sebagai lumbung pangan nasional yang tidak hanya unggul dalam produksi, tetapi juga menghadirkan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi petani dan masyarakat? (Noto)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here