
PALEMBANG, cimutnews.co.id — Program donor darah terus digalakkan di Kota Palembang.
Namun di tengah berbagai kegiatan sosial yang digelar, kebutuhan darah masyarakat ternyata masih belum sepenuhnya terpenuhi.
Kondisi ini terungkap saat LPKA Kelas I Palembang menggandeng PMI Kota Palembang menggelar aksi donor darah dalam rangka Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-62, Selasa (21/4/2026).
Kegiatan tersebut melibatkan jajaran Kantor Wilayah serta pegawai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan se-Kota Palembang. Sejak pagi, antusiasme peserta tampak cukup tinggi mengikuti proses donor darah.
Hadir dalam kegiatan itu Ketua PMI Kota Palembang, Dewi Sastrani Ratu Dewa, yang juga menjabat Ketua TP PKK Kota Palembang.
Dalam sambutannya, Dewi Sastrani mengapresiasi partisipasi para pendonor yang dinilai membantu memenuhi kebutuhan darah masyarakat.
“Selamat Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-62 Tahun 2026. Kami sangat mengapresiasi semangat dan kepedulian jajaran LPKA serta seluruh peserta donor. Semoga kegiatan seperti ini dapat terus berkelanjutan,” ujarnya.
Namun fakta di lapangan menunjukkan kebutuhan darah di Palembang masih cukup tinggi dan belum sepenuhnya terpenuhi.
Berdasarkan data PMI Kota Palembang, kebutuhan darah setiap bulan mencapai sekitar 7.000 kantong. Sementara stok yang tersedia saat ini disebut baru berada di kisaran 4.000 hingga 5.000 kantong darah.
Artinya, masih terdapat selisih ribuan kantong darah yang harus dipenuhi setiap bulannya.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan sejumlah keluarga pasien yang kerap mengaku kesulitan mencari donor darah dalam kondisi mendesak, terutama untuk golongan darah tertentu.
Berdasarkan temuan di lapangan, kebutuhan darah biasanya meningkat saat jumlah pasien rumah sakit bertambah, sementara partisipasi donor rutin belum stabil.
Hal ini menimbulkan pertanyaan, mengapa kebutuhan darah masih belum mampu terpenuhi meski kegiatan donor darah rutin terus dilakukan berbagai instansi?
Dewi Sastrani menyebut persoalan tersebut tidak bisa hanya dibebankan kepada PMI semata. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor sangat dibutuhkan agar ketersediaan darah tetap aman.
Ia menilai keterlibatan instansi pemerintah, BUMD, swasta hingga masyarakat umum menjadi faktor penting untuk menjaga stok darah tetap tersedia.
“Kolaborasi lintas sektor sangat diperlukan agar kebutuhan darah masyarakat dapat terpenuhi. Ini adalah bentuk nyata kepedulian kita terhadap sesama,” tambahnya.
Kegiatan donor darah yang digelar LPKA Kelas I Palembang ini pun menjadi bagian dari upaya menjaga solidaritas sosial sekaligus membantu kebutuhan medis masyarakat.
Namun, hingga kini belum semua kebutuhan darah di Kota Palembang dapat terpenuhi secara stabil setiap bulan.
Jika kondisi ini terus terjadi, bukan tidak mungkin masyarakat kembali menghadapi kesulitan saat membutuhkan darah dalam kondisi darurat.
Hingga kini, persoalan ketersediaan darah masih menjadi perhatian berbagai pihak.
Apakah ke depan kolaborasi lintas sektor mampu menutup kekurangan stok darah tersebut, atau justru kebutuhan akan terus meningkat? (Poerba)

















