Beranda Ogan Komering Ilir Gerakan 10.000 Masker, PGK OKI Turun ke Jalan Bagikan Masker Gratis di...

Gerakan 10.000 Masker, PGK OKI Turun ke Jalan Bagikan Masker Gratis di Tengah Kabut Asap Karhutla

15
0
DPD PGK OKI membagikan masker gratis kepada masyarakat di kawasan Pertamina Pasar Kayuagung, Selasa (25/8/2026). (Foto: PGK OKI/CN)

Asap merupakan sesuatu yang terlihat dan dirasakan masyarakat. Tetapi penyebab munculnya asap jauh lebih kompleks, mulai dari potensi pembukaan lahan dengan cara dibakar hingga risiko api meluas ketika kondisi lingkungan mendukung terjadinya kebakaran.

Karena itu, imbauan untuk tidak membakar lahan menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut.

Rivaldy meminta masyarakat tidak memilih cara pembakaran untuk membersihkan lahan karena api yang semula kecil berpotensi sulit dikendalikan.

“Jangan karena ingin membersihkan lahan dengan cara cepat, justru akhirnya api tidak terkendali dan merugikan banyak orang.”

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan oleh masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar rumah.

Pedagang, pengendara, pekerja lapangan dan warga yang memiliki kebutuhan di pusat keramaian tetap harus menjalankan aktivitasnya meskipun udara sedang dipengaruhi asap.

Situasi inilah yang membuat persoalan Karhutla tidak berhenti pada urusan titik api. Dampaknya dapat masuk hingga ke ruang kehidupan masyarakat sehari-hari.

Siapa yang Paling Terdampak?

Rivaldy mengingatkan bahwa dampak asap tidak hanya dirasakan oleh mereka yang berada dekat dengan lokasi kebakaran.

Menurutnya, ketika api merambat dan asap terbawa ke kawasan permukiman, kelompok rentan seperti anak-anak dan orang tua ikut menghadapi risiko.

“Yang terkena dampaknya bukan hanya pelaku, tetapi anak-anak, orang tua, dan seluruh masyarakat.”

Hal ini menimbulkan pertanyaan lain: seberapa jauh pencegahan Karhutla benar-benar dilakukan sebelum asap sampai ke permukiman?

Pertanyaan tersebut penting karena penanganan setelah kebakaran terjadi tentu berbeda dengan upaya mencegah munculnya titik api sejak awal.

Pencegahan Tidak Bisa Hanya Mengandalkan Pemerintah

PGK OKI menilai pencegahan Karhutla membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

Pemerintah dan aparat memiliki peran dalam pengawasan serta penanganan kebakaran. Namun masyarakat, dunia usaha dan berbagai kelompok di tingkat lokal juga memiliki posisi penting dalam mencegah terjadinya pembakaran yang berpotensi menimbulkan kebakaran lebih luas.

Baca juga  Kenang Pahlawan, Forkopimda OKI Gelar Ziarah Nasional

Rivaldy mengajak masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun indikasi kebakaran kepada pihak terkait.

“Kalau kita sama-sama menjaga, insyaallah Karhutla bisa kita cegah.”

Ajakan tersebut menjadi penting karena deteksi dan pelaporan dini dapat menjadi bagian dari upaya memperkecil risiko kebakaran meluas.

Gerakan 10.000 Masker dan Pekerjaan Rumah Karhutla

Gerakan 10.000 Masker pada akhirnya bukan hanya berbicara mengenai berapa banyak masker yang dibagikan.

Ada pesan yang lebih besar yang ingin dibangun, yakni mengingatkan masyarakat bahwa udara bersih dan lingkungan yang aman berkaitan langsung dengan kualitas hidup.

Namun, hingga kini, belum semua persoalan Karhutla terjawab hanya dengan gerakan sosial seperti pembagian masker.

Masih ada pekerjaan rumah terkait pencegahan pembakaran lahan, pengawasan titik api, respons ketika kebakaran muncul, serta bagaimana masyarakat memperoleh perlindungan ketika kualitas udara memburuk.

PGK OKI berharap pemerintah, aparat penegak hukum, dunia usaha dan masyarakat dapat memperkuat upaya pencegahan dan penanganan Karhutla, khususnya di wilayah OKI.

Pertanyaan yang Masih Terbuka

Pembagian masker dapat membantu masyarakat menghadapi paparan asap dalam jangka pendek. Tetapi persoalan Karhutla membutuhkan langkah yang jauh lebih panjang.

Terungkap bahwa perlindungan terhadap masyarakat tidak cukup hanya dilakukan ketika asap sudah muncul. Pencegahan menjadi kunci agar masyarakat tidak terus berada dalam siklus yang sama: kebakaran terjadi, asap menyebar, masker dibagikan, kemudian persoalan kembali berulang.

Hingga kini, tantangan terbesarnya tetap sama: bagaimana memastikan tidak ada lagi pembakaran lahan yang berujung pada kebakaran dan bagaimana memastikan masyarakat dapat menikmati udara bersih tanpa harus menunggu kabut asap datang.

Pertanyaannya, apakah Gerakan 10.000 Masker akan menjadi pemantik gerakan bersama yang lebih besar, ataukah persoalan Karhutla di OKI kembali menjadi perhatian hanya ketika asap mulai memenuhi udara? (Asep)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here