
KAYUAGUNG OKI, cimutnews.co.id — Sebuah lencana yang disematkan pada Senin, 17 Agustus 2026, menjadi penanda perjalanan panjang pengabdian seorang aparatur sipil negara (ASN) di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).
Drs. H. Legianto, ME., menerima Satyalancana Karya Satya XXX, penghargaan atas masa pengabdian sebagai ASN selama 30 tahun.
Namun, di balik penghargaan tersebut, ada perjalanan karier yang tidak singkat. Legianto tercatat telah menjalani 13 kali perpindahan tugas di berbagai instansi dan wilayah kerja di Kabupaten OKI.
Perjalanan itu bermula dari posisi sebagai staf di Kecamatan Tulung Selapan. Dari sana, tugas dan tanggung jawab membawanya ke sejumlah tempat dengan karakter pekerjaan yang berbeda.
Dari Tulung Selapan hingga Berbagai Instansi
Karier Legianto kemudian berlanjut di Bagian Kesejahteraan Rakyat dan Bagian Keuangan Sekretariat Daerah OKI.
Ia juga pernah menjalankan tugas di Kelurahan Mangunjaya, Kecamatan Kayuagung, sebelum kemudian berpindah ke sejumlah organisasi perangkat daerah lainnya.
Daftar perjalanan tugasnya mencakup BKD, Kesbangpol, BNNK OKI, Perpustakaan, BPBD, Dinas Perdagangan, hingga Dinas Koperasi, UKM dan Perindustrian.
Perpindahan dari satu tempat ke tempat lain itu membuat perjalanan pengabdiannya tidak hanya berkaitan dengan jabatan, tetapi juga mempertemukannya dengan berbagai persoalan pelayanan pemerintahan.
Setiap tempat kerja membawa tantangan berbeda. Setiap jabatan menuntut tanggung jawab yang berbeda pula.
Namun fakta di lapangan menunjukkan, perjalanan panjang seorang ASN tidak selalu ditentukan oleh satu jabatan atau satu instansi. Ada proses panjang yang dibangun dari tugas-tugas yang dijalani selama bertahun-tahun.
Bukan Sekadar Lencana
Satyalancana Karya Satya XXX bukan sekadar simbol penghargaan masa kerja.
Bagi Legianto, momentum tersebut menjadi pengingat terhadap perjalanan pengabdian yang telah dilalui sejak menjadi staf di Tulung Selapan hingga menjalankan tugas di berbagai perangkat daerah.
Penghargaan itu sekaligus menjadi refleksi bahwa perjalanan sebagai ASN dibangun melalui rangkaian tugas, tanggung jawab, serta interaksi dengan banyak pihak.
Di sisi lain, penghargaan masa pengabdian juga membawa pertanyaan yang lebih luas: sejauh mana perjalanan panjang seorang aparatur benar-benar berujung pada manfaat yang dirasakan masyarakat?
Pertanyaan tersebut penting karena ukuran pengabdian pada akhirnya tidak hanya berada pada lamanya masa kerja, tetapi juga pada kualitas pelayanan dan manfaat yang diberikan kepada publik.
13 Kali Berpindah, 13 Lingkungan Pengabdian
Perpindahan tugas sebanyak 13 kali membuat Legianto memiliki pengalaman bekerja di sejumlah sektor pemerintahan.
Dari urusan kesejahteraan masyarakat, keuangan daerah, pemerintahan kelurahan, kepegawaian, kesatuan bangsa, penanggulangan narkotika, perpustakaan, kebencanaan, perdagangan hingga koperasi dan perindustrian.
Rentang pengalaman tersebut menunjukkan bagaimana seorang ASN dapat bersentuhan dengan berbagai persoalan publik sepanjang perjalanan kariernya.
Ada pekerjaan administratif, pelayanan masyarakat, pengelolaan pemerintahan, hingga sektor yang berkaitan langsung dengan aktivitas ekonomi masyarakat.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan ketika setiap perpindahan tugas menuntut kemampuan beradaptasi dengan lingkungan, persoalan dan tanggung jawab baru.
Hingga kini, belum semua cerita dari perjalanan 13 kali perpindahan tersebut terungkap secara rinci. Namun, rangkaian penugasan itu menjadi bagian penting dari perjalanan panjang Legianto sebagai ASN di OKI.
Pengabdian dan Pekerjaan Rumah Pelayanan Publik
Penghargaan Satyalancana Karya Satya menjadi momentum untuk melihat kembali makna pengabdian aparatur negara.
Masa kerja yang panjang tentu merupakan catatan penting. Tetapi tantangan birokrasi terus berubah seiring meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap pelayanan yang cepat, transparan dan responsif.
Karena itu, penghargaan tidak semestinya berhenti sebagai seremoni.
Hal ini menimbulkan pertanyaan: bagaimana pengalaman panjang seorang aparatur dapat terus diterjemahkan menjadi pengetahuan, keteladanan dan perbaikan pelayanan bagi masyarakat?
Dalam konteks pemerintahan daerah, pengalaman aparatur senior juga memiliki nilai strategis. Pengetahuan yang diperoleh dari berbagai penugasan dapat menjadi modal untuk membangun regenerasi birokrasi.
Penghargaan sebagai Pengingat
Bagi Legianto, perjalanan tersebut bukan semata tentang jabatan.
Ia menyampaikan apresiasi kepada para pimpinan, rekan kerja, keluarga dan masyarakat OKI yang telah menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya.
Penghargaan yang diterima diharapkan tidak menjadi titik akhir, melainkan pengingat untuk terus memberikan yang terbaik.
Sebab, masa pengabdian boleh bertambah dan jabatan dapat berganti. Namun, nilai utama dari seorang aparatur tetap berada pada bagaimana amanah tersebut dijalankan.
Hingga kini, perjalanan itu masih menyisakan satu pertanyaan penting: apakah penghargaan atas puluhan tahun pengabdian akan berhenti sebagai simbol penghormatan, atau justru menjadi energi baru untuk menghadirkan pelayanan yang semakin dirasakan masyarakat?
Jawabannya tentu tidak hanya ditentukan oleh sebuah lencana, tetapi oleh apa yang dilakukan setelah penghargaan tersebut diterima. (asep)

















