Beranda Nusantara Harga BBM Naik, Operasional Sampah Bandung Mulai Tertekan

Harga BBM Naik, Operasional Sampah Bandung Mulai Tertekan

15
0
Wali Kota Muhammad Farhan menyebut kenaikan harga solar membuat biaya operasional pengangkutan sampah di Kota Bandung meningkat hingga dua kali lipat, Sabtu (25/4/2026). (Foto:Siti/cimutnews.co.id)

Terungkap, Kenaikan Solar Picu Ancaman Layanan Sampah Terganggu

BANDUNG, cimutnews.co.id — Layanan pengangkutan sampah di Kota Bandung mulai menghadapi tekanan serius setelah harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi melonjak tajam dalam beberapa waktu terakhir.

Pemerintah Kota Bandung kini berpacu dengan waktu agar layanan kebersihan tetap berjalan normal. Namun di balik upaya itu, muncul kekhawatiran baru: apakah anggaran yang tersedia masih cukup menopang operasional hingga akhir tahun?

Wali Kota Muhammad Farhan mengungkapkan harga solar yang sebelumnya berada di kisaran Rp14 ribu per liter kini naik hingga sekitar Rp23 ribu per liter.

Kenaikan tersebut disebut berdampak langsung pada biaya operasional armada pengangkut sampah yang melonjak hampir dua kali lipat.

“Kenaikan ini membuat biaya BBM untuk pengangkutan sampah meningkat hingga dua kali lipat. Ini menjadi tantangan yang harus segera kita respons,” ujar Farhan dalam keterangannya, Sabtu (25/4/2026).

Pemerintah kota mengaku tengah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi.

Mulai dari efisiensi rute armada, penyesuaian alokasi anggaran, hingga penyusunan skema baru pengelolaan sampah kini sedang dikaji. Koordinasi dengan pemerintah pusat juga disebut akan dilakukan guna mencari solusi jangka panjang.

Namun fakta di lapangan menunjukkan, persoalan sampah di Bandung selama ini memang masih menjadi isu sensitif yang mudah memicu keluhan warga ketika layanan terganggu.

Di sejumlah titik, keterlambatan pengangkutan sampah kerap memunculkan tumpukan sementara yang mengganggu aktivitas masyarakat dan memicu bau tidak sedap.

Sejumlah warga mengaku khawatir kondisi tersebut bisa kembali terulang apabila tekanan biaya operasional terus meningkat.

“Kalau pengangkutan telat satu-dua hari saja biasanya sampah langsung numpuk. Apalagi kalau nanti armada dikurangi,” ujar seorang warga kawasan Antapani.

Baca juga  DPRD Kota Blitar Ingin Pasar Tradisional Hidup Kembali, Adakan Event Ramaikan Pasar Legi

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan petugas lapangan yang menyebut kenaikan BBM juga memengaruhi ritme operasional harian.

Menurut mereka, biaya perjalanan armada kini jauh lebih besar dibanding sebelumnya, sementara kebutuhan pengangkutan sampah terus meningkat seiring aktivitas masyarakat perkotaan.

Berdasarkan temuan di lapangan, persoalan pengelolaan sampah di kota besar tidak hanya bergantung pada armada, tetapi juga efisiensi sistem dan kesiapan anggaran daerah menghadapi gejolak harga energi.

Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah strategi efisiensi yang sedang disusun cukup untuk menjaga layanan tetap stabil hingga akhir tahun?

Pengamat tata kota menilai kenaikan harga BBM memang dapat memicu efek berantai pada layanan publik, terutama sektor yang bergantung pada mobilitas kendaraan berat seperti pengangkutan sampah.

Jika tidak diantisipasi sejak awal, dampaknya bukan hanya soal kebersihan kota, tetapi juga kesehatan lingkungan dan kenyamanan masyarakat.

Hingga kini, belum ada penjelasan rinci terkait kemungkinan tambahan anggaran atau perubahan skema pembiayaan operasional armada kebersihan.

Sementara itu, warga berharap persoalan kenaikan BBM tidak berujung pada terganggunya layanan dasar yang setiap hari mereka butuhkan.

Apakah Pemkot Bandung mampu menjaga layanan pengangkutan sampah tetap normal hingga akhir 2026, atau justru tekanan biaya akan memunculkan persoalan baru di lapangan? (Siti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here