
YOGYAKARTA, cimutnews.co.id – ISAST 2026 atau The 12th International Seminar on Aerospace Science and Technology akan mempertemukan peneliti, akademisi, mahasiswa, dan pelaku industri dirgantara dari berbagai negara di Yogyakarta pada 6–8 Oktober 2026.
Konferensi yang mengangkat tema “Aerospace for Humanity” itu digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA), bersama Universitas Gadjah Mada (UGM), i-CATS University College Malaysia, dan Vietnam National University.
Kegiatan berlangsung secara hibrida di The Alana Hotel & Conference Center Malioboro, Yogyakarta. Forum ini menjadi salah satu ruang penting bagi Indonesia untuk memperlihatkan kapasitas riset nasional di bidang roket, satelit, drone, penginderaan jauh hingga sains antariksa.
ISAST 2026 Diikuti Peneliti dari 14 Negara
Kepala ORPA BRIN Prof. Dr. Robertus Heru Triharjanto mengatakan ISAST 2026 dirancang bukan sekadar sebagai forum presentasi ilmiah, melainkan sebagai ruang pertukaran pengetahuan antara peneliti, perguruan tinggi dan industri.
“Penyelenggaraan ISAST 2026 tahun ini adalah momentum penting dalam pertukaran keilmuan dirgantara,” kata Robertus.
Menurut dia, kolaborasi tersebut diarahkan pada pembahasan observasi bumi, eksplorasi antariksa serta pengembangan teknologi kedirgantaraan yang berkelanjutan.
Skala partisipasi konferensi terlihat dari jumlah naskah yang masuk. Panitia menerima 138 abstrak dari 14 negara, kemudian memperoleh 91 makalah lengkap untuk proses seleksi lebih lanjut.
Dari proses tersebut, sebanyak 88 makalah terpilih akan dipresentasikan dalam tujuh ruang sidang paralel.
Tujuh bidang utama yang dibahas
Materi konferensi mencakup sejumlah bidang strategis dalam perkembangan teknologi kedirgantaraan, yaitu:
- Roket dan propulsi;
- Teknologi UAV atau drone;
- Rekayasa satelit dan penginderaan jauh;
- Cuaca antariksa;
- Astrofisika;
- Sains dirgantara dasar;
- Kebijakan dan ekonomi antariksa.
Keragaman tema tersebut menunjukkan bahwa teknologi dirgantara tidak lagi hanya berbicara mengenai peluncuran roket atau satelit. Perkembangannya semakin berkaitan dengan kebutuhan masyarakat, mulai dari pemantauan bumi hingga pengambilan keputusan berbasis data.
Kompetisi Mahasiswa Diikuti 166 Karya dari 26 Negara
Salah satu bagian yang menarik perhatian dalam ISAST 2026 adalah Aerospace Innovation Challenge.
Kompetisi bertema “Next-Gen Skies: Future Breakthroughs in Aerospace, Drone, and Space Technologies” tersebut memberikan ruang kepada mahasiswa untuk menawarkan gagasan dan inovasi di bidang kedirgantaraan.
Panitia mencatat sebanyak 166 karya mahasiswa dari 26 negara di lima benua masuk dalam kompetisi tersebut.
Pemenang dijadwalkan diumumkan pada acara penutupan konferensi, Rabu, 7 Oktober 2026.
Keterlibatan mahasiswa dari berbagai negara memberikan dimensi berbeda bagi konferensi. Forum ilmiah tidak hanya menjadi tempat bagi peneliti senior untuk bertukar hasil penelitian, tetapi juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk memperkenalkan gagasan teknologi yang berpotensi dikembangkan lebih lanjut.
Teknologi AI Dipakai untuk Mendukung Peserta Konferensi
ISAST 2026 juga membawa pendekatan digital dalam pengelolaan konferensi.
Seluruh layanan peserta tersedia melalui portal isast.space, mulai dari pendaftaran dan pembayaran hingga pengunggahan materi presentasi, informasi jadwal serta pemesanan ekskursi.
Panitia juga menyediakan asisten berbasis kecerdasan buatan bernama “Mr. Peo” yang dirancang untuk menjawab pertanyaan peserta kapan saja.
Selain itu, terdapat fitur Collab Corner, yang memungkinkan peserta menemukan calon mitra riset dan membuka peluang kolaborasi lintas negara.
Penggunaan AI dalam konferensi ini menjadi bagian menarik karena teknologi tersebut ditempatkan bukan sebagai topik pembahasan semata, melainkan sebagai alat untuk mendukung penyelenggaraan kegiatan ilmiah.
Pembukaan Dijadwalkan 7 Oktober
Upacara pembukaan ISAST 2026 dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 08.00 WIB di Yogyakarta.
Agenda pembukaan akan diisi sambutan Kepala BRIN serta perwakilan UGM dan i-CATS University College.
Sementara itu, sesi pleno menghadirkan sejumlah akademisi dan peneliti, antara lain Dr.-Ing. Javensius Sembiring, Prof. Dr. Mohd Yazid dari Universiti Teknologi Malaysia, Prof. Dr. Shuhaimi bin Mansor, serta Prof. Dr. Ahmad Zulfaa bin Mohamed Kassim.
Ketua Panitia ISAST 2026, Soleh Fajar Junjunan, mengatakan kegiatan tersebut juga ingin mendekatkan perkembangan riset dirgantara kepada masyarakat Indonesia.
“Banyak orang Indonesia senang mengikuti berita roket, drone, dan antariksa. Kami ingin publik tahu bahwa riset di bidang ini juga dikerjakan di sini,” ujar Soleh, yang juga merupakan peneliti BRIN.
Menurut dia, penelitian tersebut tidak hanya dilakukan oleh lembaga riset, tetapi melibatkan peneliti dan mahasiswa Indonesia bersama mitra dari berbagai negara.
Dari LAPAN hingga BRIN, ISAST Memiliki Jejak Lebih dari Satu Dekade
ISAST memiliki sejarah panjang dalam ekosistem penelitian penerbangan dan antariksa Indonesia.
Seminar internasional tersebut pertama kali diselenggarakan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) pada 2013. Setelah restrukturisasi kelembagaan riset nasional, penyelenggaraannya kini dilanjutkan oleh BRIN.
Perjalanan tersebut memperlihatkan perubahan kelembagaan sekaligus kesinambungan agenda penelitian dirgantara Indonesia.
Dari perspektif yang lebih luas, keberadaan forum seperti ISAST penting karena pengembangan teknologi dirgantara membutuhkan waktu panjang, biaya besar, sumber daya manusia khusus, serta jaringan kerja sama internasional.
Tantangannya bukan hanya menghasilkan teknologi
Kemajuan teknologi roket, drone dan satelit tidak otomatis menghasilkan manfaat apabila tidak diikuti kemampuan mengubah hasil riset menjadi aplikasi nyata.
Karena itu, pembahasan mengenai kebijakan dan ekonomi antariksa dalam ISAST 2026 menjadi penting. Teknologi membutuhkan ekosistem pendukung berupa regulasi, industri, pembiayaan, talenta serta mekanisme hilirisasi penelitian.
Dalam jangka pendek, konferensi seperti ini memperluas pertukaran pengetahuan. Dalam jangka panjang, jejaring yang terbentuk dapat menjadi pintu bagi penelitian bersama, pengembangan teknologi, maupun kerja sama antara perguruan tinggi, lembaga riset dan industri.
Indonesia Berpeluang Memperkuat Ekosistem Dirgantara
Jumlah peserta dan karya yang masuk menunjukkan bahwa isu kedirgantaraan memiliki basis komunitas ilmiah yang semakin luas. Kehadiran peserta dari 14 negara dan karya mahasiswa dari 26 negara juga memperlihatkan bahwa forum di Yogyakarta memiliki dimensi internasional yang cukup kuat.
Insight pentingnya terletak pada pergeseran ekosistem dirgantara: teknologi tidak lagi berdiri sendiri sebagai proyek penelitian, tetapi semakin bertemu dengan kebutuhan data, kecerdasan buatan, industri drone, penginderaan jauh, kebijakan publik dan ekonomi.
Bagi Indonesia, tantangan berikutnya adalah memastikan pengetahuan yang dipertukarkan dalam forum internasional dapat diterjemahkan menjadi penelitian lanjutan, produk teknologi dan solusi yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Dengan demikian, ISAST 2026 bukan hanya agenda konferensi selama tiga hari. Forum tersebut dapat menjadi salah satu titik temu yang memperkuat jejaring ilmiah Indonesia dengan komunitas dirgantara global.
Penyelenggaraan ISAST 2026 turut didukung PT DAHANA, PT GMF AeroAsia, PT Nusantara Secom InfoTech, Anton Paar melalui PT Elementa Laboratoria Indonesia, TRUF, dan AERING.
ISAST 2026 menempatkan Yogyakarta sebagai titik pertemuan peneliti dan generasi muda dari berbagai negara untuk membahas masa depan teknologi dirgantara.
Dengan 88 makalah terpilih, 166 karya mahasiswa dari 26 negara, serta agenda yang mencakup teknologi hingga kebijakan antariksa, konferensi ini memperlihatkan bahwa pengembangan dirgantara Indonesia membutuhkan kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara.
Tantangan setelah konferensi adalah memastikan gagasan dan jejaring yang terbentuk tidak berhenti di ruang seminar, tetapi berkembang menjadi riset, inovasi dan teknologi yang dapat memberi manfaat bagi masyarakat. (Timred/CN)

















