Beranda Banyuasin Panen Raya Padi IP 100 di Banyuasin, Lahan Lebak 67 Hektare Hasilkan...

Panen Raya Padi IP 100 di Banyuasin, Lahan Lebak 67 Hektare Hasilkan Potensi Produksi 9,1 Ton

4
0
Bupati Banyuasin Askolani bersama jajaran pemerintah daerah dan petani mengikuti panen raya padi IP 100 di Desa Sungai Dua, Kecamatan Rambutan, Kamis (1/10/2026), sebagai bagian dari upaya optimalisasi lahan lebak dan penguatan ketahanan pangan.(Foto:Noto/cimutnews)

BANYUASIN, cimutnews.co.id – Pemerintah Kabupaten Banyuasin memperkuat optimalisasi lahan lebak melalui panen raya padi Indeks Pertanaman (IP) 100 di Desa Sungai Dua, Kecamatan Rambutan, Kamis (1/10/2026). Kegiatan yang dipimpin Bupati Banyuasin, Dr. H. Askolani, SH., MH., tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas pertanian, memperkuat ketahanan pangan, dan menjaga posisi Banyuasin sebagai salah satu sentra produksi beras nasional.

Panen raya ini mencakup 67 hektare lahan, terdiri atas 23 hektare lahan optimalisasi lahan (OPLA) dan 44 hektare lahan reguler. Berdasarkan keterangan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Banyuasin, produksi ubinan yang dilaporkan mencapai 9,1 ton, meskipun satuan hasil dan rincian varietas per petak belum dijelaskan secara terperinci.

Lahan Lebak Jadi Tumpuan Peningkatan Produksi Padi Banyuasin

Bupati Askolani mengatakan, pengembangan sektor pertanian merupakan salah satu program unggulan pemerintah daerah yang tercantum dalam misi pembangunan jangka menengah Kabupaten Banyuasin, yakni meningkatkan perekonomian daerah berbasis pertanian dalam kerangka Banyuasin Prima.

Menurutnya, optimalisasi lahan pertanian tidak dapat dilakukan pemerintah daerah sendiri. Diperlukan kerja sama antara pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, pemerintah pusat, penyuluh pertanian, TNI, serta kelompok tani untuk meningkatkan produktivitas dan memperluas pemanfaatan lahan potensial.

“Untuk mendukung program swasembada pangan, Pemerintah Kabupaten Banyuasin bekerja sama dengan pemerintah pusat dan provinsi untuk menjalankan program ini,” kata Askolani.

Ia juga menyoroti keunggulan sumber daya alam Banyuasin, mulai dari lahan pertanian yang luas dan subur hingga ketersediaan sumber air yang mendukung kegiatan budidaya. Keberadaan Sungai Musi menjadi salah satu faktor pendukung pengembangan pertanian, terutama dalam menghadapi tantangan pengelolaan air pada musim kemarau.

Panen 67 Hektare dan Pengembangan Berbagai Varietas Padi

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Banyuasin, Sarip, SP., MM., menjelaskan bahwa panen raya di Desa Sungai Dua melibatkan sejumlah varietas padi dengan karakteristik berbeda.

Baca juga  MoU Ditandatangani, Namun Tantangan SDM Transportasi Banyuasin Masih Jadi Pertanyaan

Varietas yang dipanen antara lain Black Madras, varietas hibrida Luxury, Ciherang, dan Ngaos Mawar. Black Madras menjadi salah satu varietas yang menarik perhatian karena memiliki daun berwarna hitam, sementara beras yang dihasilkan tetap berwarna putih.

Menurut Sarip, Black Madras berasal dari India dan berpotensi dikembangkan lebih lanjut di Banyuasin. Keberadaan beragam varietas tersebut menunjukkan upaya diversifikasi tanaman sekaligus membuka peluang pengembangan komoditas yang sesuai dengan karakteristik lahan setempat.

Rincian kegiatan pertanian yang disampaikan DTPH Banyuasin:

  • Panen raya: 67 hektare, terdiri atas 23 hektare OPLA dan 44 hektare lahan reguler.
  • Luas lahan yang disebut dalam rincian panen lainnya: 27 hektare, terdiri atas 10 hektare OPLA dan 17 hektare reguler.
  • Pertanaman reguler: 733 hektare.
  • Cetak sawah rakyat: 48 hektare.
  • Total pertanaman yang dilaporkan: 781 hektare.
  • Realisasi OPLA tahun 2024: 658 hektare.
  • Hasil produksi ubinan: 9,1 ton, dengan satuan dan cakupan pengukuran yang perlu diperjelas.

Data tersebut menggambarkan besarnya aktivitas pengembangan pertanian di Banyuasin. Namun, angka luas panen, luas pertanaman, dan hasil ubinan merupakan kategori pengukuran yang berbeda sehingga tidak dapat langsung dijumlahkan atau dianggap sebagai satu periode produksi yang sama.

Diversifikasi Tanaman dan Ketahanan Pangan Rumah Tangga

Selain mendorong peningkatan produksi padi, Askolani mengingatkan petani agar tidak hanya bergantung pada satu jenis komoditas. Ia mengajak kelompok tani memanfaatkan lahan yang tersedia untuk menanam cabai, terong, dan berbagai jenis sayuran guna memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari.

Menurut Askolani, diversifikasi tanaman dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan keluarga. Langkah tersebut juga berpotensi memberikan tambahan sumber pendapatan bagi petani apabila hasil hortikultura dikelola dan dipasarkan secara berkelanjutan.

Baca juga  Panen Raya Padi Banyuasin Tembus 1,216 Juta Ton, Sinergi TNI dan Pemda Diperkuat

Ia berharap varietas Black Madras dapat terus dikembangkan di Banyuasin. Pengembangan varietas tersebut diharapkan berjalan seiring dengan peningkatan kemampuan petani dalam menerapkan teknik budidaya yang sesuai dengan kondisi lahan.

Optimalisasi Lahan Lebak dan Tantangan Produktivitas

Pengembangan lahan lebak memiliki arti penting bagi Banyuasin karena karakteristik lahan yang dipengaruhi kondisi air membutuhkan pengelolaan yang tepat. Berbeda dengan lahan sawah yang memiliki sistem pengairan relatif terkendali, lahan lebak memerlukan penyesuaian pola tanam terhadap kondisi genangan dan perubahan musim.

Dalam konteks tersebut, penerapan Indeks Pertanaman 100 menjadi salah satu pendekatan untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan dengan menanam padi satu kali dalam setahun. Keberhasilan pengembangannya bergantung pada kesesuaian varietas, pengaturan tata air, kesiapan sarana produksi, serta pendampingan penyuluh pertanian.

Panen raya di Desa Sungai Dua juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Kehadiran unsur pemerintah, TNI, penyuluh, petani, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi bagian dari koordinasi untuk mendukung program pertanian daerah.

Produktivitas dan kesejahteraan petani

Sarip menilai keberhasilan sektor pertanian dapat memberikan dampak positif terhadap pendapatan dan kesejahteraan petani. Menurutnya, penggunaan teknologi adaptif, inovasi budidaya, pengelolaan lahan yang tepat, serta kolaborasi pemerintah dan petani menjadi faktor penting dalam meningkatkan produktivitas.

Meski demikian, peningkatan hasil panen perlu diikuti dengan penguatan aspek pascapanen, akses pemasaran, dan efisiensi biaya produksi. Tanpa dukungan tersebut, kenaikan produktivitas belum tentu sepenuhnya berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan petani.

Dari sisi skala kegiatan, luas panen 67 hektare di Desa Sungai Dua merupakan bagian dari total pertanaman 781 hektare yang dilaporkan DTPH. Perbandingan ini menunjukkan bahwa panen raya merupakan salah satu bagian dari aktivitas pertanian yang lebih luas, bukan gambaran keseluruhan produksi padi Banyuasin.

Baca juga  Tanam Padi Serentak Banyuasin, Herman Deru Perkuat Ketahanan Pangan Sumatera Selatan

Angka produksi ubinan 9,1 ton juga perlu dibaca sesuai satuan dan metode pengukurannya. Data hasil panen per hektare, produksi gabah keseluruhan, serta hasil beras setelah penggilingan akan memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai capaian produktivitas.

Sinergi Pemerintah dan Petani Perkuat Ketahanan Pangan

Panen raya tersebut turut dihadiri Anggota DPRD Banyuasin Arisa Lahari, SH., dan Juprianto, SH., anggota DPRD periode 2004–2024, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Selatan Dr. Ir. Raden Bambang Pramono, M.Si., serta Kepala BRNP Sumsel Dr. Nur Rofik Ahmadi.

Hadir pula Kepala DTPH Banyuasin Sarip, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Banyuasin Hj. Ida Bahagia, SH., MM., perwakilan BPBD, koordinator penyuluhan Kecamatan Rambutan, Danramil 430 Mariana, Camat Rambutan, kepala desa se-Kecamatan Rambutan, tokoh masyarakat, dan kelompok tani.

Keterlibatan berbagai pihak tersebut menjadi modal koordinasi dalam menjalankan program pertanian. Ke depan, kesinambungan pendampingan, ketersediaan benih, pengelolaan air, dan kepastian pemasaran akan menentukan sejauh mana potensi lahan lebak dapat dikembangkan secara produktif.

Panen raya IP 100 di Desa Sungai Dua menjadi salah satu upaya Banyuasin mengoptimalkan lahan lebak untuk mendukung ketahanan pangan. Tantangan berikutnya adalah memastikan peningkatan produksi berlangsung berkelanjutan, disertai penguatan pendapatan petani dan pengelolaan sumber daya pertanian yang efisien. (Noto)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here