
PALEMBANG, cimutnews.co.id — Perubahan sosial yang berlangsung cepat menjadi tantangan baru bagi organisasi kemasyarakatan dan keagamaan di Indonesia. Di tengah derasnya arus informasi, pergeseran nilai budaya, hingga meningkatnya polarisasi di ruang digital, peran kader organisasi dinilai semakin penting.
Isu tersebut mengemuka dalam kegiatan Pendidikan Dasar–Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PD-PKPNU) PWNU Sumatera Selatan Angkatan II yang berlangsung di Balai Diklat Keagamaan Palembang, akhir pekan lalu.(29/5)
Dalam kegiatan itu, Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru hadir sebagai narasumber sekaligus memberikan pandangan mengenai pentingnya penguatan kader Nahdlatul Ulama (NU) menghadapi perubahan zaman yang dinilai berlangsung semakin cepat.
Menurut Herman Deru, perkembangan teknologi dan derasnya informasi telah membawa dampak terhadap kehidupan sosial masyarakat. Ia menilai warga Nahdiyin perlu memperkuat nilai adab, toleransi, serta sikap saling menghargai agar mampu menjaga harmoni di tengah berbagai perubahan tersebut.
Ia juga menyoroti karakter masyarakat Sumatera Selatan yang selama ini dikenal religius, menjunjung toleransi, serta memiliki budaya gotong royong yang kuat.
“Di tengah perubahan yang sangat cepat, tenggang rasa harus semakin baik. Karakter masyarakat Sumsel yang santun dan religius perlu terus dijaga,” ujarnya dalam forum kaderisasi tersebut.
Program Kaderisasi Terus Diperkuat
Kegiatan PD-PKPNU sendiri menjadi bagian dari upaya penguatan kapasitas kader Nahdlatul Ulama di Sumsel. Ketua PWNU Sumsel Hendra Zainuddin Al Qodiri menyampaikan apresiasinya atas kehadiran Herman Deru yang turut memberikan materi kepada peserta kaderisasi.
Kaderisasi dinilai bukan sekadar agenda rutin organisasi, tetapi juga upaya menyiapkan sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan tantangan sosial, ekonomi, dan budaya yang terus berkembang.
Dalam kesempatan itu, Herman Deru juga berpesan agar kader NU tidak hanya unggul dari sisi jumlah anggota, tetapi juga kualitas pengabdian kepada masyarakat.
Ia menekankan pentingnya konsistensi, tanggung jawab, serta kecepatan dalam merespons persoalan yang muncul di tengah masyarakat.
Namun Realita di Lapangan Tidak Selalu Mudah
Meski berbagai program kaderisasi terus digelar, tantangan yang dihadapi organisasi keagamaan saat ini tidak bisa dibilang ringan.
Namun fakta di lapangan menunjukkan derasnya arus informasi digital masih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya terjawab. Penyebaran hoaks, provokasi berbasis identitas, hingga menurunnya budaya dialog di sejumlah ruang publik masih kerap ditemukan.
Di sisi lain, sejumlah pengamat sosial menilai generasi muda kini menghadapi perubahan pola interaksi yang jauh berbeda dibanding satu dekade lalu. Organisasi keagamaan dituntut tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga mampu menghadirkan pendekatan yang relevan dengan kebutuhan generasi digital.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan sebagian masyarakat yang mengaku semakin sulit menyaring informasi akibat banjir konten di media sosial. Situasi tersebut membuat peran kader organisasi kemasyarakatan menjadi semakin strategis sebagai penguat literasi sosial dan keagamaan.
Pertanyaan Besar di Tengah Optimisme
Sumatera Selatan selama ini dikenal sebagai daerah yang relatif kondusif dan minim konflik sosial terbuka. Namun perubahan sosial yang berlangsung cepat tetap menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan.
Kaderisasi memang menjadi salah satu jawaban yang terus didorong berbagai organisasi. Akan tetapi, efektivitasnya dalam menjawab persoalan riil masyarakat masih membutuhkan pembuktian berkelanjutan.
Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah penguatan kader yang terus dilakukan mampu mengikuti kecepatan perubahan sosial dan teknologi yang terjadi saat ini?
Jika tidak diimbangi dengan inovasi serta pendekatan yang adaptif, dikhawatirkan kesenjangan antara program organisasi dan kebutuhan masyarakat akan semakin lebar.
Hingga kini, belum semua tantangan sosial akibat perubahan era digital dapat direspons secara merata oleh berbagai elemen masyarakat. Karena itu, kualitas kader yang mampu hadir di tengah persoalan warga menjadi kebutuhan yang semakin mendesak.
Penguatan kaderisasi mungkin menjadi langkah awal. Namun sejauh mana dampaknya terhadap kehidupan masyarakat luas, masih menjadi pekerjaan besar yang akan terus diuji oleh waktu.
Informasi dihimpun dari keterangan resmi Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, pengurus PWNU Sumsel, serta hasil penelusuran berbagai perkembangan sosial yang relevan.(Poerba)

















