
KOTA BANDUNG, cimutnews.co.id – Pemerintah Kota Bandung melihat komunitas tidak hanya sebagai ruang berkumpul berdasarkan kesamaan minat, tetapi juga sebagai salah satu kekuatan yang dapat menggerakkan pariwisata dan ekonomi lokal.
Pandangan itu disampaikan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan saat melepas peserta Anniversary 1 Decade Royal Riders Indonesia (RoRi) di Balai Kota Bandung, Sabtu (8/8/2026).
Perayaan satu dekade RoRi tersebut menghadirkan anggota komunitas dari berbagai daerah di Indonesia. Kehadiran peserta dari luar Bandung dinilai memberikan peluang bagi kota ini untuk memperluas promosi destinasi melalui pengalaman langsung para pengunjung.
Farhan mengatakan, peserta komunitas yang datang ke Bandung tidak hanya menjadi bagian dari agenda perayaan organisasi. Mereka juga berpotensi menjadi pengunjung yang menikmati berbagai destinasi, kuliner, ruang kreatif, hingga atmosfer perkotaan Bandung.
“Saya dengar katanya yang daftar sampai 40.000, tapi yang datang sekitar 1.000-an. Yang datang di sini sekitar 400-an. Terima kasih sekali,” ujar Farhan.
Bandung Punya Basis Wisatawan Domestik yang Besar
Potensi kegiatan komunitas sebagai penggerak pariwisata sejalan dengan besarnya arus wisatawan nusantara ke Kota Bandung.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandung menunjukkan perjalanan wisatawan nusantara menuju Bandung mencapai 2.267.410 perjalanan pada Mei 2026, meningkat 13,72 persen dibandingkan April 2026. Pada periode yang sama, tingkat penghunian kamar hotel berada di angka 53,41 persen.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa mobilitas wisatawan domestik tetap menjadi salah satu penopang penting sektor pariwisata Bandung. Sebelumnya, pada Maret 2026, perjalanan wisatawan nusantara tercatat 2.073.727 perjalanan dengan tingkat penghunian kamar hotel 41,48 persen
Sementara itu, pada Desember 2025, perjalanan wisatawan nusantara ke Kota Bandung mencapai 2,278 juta perjalanan. Tingkat penghunian kamar hotel pada periode tersebut juga meningkat menjadi 64,14 persen.
Data tersebut memberi gambaran bahwa Bandung memiliki pasar wisata domestik yang besar. Tantangannya bukan semata mendatangkan orang, tetapi bagaimana memperpanjang aktivitas wisata dan membuat pergerakan wisatawan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
Komunitas Bisa Memperluas Promosi Wisata Secara Organik
Dalam konteks itu, kegiatan komunitas seperti RoRi memiliki karakter berbeda dibandingkan promosi destinasi melalui kampanye konvensional.
Peserta datang karena agenda komunitas, tetapi selama berada di Bandung mereka berinteraksi dengan lingkungan kota. Pengalaman tersebut kemudian dapat dibawa pulang dan dibagikan kembali kepada komunitas, keluarga, maupun jejaring sosial mereka.
Farhan menilai pola semacam ini dapat membantu memperkenalkan berbagai daya tarik Bandung kepada masyarakat di daerah lain.
“Teman-teman sekalian, anggota RoRi, selamat Rolling Thunder. Selamat menikmati Kota Bandung dan selamat menikmati perayaan 10 tahun Royal Riders Indonesia,” katanya.
Kegiatan Rolling Thunder yang melibatkan peserta dari berbagai daerah juga memperlihatkan bagaimana komunitas otomotif dapat menciptakan mobilitas dalam jumlah cukup besar pada waktu tertentu.
Jika dikelola secara terintegrasi, kegiatan semacam ini berpotensi memberikan efek berantai kepada sektor transportasi, akomodasi, kuliner, perdagangan, ekonomi kreatif, hingga pelaku usaha kecil yang berada di sekitar jalur kegiatan.
Reaktivasi Husein Sastranegara Jadi Faktor Penting
Perhatian Farhan terhadap kegiatan RoRi juga berkaitan dengan lokasi lanjutan perayaan yang berada di kawasan Lanud Husein Sastranegara.
Farhan mengapresiasi dukungan jajaran Lanud Husein Sastranegara dan menilai penguatan kembali akses penerbangan dari Bandung akan memberikan pilihan konektivitas tambahan bagi masyarakat.
“Saya begitu tahu acaranya di Husein (Bandara Internasional Husein Sastranegara), senang banget karena pada saat bersamaan sekarang perhatian Indonesia sedang menuju ke Bandara Husein karena Bandara Husein akhirnya dibuka lagi,” ujarnya.
Namun, berdasarkan informasi resmi Kementerian Perhubungan pada Juli 2026, proses reaktivasi Bandara Husein Sastranegara masih dilakukan secara bertahap. Kemenhub menyiapkan dua skenario, yakni mulai melayani penerbangan jet dengan operasi minimal pada 17 Agustus 2026 dan target operasional lebih penuh pada 17 September 2026.
Kemenhub sebelumnya menjelaskan bahwa reaktivasi harus didukung pemenuhan berbagai aspek keselamatan dan operasional, termasuk pekerjaan pada runway, taxiway, apron, fasilitas terminal, serta peningkatan kesiapan Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK) Kategori 7.
Dengan demikian, momentum kegiatan RoRi pada awal Agustus berada di tengah proses penguatan kembali konektivitas penerbangan Bandung. Bandara Husein sendiri tercatat dikelola PT Angkasa Pura Indonesia dan memiliki runway sepanjang 2.220 x 45 meter.
Konektivitas dan Pariwisata Saling Menguatkan
Konektivitas menjadi bagian penting dalam pengembangan destinasi. Semakin beragam pilihan akses menuju suatu kota, semakin besar peluang pergerakan orang dan aktivitas ekonomi yang mengikutinya.
Bagi Bandung, isu tersebut menjadi semakin relevan karena kota ini telah memiliki basis wisatawan domestik yang besar. Data BPS menunjukkan perjalanan wisatawan nusantara pada Februari 2026 mencapai 1.826.435 perjalanan, sebelum meningkat menjadi lebih dari 2 juta perjalanan pada Maret dan Mei
Pada sisi lain, lama tinggal wisatawan juga menjadi faktor yang menentukan besarnya manfaat ekonomi pariwisata. Data BPS pada Mei 2026 menunjukkan rata-rata lama menginap tamu Indonesia di hotel Bandung sekitar 1,40 malam, sementara tamu asing 2,09 malam
Artinya, tantangan berikutnya bukan hanya meningkatkan jumlah kunjungan, melainkan mendorong wisatawan agar memiliki lebih banyak alasan untuk tinggal, berbelanja, menikmati kuliner, mengikuti kegiatan komunitas, serta mengunjungi destinasi lain.
Komunitas Bukan Sekadar Peserta Acara
Nilai strategis kegiatan RoRi terletak pada pola pergerakannya.
Satu kegiatan komunitas dapat mendatangkan peserta dari berbagai kota dalam waktu bersamaan. Jika peserta kemudian menginap, makan, berbelanja, menggunakan jasa transportasi dan mengunjungi destinasi lokal, maka kegiatan tersebut menciptakan rantai ekonomi yang lebih luas dibandingkan sekadar aktivitas seremonial.
Di sisi promosi, peserta juga membawa pengalaman tersebut kembali ke daerah asal. Dalam konteks pariwisata berbasis pengalaman, cerita perjalanan dan rekomendasi personal dapat menjadi bentuk promosi yang berlangsung setelah acara berakhir.
Tantangan: Jangan Berhenti pada Event
Besarnya potensi komunitas juga membawa tantangan bagi pemerintah daerah dan pelaku industri pariwisata.
Kegiatan besar perlu dihubungkan dengan paket destinasi, kalender event, sentra kuliner, UMKM, ekonomi kreatif dan atraksi kota agar pergerakan peserta tidak hanya terkonsentrasi pada satu lokasi.
Pemerintah Kota Bandung telah memiliki kerangka kebijakan untuk memperkuat partisipasi masyarakat dalam pengembangan pariwisata. Salah satunya melalui Peraturan Wali Kota Bandung Nomor 34 Tahun 2025 tentang Kelompok Sadar Wisata, yang ditetapkan pada 19 Juni 2025 dan berstatus berlaku.
Ke depan, sinergi antara pemerintah, komunitas dan pelaku usaha dapat menjadi faktor penting untuk mengubah event komunitas menjadi aktivitas ekonomi yang berkelanjutan.
Bagi Bandung, penguatan konektivitas udara melalui reaktivasi Husein Sastranegara juga dapat menjadi bagian dari ekosistem tersebut. Namun, keberhasilan akhirnya tetap bergantung pada kesiapan keselamatan penerbangan, kepastian jadwal, layanan penumpang, serta kemampuan destinasi menyerap tambahan mobilitas masyarakat.
RoRi dan Promosi Bandung
Farhan berharap seluruh rangkaian perayaan satu dekade RoRi berlangsung lancar dan memberikan pengalaman positif bagi para peserta selama berada di Bandung.
“Teman-teman sekalian, anggota RoRi, selamat Rolling Thunder. Selamat menikmati Kota Bandung dan selamat menikmati perayaan 10 tahun Royal Riders Indonesia,” katanya.
Perayaan satu dekade RoRi kemudian berlanjut di kawasan Lanud Husein Sastranegara. Bagi Kota Bandung, kehadiran komunitas dari berbagai daerah tersebut menjadi momentum untuk mempertemukan kegiatan komunitas dengan potensi pariwisata dan ekonomi kota.
Pada akhirnya, semakin banyak komunitas yang menjadikan Bandung sebagai lokasi kegiatan, semakin besar pula peluang kota ini memperkuat posisinya sebagai destinasi yang tidak hanya dikunjungi karena tempat wisatanya, tetapi juga karena pengalaman, kreativitas, komunitas, dan beragam agenda yang berlangsung di dalamnya. (Siti)

















