
PALEMBANG, cimutnews.co.id — Malam Kebudayaan PERDICI yang digelar di Griya Agung, Palembang, Jumat (11/9/2026), mendapat apresiasi dari Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Dr. Drs. H. Edward Candra, M.H. Kegiatan tersebut dinilai memiliki makna lebih luas karena mempertemukan kalangan profesi kedokteran dengan kekayaan budaya daerah.
Edward menyebut kegiatan yang digelar Perhimpunan Dokter Intensive Care Indonesia (PERDICI) itu selaras dengan karakter masyarakat Sumsel yang memiliki kekayaan tradisi dan warisan budaya. Hadir dalam kegiatan tersebut Anggota DPD RI Hj. Ratu Tenny Leriva.
Edward Candra: Budaya Sumsel Tidak Bisa Dipisahkan dari Sejarah Sriwijaya
Menurut Edward Candra, kebudayaan memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Sumatera Selatan. Kekayaan tradisi yang berkembang hingga kini tidak berdiri sendiri, melainkan memiliki keterkaitan dengan perjalanan panjang wilayah tersebut sebagai salah satu kawasan penting dalam sejarah Nusantara.
Ia kemudian mengaitkan kegiatan Malam Kebudayaan dengan sejarah Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang.
Menurut Edward, keberadaan Sriwijaya pada masa lampau menunjukkan bahwa wilayah Sumsel bukan hanya memiliki posisi strategis dalam perdagangan, tetapi juga pernah menjadi salah satu pusat perkembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan.
Pandangan tersebut memiliki konteks historis yang kuat. Direktorat Pelindungan Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat Palembang memiliki berbagai jejak aktivitas Sriwijaya, termasuk keterkaitannya dengan jaringan perdagangan yang memanfaatkan Sungai Musi. Dalam jaringan tersebut, Palembang berperan sebagai salah satu pusat penting distribusi komoditas
Warisan sejarah menjadi identitas masyarakat
Karena itu, budaya bagi Sumatera Selatan bukan sekadar pertunjukan atau simbol dalam sebuah seremoni. Budaya juga menjadi bagian dari identitas daerah yang terbentuk melalui proses sejarah panjang.
Perspektif inilah yang membuat penyelenggaraan Malam Kebudayaan memiliki relevansi tersendiri. Ketika kegiatan tersebut berlangsung dalam rangkaian agenda organisasi profesi kedokteran, ruang perjumpaan yang tercipta tidak hanya bersifat profesional, tetapi juga memperkenalkan karakter budaya daerah kepada para peserta dan tamu.
PERDICI Hadir di Palembang dalam Agenda Ilmiah Kedokteran Intensif
Malam Kebudayaan tersebut berlangsung di tengah rangkaian kegiatan PERDICI di Palembang. Organisasi tersebut merupakan wadah profesi dokter yang bergerak di bidang intensive care dan berada dalam naungan Ikatan Dokter Indonesia (IDI).
PERDICI sendiri memiliki agenda pengembangan ilmu kedokteran intensif melalui pendidikan, pelatihan, hingga forum ilmiah. Pada September 2026, sejumlah kegiatan PERDICI dijadwalkan berlangsung di Palembang, termasuk kursus Fundamental Critical Care Support untuk penanganan pasien kritis.
Kehadiran forum profesi seperti ini memiliki kaitan langsung dengan pelayanan kesehatan. Dokter yang menangani pasien kritis membutuhkan kemampuan khusus dalam mengenali kondisi kegawatan, melakukan stabilisasi, hingga menentukan penanganan lanjutan di ruang intensif.
PERDICI juga terlibat dalam pengembangan pedoman dan konsensus klinis. Salah satunya melalui konsensus penatalaksanaan acute kidney injury pada pasien penyakit kritis yang disusun bersama sejumlah organisasi profesi kedokteran.
Mengapa Malam Kebudayaan Relevan dalam Forum Profesi?
Budaya menjadi jembatan di luar ruang ilmiah
Forum kedokteran umumnya identik dengan seminar, pelatihan, diskusi kasus, dan pembaruan ilmu. Namun, kegiatan kebudayaan memberikan dimensi berbeda karena memungkinkan peserta mengenal karakter sosial dan sejarah daerah tempat kegiatan berlangsung.
Dalam konteks Palembang, pendekatan tersebut menjadi relevan karena kota ini memiliki sejarah panjang yang tidak terlepas dari perkembangan Sriwijaya dan jaringan perdagangan kawasan Asia Tenggara.
Dengan demikian, Malam Kebudayaan tidak semata-mata dapat dipandang sebagai kegiatan pendamping. Acara semacam ini dapat menjadi sarana memperkenalkan identitas lokal kepada komunitas profesional dari berbagai daerah.
Palembang dan Tantangan Menjaga Warisan Budaya
Kegiatan budaya juga berlangsung di tengah upaya menjadikan Palembang sebagai kota yang aktif menyelenggarakan agenda berbasis seni dan kebudayaan. Kalender kegiatan Palembang 2026 memuat berbagai agenda budaya, mulai dari Festival Perahu Bidar, Pekan Kebudayaan Sumatera Selatan, Festival Dul Muluk, hingga berbagai kegiatan seni lainnya.
Tren tersebut menunjukkan bahwa budaya tidak hanya ditempatkan sebagai warisan masa lalu, tetapi juga menjadi bagian dari aktivitas publik, pariwisata, pendidikan, dan ekonomi kreatif.
Namun, tantangan pelestarian budaya tidak berhenti pada banyaknya acara. Yang lebih penting adalah memastikan nilai, pengetahuan, sejarah, serta makna di balik tradisi tetap dipahami generasi berikutnya.
Seremoni budaya harus berujung pada keberlanjutan
Malam Kebudayaan PERDICI memperlihatkan satu pola yang menarik: pelestarian budaya dapat berjalan melalui berbagai ruang, termasuk forum profesi yang pada awalnya tidak secara khusus bergerak di bidang kebudayaan.
Dalam jangka pendek, kegiatan semacam ini memperkuat pengalaman peserta terhadap daerah tuan rumah. Dalam jangka panjang, apabila dilakukan secara konsisten dan melibatkan pelaku budaya lokal, kegiatan profesional berskala nasional dapat ikut memperluas pengenalan budaya Sumsel kepada masyarakat di luar daerah.
Di sinilah letak pentingnya kesinambungan. Pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui satu malam pertunjukan, tetapi membutuhkan dokumentasi, edukasi, keterlibatan generasi muda, serta ruang yang memungkinkan tradisi tetap hidup dalam kehidupan masyarakat.
Budaya dan profesi dapat bertemu tanpa kehilangan fungsi masing-masing
Hal yang menarik dari kegiatan ini adalah pertemuan dua bidang yang tampak berbeda: kedokteran dan kebudayaan.
PERDICI membawa agenda pengembangan ilmu serta pelayanan kedokteran intensif, sementara Malam Kebudayaan menghadirkan identitas daerah tempat para profesional tersebut berkumpul. Pertemuan keduanya menunjukkan bahwa kegiatan profesional tidak harus berlangsung dalam ruang yang sepenuhnya formal.
Bagi Palembang, pendekatan seperti ini juga memberi peluang untuk memperkenalkan kekayaan sejarah dan budaya daerah kepada komunitas profesional yang datang dari luar Sumatera Selatan.
Apresiasi Sekda Sumsel Edward Candra terhadap Malam Kebudayaan PERDICI menegaskan pentingnya menempatkan budaya sebagai bagian dari identitas daerah, termasuk ketika Sumatera Selatan menjadi tuan rumah kegiatan profesi berskala nasional.
Di tengah agenda pengembangan ilmu kedokteran yang berlangsung di Palembang, pengenalan budaya lokal memberikan konteks yang lebih luas mengenai daerah tuan rumah. Warisan Sriwijaya yang disebut Edward menjadi pengingat bahwa kemajuan suatu daerah tidak hanya diukur dari perkembangan institusi modern, tetapi juga dari kemampuannya menjaga sejarah dan kebudayaan yang membentuk identitas masyarakat.
Bagi Sumatera Selatan, tantangan berikutnya adalah memastikan apresiasi terhadap budaya tidak berhenti pada seremoni, melainkan diteruskan melalui pendidikan, dokumentasi, promosi, dan keterlibatan generasi muda.
Artikel terkait: Baca juga informasi mengenai agenda budaya dan kegiatan masyarakat di Sumatera Selatan hanya di cimutnews.co.id.

















