
OKU TIMUR, cimutnews.co.id — Pelantikan kepengurusan baru Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur periode 2026–2031 menjadi momentum lahirnya berbagai harapan baru bagi pengembangan olahraga masyarakat. Bersamaan dengan itu, program “KORMI Goes to School” resmi diperkenalkan sebagai langkah awal menanamkan budaya olahraga rekreasi dan tradisional di kalangan pelajar.
Namun, di balik semangat tersebut, muncul pertanyaan yang hingga kini masih menjadi perhatian. Apakah program yang dimulai dari lingkungan sekolah ini mampu mengubah kebiasaan generasi muda yang semakin akrab dengan gawai dibanding aktivitas fisik?
Pelantikan yang berlangsung di Aula SMA Negeri 1 Belitang, Kamis (23/7/2026), dihadiri Bupati OKU Timur H. Lanosin, Ketua KORMI Sumatera Selatan Samantha Tivani Herman Deru, Ketua KORMI OKU Timur Dwi Seva Prasetio, unsur pemerintah daerah, tenaga pendidik, pelajar, serta pengurus olahraga masyarakat dari berbagai kecamatan.
Ketua KORMI OKU Timur, Dwi Seva Prasetio, menegaskan kepengurusan yang baru akan memprioritaskan pengembangan olahraga rekreasi sekaligus menghidupkan kembali berbagai permainan tradisional hingga ke tingkat desa.
Menurutnya, olahraga tidak hanya berbicara mengenai kompetisi, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup sehat masyarakat.
“Kami akan fokus pada pengembangan olahraga rekreasi dan memperkuat pelestarian olahraga tradisional hingga ke tingkat desa di seluruh wilayah kecamatan. Kami ingin olahraga menjadi gaya hidup masyarakat OKU Timur,” ujarnya.
Ketua KORMI Sumatera Selatan, Samantha Tivani Herman Deru, juga mengingatkan agar organisasi tidak hanya mengejar capaian kegiatan semata.
Ia menilai olahraga masyarakat memiliki peran penting membangun kesehatan sekaligus memperkuat hubungan sosial antarwarga.
“Jadikan olahraga sebagai penggerak utama kesehatan dan kebersamaan masyarakat. Dengan berolahraga, kita tidak hanya menyehatkan badan, tetapi juga mempererat tali silaturahmi,” katanya.
Bupati OKU Timur H. Lanosin memberikan dukungan terhadap kepengurusan baru sekaligus pelaksanaan program KORMI Goes to School.
Ia berharap sekolah menjadi titik awal lahirnya kebiasaan hidup sehat sekaligus ruang pelestarian olahraga tradisional yang menjadi bagian dari identitas budaya daerah.
“Mari bersama-sama menjadikan olahraga sebagai budaya hidup masyarakat demi mewujudkan OKU Timur yang semakin sehat, kuat, dan maju,” ujar Bupati.
Peluncuran program tersebut datang di tengah tantangan yang tidak ringan.
Berdasarkan temuan di lapangan, sejumlah sekolah memang telah memiliki kegiatan olahraga rutin. Namun aktivitas olahraga tradisional masih belum menjadi agenda yang dilakukan secara konsisten.
Di sisi lain, sebagian pelajar lebih mengenal olahraga modern maupun aktivitas digital dibanding permainan tradisional yang pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pedesaan.
Sejumlah warga mengaku permainan seperti gobak sodor, egrang, tarik tambang, bakiak hingga berbagai olahraga tradisional lainnya mulai jarang terlihat dimainkan secara rutin di lingkungan permukiman.
Kondisi tersebut diduga dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup, semakin terbatasnya ruang bermain terbuka, serta meningkatnya penggunaan perangkat digital di kalangan anak-anak dan remaja.
Program Sekolah Jadi Ujian Awal
Masuknya program KORMI ke lingkungan sekolah dinilai menjadi langkah strategis.
Sekolah merupakan tempat yang relatif mudah menjangkau generasi muda sekaligus membangun kebiasaan baru sejak usia dini.
Meski demikian, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada seremoni peluncuran.
Pengamat pendidikan dan pemerhati olahraga masyarakat kerap menilai keberlanjutan program sangat dipengaruhi oleh kesiapan sekolah, guru pendamping, dukungan pemerintah daerah, hingga konsistensi kegiatan setelah agenda pelantikan selesai.
Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah program tersebut nantinya akan berjalan secara rutin di seluruh sekolah atau hanya aktif pada momentum tertentu.
Tantangan Pembinaan Masih Terbuka
KORMI selama ini memiliki peran membina olahraga masyarakat yang berbeda dengan olahraga prestasi.
Karena itu, keberhasilan organisasi lebih banyak diukur dari meningkatnya partisipasi masyarakat untuk aktif bergerak dibanding sekadar jumlah medali.
Namun hingga kini, belum semua wilayah memiliki aktivitas olahraga rekreasi yang berjalan secara berkelanjutan.
Di beberapa daerah, kegiatan olahraga masyarakat masih bergantung pada inisiatif komunitas maupun dukungan pemerintah setempat.
Apabila program pembinaan mampu menjangkau desa, sekolah, dan komunitas secara konsisten, bukan tidak mungkin olahraga tradisional kembali menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.
Sebaliknya, apabila pembinaan tidak berlangsung berkelanjutan, target menjadikan olahraga sebagai budaya hidup berpotensi menghadapi tantangan yang sama seperti sebelumnya.
Hingga kini, pelantikan pengurus baru KORMI dan peluncuran KORMI Goes to School menjadi awal dari komitmen besar membangun budaya hidup sehat di OKU Timur.
Pertanyaannya, mampukah semangat tersebut benar-benar diterjemahkan menjadi aktivitas nyata yang dirasakan masyarakat hingga ke desa-desa, atau masih menyisakan pekerjaan rumah yang harus dijawab dalam beberapa tahun mendatang?
Sumber informasi: Keterangan resmi KORMI Kabupaten OKU Timur yang diperkaya dengan penyusunan konteks jurnalistik dan analisis redaksi berdasarkan kondisi umum pengembangan olahraga masyarakat. (Agus)

















