PALEMBANG, cimutnews.co.id — Senam KRIYA resmi diluncurkan sebagai identitas olahraga berbasis budaya Sumatera Selatan.
Acara berlangsung meriah, bahkan mencetak rekor nasional.
Namun di balik euforia tersebut, muncul pertanyaan: apakah program ini akan berlanjut atau hanya berhenti sebagai seremoni?
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan meluncurkan Senam KRIYA (Kreasi Sriwijaya), Jumat (24/4/2026).
Kegiatan ini digelar secara besar-besaran dan diikuti ribuan peserta yang mengenakan wastra khas daerah.
Peluncuran tersebut berhasil mencatatkan dua rekor dari Museum Rekor-Dunia Indonesia, yakni jumlah peserta terbanyak dan penggunaan busana tradisional terbanyak dalam satu kegiatan senam.
Acara ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Kartini sekaligus menyambut HUT Provinsi Sumatera Selatan.
Ketua TP PKK Sumsel, Feby Herman Deru, menyebut Senam KRIYA sebagai langkah awal membangun identitas olahraga daerah.
“Ini bukan sekadar senam, tapi juga bagian dari upaya memperkuat kebanggaan terhadap budaya lokal,” ujarnya.
Ia menambahkan, program ini akan disosialisasikan hingga ke tingkat kabupaten dan kota melalui jaringan PKK.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Sumsel, Edward Candra, menilai inovasi ini sebagai strategi memadukan olahraga dan pelestarian budaya.
Namun fakta di lapangan menunjukkan, kegiatan semacam ini sering kali hanya ramai saat peluncuran.
Berdasarkan temuan di lapangan, sejumlah program serupa sebelumnya tidak berlanjut secara konsisten di tingkat masyarakat.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan di beberapa daerah, di mana kegiatan olahraga berbasis budaya diduga belum menjadi rutinitas warga.
Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah Senam KRIYA akan benar-benar menjadi kebiasaan baru, atau hanya populer sesaat karena momentum acara besar?
Sejumlah peserta mengaku antusias mengikuti kegiatan tersebut.
“Seru dan bangga pakai pakaian adat, tapi belum tahu nanti apakah rutin atau tidak,” ujar salah satu peserta.
Warga lain menyebut kegiatan seperti ini perlu keberlanjutan agar tidak hanya menjadi event tahunan.
“Kalau cuma sekali, ya cepat dilupakan,” ungkapnya.
Secara konsep, Senam KRIYA memiliki potensi besar sebagai identitas budaya sekaligus sarana olahraga masyarakat.
Namun keberhasilan jangka panjang sangat bergantung pada konsistensi implementasi.
Jika hanya berhenti pada pencatatan rekor dan seremoni, maka dampaknya berpotensi terbatas.
Selain itu, diperlukan dukungan nyata di tingkat desa dan kelurahan agar program ini benar-benar hidup di tengah masyarakat.
Hingga kini, belum semua pihak memiliki gambaran jelas tentang pola keberlanjutan program tersebut.
Senam KRIYA telah mencetak rekor dan menarik perhatian publik.
Namun tantangan sebenarnya justru dimulai setelah acara usai.
Apakah program ini akan berkembang menjadi budaya baru di masyarakat, atau hanya menjadi catatan rekor tanpa keberlanjutan? (Timred/CN)


















