
BATURAJA, cimutnews.co.id – Antrean warga memenuhi kawasan depan Rumah Dinas Bupati Ogan Komering Ulu (OKU), Jumat (24/7/2026) siang. Mereka datang bukan untuk mengurus administrasi atau menghadiri seremoni pemerintahan, melainkan menikmati makan bersama gratis yang disediakan Pemerintah Kabupaten OKU dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten OKU ke-116.
Suasana penuh keakraban terlihat sejak siang hari. Warga dari berbagai kalangan, mulai dari pengemudi ojek online, tukang becak, pedagang kecil hingga masyarakat umum, tampak mengantre secara tertib untuk mendapatkan hidangan sederhana yang telah disiapkan panitia.
Di balik ramainya kegiatan tersebut, muncul satu pertanyaan yang menarik perhatian. Apakah program seperti ini hanya menjadi bagian dari perayaan HUT daerah, atau benar-benar akan menjadi agenda sosial yang berkelanjutan bagi masyarakat yang membutuhkan?
Kegiatan makan bersama ini menjadi salah satu bentuk pendekatan sosial yang dilakukan Pemerintah Kabupaten OKU kepada masyarakat. Bupati OKU H. Teddy Meilwansyah S.STP., M.M., M.Pd bahkan ikut duduk bersama warga menikmati hidangan bersama sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), menciptakan suasana tanpa sekat antara pemerintah dan masyarakat.
Dalam keterangannya, Bupati mengatakan kegiatan tersebut memang ditujukan untuk seluruh lapisan masyarakat, khususnya mereka yang setiap hari bekerja mencari nafkah.
“Alhamdulillah masyarakat sangat antusias menyambut makan bersama gratis ini. Kegiatan ini kami peruntukkan bagi seluruh masyarakat, terutama saudara-saudara kita yang setiap hari berjuang mencari nafkah. Dengan adanya makan bersama ini, mereka tidak perlu mengeluarkan biaya untuk makan sehingga uang hasil kerja hari itu bisa dibawa pulang untuk kebutuhan keluarga dan anak-anak di rumah,” ujar Teddy Meilwansyah.
Ia juga menyampaikan harapan agar kegiatan serupa tidak berhenti pada momentum HUT Kabupaten OKU.
Menurutnya, pemerintah berencana menjadikan makan bersama gratis sebagai agenda rutin setiap hari Jumat apabila memungkinkan.
Namun fakta di lapangan menunjukkan, kebutuhan masyarakat terhadap program bantuan langsung seperti ini masih cukup tinggi. Antusiasme warga yang datang sejak sebelum kegiatan dimulai menjadi gambaran bahwa pengeluaran harian, termasuk untuk kebutuhan makan, masih menjadi beban bagi sebagian kelompok pekerja sektor informal.
Berdasarkan temuan di lapangan, mayoritas peserta berasal dari kalangan pekerja harian yang penghasilannya bergantung pada jumlah pelanggan setiap hari. Bagi mereka, satu kali makan gratis bukan hanya mengurangi pengeluaran, tetapi juga memberikan ruang agar pendapatan hari itu dapat dialihkan untuk kebutuhan keluarga di rumah.
Di sisi lain, sejumlah warga yang ditemui berharap program tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan. Mereka menilai bantuan sederhana justru terasa langsung manfaatnya dibandingkan program yang membutuhkan proses panjang.
Dani, salah seorang peserta makan bersama, mengaku merasa terbantu sekaligus senang karena dapat menikmati makan siang bersama pemerintah daerah.
“Terima kasih kepada Pak Bupati yang sudah mengadakan kegiatan ini. Kami berharap makan bersama gratis seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan karena sangat bermanfaat dan membuat masyarakat merasa diperhatikan,” katanya.
Pengamat kebijakan sosial umumnya menilai kegiatan berbasis kebersamaan seperti makan gratis mampu memperkuat kedekatan antara pemerintah dan masyarakat. Meski demikian, efektivitasnya akan lebih terasa apabila disertai mekanisme pelaksanaan yang konsisten, sasaran penerima yang jelas, serta dukungan anggaran yang berkelanjutan.
Hal ini menimbulkan pertanyaan lain. Jika benar akan dilaksanakan setiap Jumat seperti yang disampaikan pemerintah daerah, bagaimana pola pembiayaan, jumlah penerima manfaat, serta mekanisme pelaksanaannya agar program tersebut dapat berlangsung dalam jangka panjang tanpa mengurangi prioritas pelayanan publik lainnya.
Hingga kini, belum ada penjelasan rinci mengenai teknis pelaksanaan rutin, besaran anggaran maupun skema evaluasi program tersebut apabila nantinya benar-benar dijalankan setiap pekan.
Yang jelas, antusiasme masyarakat pada kegiatan perdana ini menunjukkan bahwa ruang-ruang kebersamaan antara pemerintah dan warga masih sangat dibutuhkan. Kini publik menanti apakah program makan gratis tersebut benar-benar menjadi kebijakan sosial berkelanjutan atau hanya menjadi bagian dari kemeriahan peringatan HUT Kabupaten OKU tahun ini. (Agus)

















