
PAGAR ALAM, cimutnews.co.id – Pemerintah Kota Pagar Alam memperkuat upaya pencegahan stunting melalui Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting). Program tersebut menyasar keluarga yang memiliki anak dan ibu dalam kelompok rentan dengan pendekatan intervensi gizi sekaligus pendampingan berkelanjutan.
Wakil Wali Kota Pagar Alam, Hj. Bertha, menghadiri kegiatan Genting Tahun 2026 di Balai Pertemuan Kantor Kecamatan Pagar Alam Utara, Kamis (6/8/2026). Dalam kegiatan itu, bantuan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) disalurkan kepada 66 keluarga berisiko stunting yang tersebar di lima kecamatan.
Penerima bantuan terdiri atas bayi di bawah dua tahun (baduta), balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Pemerintah daerah menempatkan keterlibatan masyarakat dan pemangku kepentingan sebagai bagian penting dari upaya memastikan intervensi gizi sampai kepada keluarga yang membutuhkan.
Genting Tidak Sekadar Pembagian Makanan Tambahan
Wakil Wali Kota Pagar Alam Hj. Bertha menegaskan, persoalan stunting tidak dapat dibebankan hanya kepada sektor kesehatan. Menurut dia, pencegahan stunting membutuhkan kepedulian sosial serta keterlibatan berbagai unsur masyarakat.
“Melalui Gerakan Orang Tua Asuh ini, kita ingin memastikan tidak ada anak di Pagar Alam yang kekurangan asupan gizi dalam tumbuh kembangnya,” kata Bertha.
Ia menilai intervensi tersebut merupakan bagian dari investasi sumber daya manusia dalam jangka panjang. Anak-anak yang memperoleh asupan gizi dan pendampingan memadai diharapkan dapat tumbuh sehat, cerdas, serta memiliki daya saing.
Bertha juga mengapresiasi pihak-pihak yang bersedia mengambil peran sebagai orang tua asuh. Ia berharap bantuan yang diberikan benar-benar diterima keluarga yang menjadi sasaran program.
“Semoga bantuan yang diberikan pada hari ini dapat tepat sasaran, memang benar-benar penerima manfaatnya dan memang orang-orang yang sedang membutuhkan gizi,” ujarnya.
66 Keluarga Menjadi Sasaran Intervensi di Lima Kecamatan
Program Genting di Pagar Alam menjadi penting karena sasaran intervensinya tidak hanya anak balita. Kelompok ibu hamil dan ibu menyusui juga menjadi bagian dari penerima manfaat.
Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip pencegahan stunting yang menempatkan periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai fase penting. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa intervensi perlu dilakukan sejak masa kehamilan karena persoalan pertumbuhan anak dapat berkaitan dengan kondisi gizi ibu dan anak sejak sebelum kelahiran.
Dengan demikian, pemberian PMT kepada 66 keluarga bukan semata-mata bantuan konsumsi dalam jangka pendek. Jika dibarengi pemantauan pertumbuhan, edukasi keluarga, pemeriksaan kesehatan, serta intervensi sesuai kebutuhan masing-masing sasaran, program tersebut dapat menjadi bagian dari rantai pencegahan stunting yang lebih menyeluruh.
Secara kelembagaan, Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting juga bukan program yang berdiri tanpa pedoman. Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN telah menetapkan Keputusan Menteri Nomor 329/KEP/G2/2024 tentang Panduan Pelaksanaan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting, yang berstatus berlaku.
Angka Nasional Turun, tetapi Tantangan Belum Selesai
Upaya Pagar Alam tersebut berlangsung ketika pemerintah pusat terus mengejar target penurunan stunting nasional.
Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan prevalensi stunting nasional turun dari 21,5 persen pada 2023 menjadi 19,8 persen pada 2024. Pemerintah menargetkan prevalensi tersebut kembali turun menjadi 14,2 persen pada 2029 sesuai sasaran RPJMN.
Data tersebut menunjukkan arah perbaikan, tetapi sekaligus memperlihatkan bahwa pekerjaan pemerintah belum selesai. Penurunan nasional harus diterjemahkan menjadi intervensi yang semakin spesifik di tingkat kabupaten dan kota, terutama bagi keluarga yang memiliki risiko lebih tinggi.
Kementerian Kesehatan juga mencatat adanya kesenjangan prevalensi stunting berdasarkan kondisi sosial ekonomi. Kelompok dengan tingkat pendapatan lebih rendah memiliki prevalensi lebih tinggi dibanding kelompok berpendapatan tinggi.
Kondisi itu membuat pendekatan berbasis keluarga menjadi penting. Bantuan pangan atau PMT dapat menjadi salah satu instrumen untuk menjangkau keluarga rentan, tetapi keberhasilannya sangat bergantung pada ketepatan sasaran dan kesinambungan pendampingan.
Pagar Alam Punya Modal, tetapi Intervensi Harus Konsisten
Pemerintah Kota Pagar Alam melalui DPPKBP3A mencantumkan bahwa kota tersebut pernah mencapai angka stunting 11,6 persen dan menyebutnya sebagai salah satu capaian terendah di Sumatera Selatan
Namun, data stunting dapat berbeda menurut tahun, metode pengukuran, dan sumber survei. Karena itu, capaian masa lalu tidak cukup dijadikan alasan untuk mengendurkan intervensi.
Justru sebaliknya, perubahan angka harus dibaca sebagai alasan untuk memperkuat kualitas data dan pemantauan. Pemerintah Kota Pagar Alam sendiri telah menetapkan Keputusan Wali Kota Pagar Alam Nomor 203 Tahun 2025 tentang Kelurahan yang Menjadi Lokus Pencegahan dan Penanganan Stunting Terintegrasi Tahun 2026, yang berstatus berlaku.
Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa penanganan stunting membutuhkan lokasi sasaran yang jelas. Data keluarga berisiko kemudian perlu dihubungkan dengan pelayanan kesehatan, Posyandu, intervensi gizi, sanitasi, pola asuh, serta kondisi sosial ekonomi keluarga.
Mengapa Pendekatan Orang Tua Asuh Penting?
Ada satu hal yang membuat program Genting menarik untuk diperhatikan: intervensi stunting tidak hanya membutuhkan anggaran pemerintah, tetapi juga jejaring sosial di tingkat masyarakat.
Model orang tua asuh membuka ruang bagi pihak lain untuk ikut bertanggung jawab terhadap pemenuhan kebutuhan keluarga rentan. Namun, keberhasilan program pada akhirnya tidak cukup diukur dari berapa banyak paket makanan yang dibagikan.
Indikator yang lebih penting adalah apakah anak mengalami perbaikan pertumbuhan, apakah ibu hamil mendapatkan pelayanan yang dibutuhkan, apakah keluarga memahami pola makan dan pengasuhan, serta apakah keluarga tetap mendapatkan pendampingan setelah bantuan selesai.
Dari PMT Menuju Pencegahan Berkelanjutan
Secara nasional, Kementerian Kesehatan menekankan pentingnya intervensi sebelum dan sesudah kelahiran, termasuk pemantauan ibu hamil, pencegahan anemia, pemberian tablet tambah darah, suplementasi mikronutrien, ASI eksklusif, PMT, imunisasi, serta penguatan kualitas pengukuran di Posyandu.
Artinya, PMT sebaiknya dipandang sebagai salah satu komponen intervensi, bukan satu-satunya solusi. Bila bantuan pangan tidak diikuti pemantauan pertumbuhan dan edukasi keluarga, dampaknya berisiko tidak berkelanjutan.
Di sisi lain, data kemiskinan Pagar Alam menunjukkan persentase penduduk miskin pada Maret 2024 sebesar 8,18 persen, dengan jumlah penduduk miskin sekitar 11,82 ribu jiwa. Data ini tidak secara otomatis menunjukkan hubungan langsung dengan kasus stunting, tetapi menggambarkan bahwa kondisi ekonomi keluarga tetap menjadi salah satu konteks penting dalam merancang kebijakan intervensi sosial.
Ukuran Keberhasilan Bukan Hanya Paket yang Tersalurkan
Dari perspektif kebijakan publik, titik krusial program Genting berada setelah kegiatan penyerahan bantuan selesai.
Sebanyak 66 keluarga memang menjadi penerima manfaat pada kegiatan tersebut. Namun, nilai strategis program akan jauh lebih besar apabila pemerintah mampu memastikan setiap keluarga mendapatkan pemantauan dan pendampingan sesuai kebutuhan sampai risiko stunting benar-benar dapat ditekan.
Dengan kata lain, rantai intervensi harus lebih panjang daripada seremoni penyerahan PMT. Data penerima, kondisi kesehatan, perkembangan berat dan tinggi badan, status ibu hamil maupun menyusui, hingga perubahan kondisi keluarga perlu menjadi bagian dari evaluasi program.
Hal tersebut juga sejalan dengan tujuan penggunaan data SSGI sebagai dasar perencanaan, evaluasi program, dan penentuan wilayah prioritas intervensi.
Pemerintah dan Masyarakat Perlu Menjaga Momentum
Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting di Pagar Alam memperlihatkan bahwa penanganan stunting mulai diarahkan pada pola kolaborasi yang melibatkan pemerintah, masyarakat, pemangku kepentingan, dan keluarga penerima manfaat.
Tantangannya kini adalah menjaga agar intervensi tidak berhenti pada pemberian bantuan. Pendampingan, pemantauan tumbuh kembang, edukasi keluarga, pelayanan kesehatan dan pemutakhiran data perlu berjalan secara konsisten.
Bagi Pagar Alam, menjaga capaian sekaligus mencegah munculnya kasus baru menjadi sama pentingnya dengan menurunkan angka yang sudah ada. Sebab, investasi pada gizi anak hari ini pada akhirnya berkaitan langsung dengan kualitas sumber daya manusia daerah pada masa mendatang. (Hafis)

















