Beranda Palembang Terungkap, Palembang Hasilkan 1.200 Ton Sampah per Hari

Terungkap, Palembang Hasilkan 1.200 Ton Sampah per Hari

28
0
Wali Kota Palembang Ratu Dewa memberikan apresiasi terhadap gerakan komunitas dalam menjaga kebersihan Sungai Musi. (Foto: Poerba/cimutnews.co.id)

KOTA PALEMBANG, cimutnews.co.id — Aksi Peduli Bersih Sungai Jilid II kembali digelar sejumlah komunitas di Kota Palembang. Puluhan komunitas turun bersama membersihkan bantaran dan aliran sungai, Jumat (21/8/2026).

Gerakan tersebut mendapat apresiasi dari Wali Kota Palembang Ratu Dewa. Pemerintah Kota Palembang menilai keterlibatan komunitas menjadi bagian penting dalam menjaga kebersihan lingkungan, terutama Sungai Musi yang memiliki peran besar bagi kehidupan dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Namun di balik semangat gotong royong itu, ada persoalan yang jauh lebih besar. Sampah di Palembang disebut mencapai sekitar 1.000 hingga 1.200 ton setiap hari.

Angka tersebut membuat aksi bersih sungai tidak hanya menjadi kegiatan seremonial. Ada pertanyaan yang lebih mendasar: seberapa jauh kegiatan bersih-bersih mampu mengimbangi laju sampah yang terus diproduksi setiap hari?

Aksi Komunitas Menarik Perhatian

Aksi ini digagas Mang Dayat bersama sejumlah komunitas. Sebelumnya, kegiatan serupa telah dilakukan di kawasan Plaza Kampung Kapitan.

Antusiasme dalam kegiatan sebelumnya kemudian mendorong komunitas lain untuk ikut bergabung. Pada pelaksanaan jilid II, puluhan komunitas terlihat bersama-sama membersihkan kawasan sungai.

Yang menarik, kegiatan tersebut juga mulai melibatkan generasi muda, termasuk anak-anak Gen Z.

Keterlibatan kelompok muda menjadi sinyal bahwa isu lingkungan mulai bergeser dari sekadar urusan pemerintah menjadi kepedulian bersama.

Wali Kota Palembang Ratu Dewa mengapresiasi gerakan tersebut.

“Saya sangat mengapresiasi sekali gagasan yang dilakukan oleh Mang Dayat untuk kembali melakukan kegiatan yang terpuji ini,” ujar Ratu Dewa di sela kegiatan.

Ia menegaskan persoalan sampah tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah.

Menurutnya, masyarakat, komunitas, dan pemerintah memiliki tanggung jawab bersama dalam mengatasi persoalan tersebut.

Sampah 1.200 Ton Sehari, Seberapa Besar Tantangannya?

Baca juga  Terungkap di APEKSI 2026, Promosi Potensi Palembang Digencarkan, Namun Hasil Nyatanya Masih Jadi Pertanyaan

Data yang disampaikan pemerintah daerah menunjukkan volume sampah Kota Palembang berada di kisaran 1.000 sampai 1.200 ton per hari.

Saat momentum Lebaran, jumlah tersebut bahkan disebut dapat meningkat hingga dua kali lipat.

Angka itu memberikan gambaran bahwa persoalan kebersihan sungai sebenarnya hanya salah satu bagian dari persoalan pengelolaan sampah perkotaan.

Membersihkan sungai memang penting. Tetapi jika sumber sampah dari kawasan permukiman, pasar, pusat aktivitas ekonomi, maupun kawasan lainnya terus bertambah, persoalan serupa berpotensi kembali muncul.

Namun fakta di lapangan menunjukkan, menjaga sungai tetap bersih bukan hanya soal mengangkat sampah yang sudah berada di air.

Persoalannya juga berkaitan dengan bagaimana sampah dipilah, dikurangi, dikumpulkan, diangkut, hingga akhirnya dikelola agar tidak kembali mencemari lingkungan.

Janji PLTSa 17,7 Megawatt

Pemerintah Kota Palembang menyatakan telah menyiapkan langkah jangka panjang.

Salah satunya adalah proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik atau PLTSa di Keramasan.

Proyek tersebut ditargetkan mulai pada bulan berikutnya dan disebut memiliki kapasitas menghasilkan 17,7 Megawatt.

Ratu Dewa menyebut proyek itu diharapkan dapat menjadi salah satu percontohan di Indonesia.

“Jika ini sudah berjalan, masalah sampah akan sedikit berkurang,” jelasnya.

Program tersebut tentu menarik perhatian karena menawarkan dua tujuan sekaligus: mengurangi timbunan sampah dan menghasilkan energi.

Namun, efektivitasnya tetap akan bergantung pada pelaksanaan di lapangan, mulai dari kesiapan fasilitas, kesinambungan pasokan sampah, hingga sistem pengelolaan setelah sampah dikumpulkan.

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan ketika persoalan sampah berada di tingkat masyarakat. Kebersihan sungai tidak akan bertahan lama apabila kesadaran membuang dan memilah sampah belum berjalan secara konsisten.

Satu Kelurahan Satu Bank Sampah

Selain proyek pengolahan sampah menjadi energi, Pemkot Palembang juga berencana mendorong keberadaan satu bank sampah di setiap kelurahan.

Baca juga  Halal Bi Halal Sumbagsel Digelar, Benarkah Sekadar Seremoni atau Berdampak Nyata?

Konsep ini dapat menjadi salah satu cara mendekatkan pengelolaan sampah kepada masyarakat.

Sampah yang memiliki nilai ekonomi dapat dipilah sejak dari sumbernya, sementara sampah yang tersisa dapat diarahkan ke sistem pengolahan berikutnya.

Tetapi pelaksanaannya tentu tidak cukup hanya dengan membangun fasilitas.

Bank sampah membutuhkan pengelola, partisipasi warga, mekanisme pengumpulan, serta pasar yang mampu menyerap material yang telah dipilah.

Hingga kini, belum semua persoalan teknis mengenai penerapan program tersebut dijelaskan secara rinci dalam kegiatan ini.

Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana memastikan program tidak berhenti pada pembentukan fasilitas, tetapi benar-benar menjadi kebiasaan baru masyarakat.

Gotong Royong dan Pekerjaan Rumah Pemerintah

Aksi komunitas di Sungai Musi menunjukkan bahwa masyarakat memiliki energi besar untuk terlibat dalam persoalan lingkungan.

Tetapi gerakan seperti ini juga memperlihatkan bahwa persoalan sampah membutuhkan kerja yang lebih panjang daripada sekadar kegiatan bersih-bersih.

Pemerintah memiliki peran dalam menyediakan sistem pengelolaan yang memadai. Komunitas dapat menjadi penggerak kesadaran. Sementara masyarakat menjadi bagian paling menentukan karena sebagian besar sampah berasal dari aktivitas sehari-hari.

Di titik inilah keberadaan PLTSa dan bank sampah akan diuji.

Apakah program tersebut mampu mengurangi volume sampah secara nyata?

Apakah sampah yang masuk ke sungai dapat ditekan dari sumbernya?

Dan yang tidak kalah penting, apakah semangat gotong royong yang terlihat dalam Aksi Peduli Bersih Sungai Jilid II dapat berubah menjadi kebiasaan yang berlangsung setiap hari?

Pertanyaan-pertanyaan itu masih terbuka.

Sungai Musi mungkin bisa kembali terlihat bersih setelah satu hari dibersihkan. Tetapi menjaga kebersihan itu tetap bertahan akan membutuhkan sistem, kedisiplinan, dan keterlibatan masyarakat secara terus-menerus.

Bagi Palembang, tantangannya bukan hanya membersihkan sungai yang sudah tercemar, melainkan memastikan sampah tidak kembali menjadi masalah yang sama di kemudian hari. (Poerba)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here