
PALEMBANG, cimutnews.co.id — Turnamen Piala Gubernur Sumatera Selatan resmi dibuka di Stadion Kamboja Palembang dengan suasana meriah. Pemerintah daerah menyebut ajang ini sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pembinaan sepak bola usia dini.
Namun di balik seremoni pembukaan dan antusiasme para peserta, sejumlah pelaku sepak bola usia muda mengaku masih menghadapi berbagai tantangan di lapangan.
Lalu, apakah turnamen seperti ini sudah cukup menjawab kebutuhan pembinaan sepak bola muda di Palembang?
Turnamen tersebut diikuti 10 tim yang berasal dari klub anggota ASKOT PSSI Palembang dan Sekolah Sepak Bola (SSB) afiliasi PSSI Sumsel berdomisili di Palembang.
Ajang ini dibuka langsung oleh Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, yang menilai turnamen tersebut menjadi momentum penting untuk melahirkan talenta muda sepak bola daerah.
“Selamat bertanding kepada para peserta, tunjukkan kemampuan terbaik kalian. Kami harap sepak bola Palembang semakin maju,” ujar Ratu Dewa saat pembukaan turnamen, 21 Mei 2025.
Ketua ASKOT PSSI Palembang, Moh David, juga menyampaikan optimisme terhadap lahirnya bibit muda potensial melalui kompetisi tersebut.
Menurutnya, tim yang menjadi juara nantinya akan mewakili Palembang pada level Zona Sumsel hingga berpeluang melaju ke tingkat nasional.
“Kami berharap dari turnamen ini lahir talenta-talenta muda asal Palembang,” katanya.
David menjelaskan peserta wajib memenuhi sejumlah syarat, mulai dari biaya pendaftaran Rp500 ribu per tim, maksimal 21 pemain, hingga ketentuan domisili Palembang sesuai kartu keluarga.
Sistem pertandingan sendiri menggunakan format setengah kompetisi untuk menentukan tim terbaik.
Namun fakta di lapangan menunjukkan pembinaan sepak bola usia dini di Palembang masih menyisakan sejumlah persoalan yang kerap dikeluhkan para pelatih dan orang tua pemain.
Beberapa pengurus SSB mengaku kompetisi rutin usia muda dinilai belum konsisten sepanjang tahun. Kondisi itu disebut membuat pemain muda hanya aktif saat ada turnamen tertentu.
“Anak-anak sebenarnya semangat latihan. Tapi pertandingan resmi masih terbatas. Kadang setelah turnamen selesai, mereka lama tidak bertanding lagi,” ujar salah satu pelatih SSB di Palembang yang meminta namanya tidak disebutkan.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan sebagian orang tua pemain. Mereka mengaku masih harus menanggung berbagai kebutuhan latihan secara mandiri, mulai dari transportasi hingga perlengkapan pertandingan.
“Kalau ada event besar memang ramai dan bagus. Tapi pembinaan sehari-hari tetap banyak biaya sendiri,” kata seorang wali pemain.
Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai kesinambungan pembinaan sepak bola usia dini setelah turnamen selesai digelar.
Berdasarkan temuan di lapangan, sejumlah SSB juga disebut masih menghadapi keterbatasan fasilitas latihan, terutama lapangan representatif dan jadwal penggunaan stadion yang terbatas.
Meski demikian, turnamen seperti Piala Gubernur tetap dianggap penting sebagai wadah pencarian bakat dan motivasi bagi pemain muda untuk menunjukkan kemampuan mereka.
Pengamat sepak bola lokal menilai kompetisi usia dini memang menjadi langkah positif. Namun pembinaan jangka panjang dinilai tetap membutuhkan konsistensi kompetisi, dukungan fasilitas, hingga pengawasan pembinaan yang berkelanjutan.
Hingga kini, belum semua SSB merasakan pemerataan dukungan pembinaan secara maksimal.
Turnamen boleh berlangsung meriah dan penuh semangat. Namun publik kini menanti apakah ajang seperti ini benar-benar mampu melahirkan regenerasi sepak bola Palembang yang berkelanjutan, atau hanya menjadi agenda seremonial tahunan semata. (Poerba)

















