
PALEMBANG, cimutnews.co.id — Harumnya gulo puan, kilau songket Bidak Cukit, hingga anyaman purun Pedamaran sukses menarik perhatian pengunjung Festival Seni Adat dan Tradisi Sumatera Selatan 2026 di kawasan Rumah Adat Dekranasda Sumsel, Jakabaring, Palembang.
Di balik ramainya anjungan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), festival tersebut bukan sekadar ajang pamer budaya. Ada harapan besar agar kekayaan tradisi yang diwariskan turun-temurun itu tidak berhenti hanya menjadi tontonan tahunan.
Namun fakta di lapangan menunjukkan, pelestarian budaya bukan pekerjaan sederhana. Regenerasi perajin, perubahan gaya hidup generasi muda, hingga persaingan produk modern masih menjadi tantangan yang terus menghantui keberlangsungan warisan budaya lokal.
Festival yang berlangsung pada 24–25 Juni 2026 itu menghadirkan seluruh kabupaten dan kota di Sumatera Selatan sebagai etalase budaya daerah masing-masing.
Di Anjungan Kabupaten OKI, pengunjung disuguhi berbagai kuliner khas seperti gulo puan, serikayo ketan, kemplang Kayuagung, kemplang panggang, hingga pempek hitam yang selama ini menjadi bagian dari identitas masyarakat pesisir sungai dan rawa.
Tak hanya kuliner, berbagai karya wastra dan kerajinan juga dipamerkan, mulai dari Songket Bidak Cukit, batik motif Perahu Kajang, hingga anyaman purun Pedamaran yang dikenal memiliki nilai seni sekaligus fungsi ekonomi bagi masyarakat.
Ketua Dekranasda Sumatera Selatan, Feby Herman Deru, bahkan menyempatkan diri mengunjungi Anjungan Kabupaten OKI. Selain mencicipi kuliner tradisional, ia juga membeli produk anyaman purun sebagai bentuk dukungan terhadap para perajin lokal.
Menurut Feby, keberadaan rumah adat dan anjungan setiap kabupaten menjadi media penting untuk memperkenalkan identitas budaya Sumatera Selatan kepada masyarakat luas.
“Anjungan merupakan etalase budaya Sumatera Selatan yang memperlihatkan keragaman tradisi dari 17 kabupaten dan kota. Kehadirannya menjadi ruang representasi yang memudahkan masyarakat maupun tamu dari luar daerah mengenal wajah kebudayaan Sumatera Selatan tanpa harus mengunjungi seluruh wilayah secara langsung,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa rumah adat tidak boleh sekadar menjadi bangunan simbolik.
“Rumah adat dan anjungan ini bukan sekadar bangunan, tetapi menjadi ruang untuk memperkenalkan budaya, kerajinan, kuliner, dan identitas daerah kepada masyarakat luas,” tambahnya.
Budaya Tak Cukup Dipamerkan
Di sisi lain, sejumlah pemerhati budaya menilai festival seperti ini akan memberikan dampak lebih besar apabila diikuti dengan program pembinaan berkelanjutan kepada para pelaku budaya di daerah.
Berdasarkan temuan di lapangan, sebagian besar pengunjung terlihat antusias menikmati sajian kuliner dan hasil kerajinan yang dipamerkan. Namun belum semua produk budaya lokal memiliki akses pemasaran yang luas maupun regenerasi perajin yang memadai.
Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah promosi budaya melalui festival mampu memberikan efek jangka panjang terhadap keberlangsungan ekonomi para pelaku budaya, atau masih sebatas momentum seremonial tahunan.
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menegaskan budaya harus menjadi fondasi yang menjaga identitas masyarakat di tengah perubahan zaman.
“Budaya harus menjadi penuntun generasi muda agar tidak kehilangan akar dan identitasnya.”
Ia berharap Festival Seni Adat dan Tradisi Sumsel terus menjadi agenda rutin yang didukung seluruh pemerintah daerah.
“Pelestarian budaya tidak boleh bergantung pada siapa pemimpinnya. Budaya harus terus hidup dan diwariskan karena inilah yang menjadi kekuatan dan identitas daerah kita,” tegasnya.
Sementara itu, Bupati OKI Muchendi Mahzareki mengatakan keikutsertaan Kabupaten OKI merupakan bagian dari upaya memperkenalkan sekaligus menjaga warisan budaya daerah.
Menurutnya, produk-produk yang dipamerkan bukan hanya bernilai ekonomi, tetapi juga menyimpan perjalanan sejarah masyarakat OKI.
“Gulo puan, songket, batik maupun anyaman purun adalah warisan budaya yang menyimpan cerita tentang masyarakat OKI. Tugas kita hari ini adalah menjaga, mengembangkan, dan mengenalkannya kepada generasi muda agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman,” katanya.
Harapan Tidak Berhenti di Festival
Festival budaya dinilai mampu membuka ruang promosi yang lebih luas bagi produk lokal.
Namun hingga kini, belum semua pelaku UMKM budaya memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan usahanya, terutama dalam pemasaran digital, akses permodalan, maupun regenerasi tenaga perajin.
Jika kondisi tersebut tidak mendapat perhatian berkelanjutan, dikhawatirkan sejumlah warisan budaya yang selama ini menjadi kebanggaan daerah perlahan kehilangan pelaku dan penerusnya.
Festival boleh usai, tetapi pekerjaan menjaga identitas budaya masih panjang. Pertanyaannya, mampukah semangat pelestarian itu terus hidup setelah panggung festival ditutup, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat yang selama ini menjadi penjaga tradisi?
(Asep)

















