Beranda OKU Timur Kehadiran Ayah di Hari Pertama Sekolah Jadi Sorotan, Sudahkah Menjadi Budaya?

Kehadiran Ayah di Hari Pertama Sekolah Jadi Sorotan, Sudahkah Menjadi Budaya?

5
0
Bupati OKU Timur Ir. H. Lanosin menghadiri Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah Tahun Pelajaran 2026/2027 di SMP Negeri 1 Martapura, Senin (13/7/2026). (Foto:Agus/cimutnews)

OKU TIMUR, cimutnews.co.id — Hari pertama masuk sekolah selalu menjadi momen yang sulit dilupakan bagi banyak anak. Suasana baru, teman baru, hingga rasa gugup menghadapi lingkungan belajar menjadi bagian dari pengalaman yang membekas. Namun, di balik momen tersebut, ada satu hal yang kini mulai mendapat perhatian lebih, yakni kehadiran seorang ayah.

Momentum itu terlihat dalam Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah Tahun Pelajaran 2026/2027 yang digelar di SMP Negeri 1 Martapura, Kabupaten OKU Timur, Senin (13/7/2026). Bupati OKU Timur Ir. H. Lanosin, M.T., M.M., ikut hadir sekaligus memberikan contoh langsung pentingnya keterlibatan ayah dalam pendidikan anak.

Namun, di balik semangat gerakan tersebut, muncul pertanyaan yang lebih besar. Apakah keterlibatan ayah akan berhenti di hari pertama sekolah, atau benar-benar menjadi kebiasaan dalam mendampingi proses pendidikan anak setiap hari?

Gerakan yang diinisiasi pemerintah pusat itu bertujuan mendorong para ayah agar tidak hanya menjadi pencari nafkah, tetapi juga hadir secara emosional dalam kehidupan anak, terutama pada fase-fase penting pendidikan.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Lanosin menegaskan bahwa mengantar anak ke sekolah bukan sekadar aktivitas seremonial.

“Kehadiran seorang ayah di hari pertama sekolah bukan hanya sekadar mengantar, tetapi juga memberikan semangat, rasa aman, dan dukungan bagi anak untuk memulai perjalanan menuntut ilmu. Pendidikan yang berkualitas dimulai dari perhatian dan keterlibatan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak,” ujar Bupati.

Menurutnya, perhatian orang tua menjadi fondasi penting dalam membangun karakter anak sejak dini.

Ia juga mengajak para ayah di Kabupaten OKU Timur agar tetap aktif mengikuti perkembangan pendidikan anak, bukan hanya pada momentum pembukaan tahun ajaran.

Baca juga  Nobar Final Piala Dunia Ramai, Kebersamaan Warga OKU Timur Jadi Sorotan

“Melalui gerakan ini, saya mengajak seluruh ayah di Kabupaten OKU Timur untuk terus hadir dalam setiap proses pendidikan anak-anaknya. Karena anak-anak yang tumbuh dengan kasih sayang, perhatian, dan pendampingan orang tua akan menjadi generasi yang tangguh, berkarakter, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045,” katanya.

Namun Fakta di Lapangan Menunjukkan…

Di sejumlah sekolah, kehadiran ayah saat mengantar anak masih belum menjadi pemandangan yang umum. Berdasarkan temuan di lapangan pada sejumlah momentum tahun ajaran baru sebelumnya, sebagian besar peserta didik masih datang bersama ibu, wali, atau kerabat lainnya.

Kondisi tersebut diduga dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari jam kerja yang bertepatan dengan waktu masuk sekolah, hingga masih kuatnya anggapan bahwa urusan pendidikan sehari-hari merupakan tanggung jawab ibu.

Di sisi lain, sejumlah orang tua mengaku sebenarnya ingin lebih terlibat dalam aktivitas pendidikan anak, namun keterbatasan waktu bekerja membuat mereka sulit mendampingi secara langsung.

Meski demikian, pemerhati pendidikan selama ini menilai bahwa keterlibatan ayah tidak selalu harus diwujudkan melalui kehadiran fisik di sekolah. Komunikasi rutin, pendampingan belajar di rumah, hingga perhatian terhadap perkembangan anak juga menjadi bagian penting dalam membangun hubungan emosional yang positif.

Tantangan Tidak Berhenti di Gerbang Sekolah

Gerakan seperti ini dinilai menjadi langkah awal membangun kesadaran bersama bahwa pendidikan bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah.

Namun tantangan berikutnya adalah memastikan pesan tersebut benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Hingga kini, belum semua keluarga memiliki kesempatan yang sama untuk mendampingi anak secara optimal. Faktor ekonomi, pola kerja, hingga minimnya waktu bersama keluarga masih menjadi tantangan yang dihadapi banyak orang tua.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah gerakan mengantar anak di hari pertama sekolah akan mampu mengubah pola pengasuhan dalam jangka panjang, atau hanya menjadi momentum simbolis setiap awal tahun ajaran?

Baca juga  Bupati OKU Timur Tekankan Disiplin Aparatur demi Mewujudkan Pelayanan Publik Berkualitas dan Profesional

Yang jelas, pendidikan karakter tidak hanya dibangun di ruang kelas. Perhatian, komunikasi, dan kehadiran orang tua di rumah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses tumbuh kembang anak.

Menutup kegiatan tersebut, Bupati OKU Timur menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh peserta didik yang memulai Tahun Pelajaran 2026/2027. Ia berharap seluruh siswa senantiasa diberi kesehatan, semangat belajar, serta kemudahan dalam meraih cita-cita.

Meski demikian, keberhasilan gerakan ini pada akhirnya akan diukur bukan dari banyaknya ayah yang hadir pada hari pertama sekolah, melainkan dari sejauh mana keterlibatan mereka terus berlangsung sepanjang perjalanan pendidikan anak. Hingga kini, hal itu masih menjadi perhatian sekaligus pekerjaan bersama. (Agus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here