
CIAMIS, cimutnews.co.id – Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Kabupaten Ciamis kembali menata organisasi setelah sekitar dua tahun mengalami kevakuman. Sebanyak 60 nama telah disusun untuk mengisi kepengurusan periode 2026–2031, dengan agenda pengukuhan dijadwalkan pada 19 Agustus 2026 di Islamic Centre Ciamis.
Kebangkitan organisasi tersebut disampaikan Ketua PD IPHI Kabupaten Ciamis Muhammad Syarif Hidayat saat bersilaturahmi dengan Bupati Ciamis Herdiat Sunarya di Sekretariat Daerah Kabupaten Ciamis, Senin (10/8/2026).
Langkah ini tidak sekadar menyangkut pergantian struktur organisasi. Setelah vakum, IPHI Ciamis kini menghadapi pekerjaan untuk mengembalikan fungsi organisasi sebagai ruang silaturahmi para alumni haji sekaligus wadah kegiatan sosial dan keagamaan di tengah masyarakat.
Kepengurusan Baru IPHI Ciamis Disusun untuk Periode 2026–2031
Muhammad Syarif Hidayat mengatakan pembentukan kepengurusan baru diawali melalui musyawarah pada 3 Agustus 2026.
“Tujuan kami adalah melaporkan terbentuknya Pengurus Daerah IPHI Kabupaten Ciamis. Beberapa hari yang lalu, tepatnya 3 Agustus, kami sudah melakukan musyawarah yang intinya perencanaan pembentukan kepengurusan PD IPHI Kabupaten Ciamis,” katanya.
Dari musyawarah tersebut, tersusun kepengurusan periode 2026–2031 yang berjumlah 60 orang. Namun, secara administratif struktur tersebut masih menunggu Surat Keputusan (SK) pengesahan dari kepengurusan IPHI tingkat Jawa Barat.
“Kepengurusan memang belum di-SK-kan oleh kepengurusan di tingkat Jawa Barat, namun kami sudah menyusun kepengurusan PD IPHI untuk periode 2026–2031 dengan total 60 orang,” ujar Muhammad Syarif.
Struktur tersebut juga akan melibatkan unsur pembina dari berbagai elemen, termasuk Bupati dan Wakil Bupati Ciamis, Ketua DPRD, unsur Kementerian Agama serta Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).
Komposisi itu menunjukkan bahwa IPHI tidak ditempatkan semata sebagai organisasi alumni haji. Ada ekspektasi agar organisasi dapat beririsan dengan agenda pembinaan keagamaan, kepedulian sosial, dan penguatan ukhuwah di tingkat daerah.
Sekretariat Jadi Salah Satu Kebutuhan Mendesak
Selain melaporkan kepengurusan baru, jajaran PD IPHI Ciamis juga menyampaikan kebutuhan sekretariat permanen.
Mereka mengusulkan Gedung Asrama Haji di Kompleks Islamic Centre Ciamis menjadi kantor sekretariat organisasi. Menurut Muhammad Syarif, keberadaan tempat yang representatif diperlukan agar aktivitas organisasi setelah pengukuhan dapat berjalan lebih terarah.
“Kami juga menyampaikan kepada Bapak Bupati, apabila mendapat izin, kami berharap Sekretariat PD IPHI Kabupaten Ciamis dapat bertempat di Gedung Asrama Haji, Kompleks Islamic Centre Ciamis,” katanya.
Bupati Ciamis Herdiat Sunarya merespons positif permohonan tersebut. Dukungan itu sekaligus menjadi sinyal bahwa pemerintah daerah melihat keberadaan organisasi alumni haji memiliki ruang untuk berkontribusi dalam kehidupan sosial-keagamaan masyarakat.
Herdiat juga menyampaikan ucapan selamat kepada jajaran pengurus yang telah diberi amanah meskipun proses pengukuhan dan pengesahan formal belum selesai.
“Saya ucapkan selamat mengemban amanah, tugas, sekalipun belum dikukuhkan. Tentu ini bukan pekerjaan yang mudah dalam mengelola haji di Kabupaten Ciamis,” tutur Herdiat.
Mengapa Kebangkitan IPHI Penting Setelah Vakum?
Kehadiran kembali IPHI memiliki relevansi yang lebih luas karena hubungan antara jemaah haji dan organisasi tidak berhenti setelah seseorang menyelesaikan rangkaian ibadah di Tanah Suci.
Kajian yang diterbitkan jurnal Kementerian Agama mengenai pembinaan pascaibadah haji menyebut pembinaan setelah kepulangan jemaah merupakan tantangan tersendiri. Kajian tersebut juga mencatat IPHI sebagai salah satu organisasi yang berperan dalam pembinaan pascahaji dan pemeliharaan semangat kemabruran di tengah masyarakat.
Dalam praktiknya, ruang tersebut dapat diterjemahkan ke dalam kegiatan pengajian, silaturahmi alumni haji, pendidikan keagamaan, kegiatan sosial, hingga pendampingan masyarakat.
Model sinergi semacam ini juga terlihat dalam hubungan IPHI dengan Kementerian Agama di sejumlah daerah. Kanwil Kemenag Sulawesi Selatan, misalnya, pada 2025 membahas penguatan kerja sama dengan IPHI dalam pembinaan jemaah sebelum, selama, dan setelah pelaksanaan ibadah haji.
Artinya, tantangan IPHI Ciamis setelah kembali aktif bukan sekadar memastikan struktur organisasi terbentuk. Tantangan berikutnya adalah mengubah struktur tersebut menjadi program yang benar-benar dirasakan manfaatnya.
Dua Tahun Vakum Menjadi Titik Evaluasi
Masa vakum sekitar dua tahun sekaligus menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali arah organisasi.
Dengan 60 orang pengurus yang telah disusun, organisasi memiliki modal sumber daya manusia. Namun, jumlah pengurus tidak otomatis menentukan keberhasilan. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa jelas program kerja, pembagian tugas, koordinasi dengan pemerintah daerah dan Kementerian Agama, serta keterlibatan para alumni haji di tingkat masyarakat.
Pada tahap awal, pengurus baru perlu memastikan proses administrasi organisasi berjalan tuntas, termasuk pengesahan dari tingkat Jawa Barat. Setelah itu, keberadaan sekretariat dapat menjadi pusat koordinasi berbagai kegiatan.
Jika dua hal tersebut berjalan beriringan, kebangkitan IPHI Ciamis berpeluang tidak berhenti pada seremoni pengukuhan.
Micro Insight: Tantangan Terbesar Justru Setelah Pengukuhan
Pengukuhan pada 19 Agustus 2026 akan menjadi titik awal, bukan akhir dari proses pembentukan kembali IPHI Ciamis.
Hal yang akan menentukan masa depan organisasi adalah kemampuan pengurus menerjemahkan semangat persaudaraan alumni haji menjadi kerja sosial yang konkret. Di sinilah keberadaan sekretariat, jaringan pengurus dan dukungan pemerintah daerah dapat menjadi instrumen penting.
Herdiat Sunarya sendiri meminta pengurus menjalankan amanah dengan penuh keikhlasan. Ia juga memberikan apresiasi kepada pengurus sebelumnya atas pengabdian dan dedikasi mereka.
“Untuk kepengurusan yang lama saya ucapkan banyak terima kasih atas pengabdian dan dedikasinya. Semoga dapat menjadi amal ibadah bagi kita semua,” ungkapnya.
Dukungan Bupati terhadap agenda pengukuhan juga telah disampaikan, meski Herdiat belum memastikan kehadirannya karena kemungkinan terdapat agenda pemerintahan lain.
Bagi Ciamis, aktifnya kembali IPHI dapat menjadi tambahan kekuatan dalam membangun ekosistem pembinaan umat. Namun, keberhasilan itu akan sangat bergantung pada konsistensi program setelah organisasi resmi dikukuhkan.
Dengan demikian, 19 Agustus mendatang bukan hanya tanggal pengukuhan kepengurusan periode 2026–2031. Momentum tersebut menjadi ujian awal apakah kebangkitan IPHI Ciamis mampu mengakhiri kevakuman sekaligus mengembalikan organisasi pada fungsi sosial, keagamaan, dan kemasyarakatan yang lebih nyata. (Holil)

















