Beranda Palembang Terungkap, Bukan Sekadar Walking Tour: Ada Sejarah Kemerdekaan di Balik Kantor Ledeng

Terungkap, Bukan Sekadar Walking Tour: Ada Sejarah Kemerdekaan di Balik Kantor Ledeng

5
0
Puluhan anggota komunitas Palembang Good Guide mengikuti kegiatan walking tour bertema “Merdeka atau Mati” menuju Kantor Ledeng Palembang, Minggu (30/8/2026). (Foto: Poerba/cimutnews.co.id)

 PALEMBANG, cimutnews.co.id — Sebanyak 81 anggota komunitas Palembang Good Guide mendatangi Kantor Ledeng, Kota Palembang, Minggu (30/8/2026). Kedatangan mereka bukan untuk menyampaikan aksi atau tuntutan, melainkan menelusuri kembali jejak sejarah sebuah bangunan yang selama ini menjadi bagian penting dari wajah pemerintahan Palembang.

Kegiatan tersebut dikemas dalam walking tour bertema “Merdeka atau Mati”. Rutenya dimulai dari titik nol Kota Palembang di kawasan Air Mancur, kemudian bergerak menuju Kantor Wali Kota Palembang atau yang dikenal sebagai Kantor Ledeng.

Namun, ada hal yang membuat perjalanan ini lebih dari sekadar aktivitas berjalan kaki.

Kantor Ledeng menyimpan cerita panjang tentang perkembangan Kota Palembang, termasuk fungsi awalnya sebagai bagian dari sistem penyediaan air bersih pada masa kolonial Belanda.

Bangunan tersebut dahulu digunakan sebagai menara air yang dilengkapi tandon atau reservoir berukuran besar di bagian atas. Sementara bagian bawah difungsikan sebagai kantor administrasi pengelolaan air.

Kini, fungsi bangunan itu telah berubah. Kantor Ledeng menjadi pusat Pemerintahan Kota Palembang.

Perubahan fungsi tersebut membuat bangunan ini berada pada persimpangan antara sejarah masa lalu dan aktivitas pemerintahan masa kini.

Napak Tilas yang Dikaitkan dengan Sejarah Kemerdekaan

Rombongan Palembang Good Guide disambut Asisten Bidang Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kota Palembang, Akhmad Bastari.

Dalam sambutannya, Bastari menilai kegiatan tersebut bukan hanya perjalanan menyusuri kawasan bersejarah, tetapi juga bagian dari upaya mengenalkan kembali sejarah Palembang kepada masyarakat.

“Kegiatan hari ini bukan sekadar berjalan kaki menyusuri rute dari Masjid Agung menuju Kantor Wali Kota Palembang atau yang kita kenal sebagai Kantor Ledeng. Lebih dari itu, langkah kaki kita hari ini adalah sebuah upaya napak tilas yang sarat makna,” ujarnya.

Baca juga  Piala Soeratin U-17 dan U-13 Zona Sumsel Siap Kick Off di Palembang, PSSI Tekankan Disiplin dan Sportivitas

Menurut Bastari, kegiatan itu juga berkaitan dengan momentum sejarah proklamasi kemerdekaan di Palembang yang disebut dikumandangkan pada 25 Agustus 1945 di Kantor Wali Kota.

Pemerintah Kota Palembang, lanjut dia, mengapresiasi konsistensi Palembang Good Guide dalam mengemas sejarah lokal melalui kegiatan edukatif.

Apresiasi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa situs bersejarah tidak selalu harus dikenalkan melalui ruang kelas atau buku.

Pengalaman datang langsung ke lokasi dapat menghadirkan cara berbeda bagi generasi muda untuk memahami bagaimana sebuah kota berkembang.

Fakta di Dalam Kantor Ledeng yang Menarik Perhatian

Setibanya di Kantor Ledeng, peserta tidak hanya melihat bangunan dari luar.

Salah satu bagian yang menarik perhatian berada di lantai bawah. Di area tersebut terdapat dua tangga kembar yang mengarah menuju lantai dua.

Deretan foto Wali Kota Palembang dari masa ke masa juga menjadi bagian yang dapat diamati peserta selama berada di dalam bangunan.

Bagi peserta, melihat langsung interior, bentuk arsitektur dan suasana bangunan memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan sekadar mengetahui sejarah melalui informasi tertulis.

Namun fakta di lapangan menunjukkan, sebuah bangunan bersejarah tidak hanya berbicara tentang usia atau bentuk arsitekturnya.

Ada cerita tentang perubahan fungsi, perjalanan pemerintahan, perkembangan kota hingga bagaimana generasi sekarang memahami peninggalan masa lalu.

Di sisi lain, pengalaman semacam ini juga memperlihatkan tantangan yang lebih besar: bagaimana sejarah tetap relevan ketika masyarakat modern semakin jauh dari cerita tentang masa lalu kotanya sendiri.

Sejarah Kota Tidak Cukup Hanya Dipajang

Kegiatan walking tour menjadi menarik karena membawa sejarah keluar dari narasi formal.

Peserta diajak melihat langsung tempat yang menjadi bagian dari perjalanan Palembang. Dengan demikian, sejarah tidak berhenti sebagai foto, arsip atau tulisan di buku.

Baca juga  Perda “Sapu Jagat” Siap Berlaku di 2026, Palembang Susun Aturan Ketertiban Umum Terpadu

Sejumlah peserta dapat merasakan langsung suasana bangunan yang memiliki karakter arsitektur masa kolonial tersebut.

Hal ini menimbulkan pertanyaan yang lebih luas mengenai keberadaan situs sejarah di kota-kota besar: apakah masyarakat sudah cukup mengenal cerita di balik bangunan yang mereka lewati setiap hari?

Pertanyaan itu penting karena keberadaan sebuah bangunan tua belum otomatis membuat sejarahnya tetap hidup.

Tanpa pengetahuan dan keterlibatan masyarakat, warisan sejarah berpotensi hanya menjadi latar sebuah kota, sementara cerita di baliknya perlahan kehilangan perhatian.

Generasi Muda dan Tantangan Merawat Warisan Kota

Bastari berharap kegiatan edukatif seperti ini dapat menumbuhkan rasa memiliki di kalangan generasi muda.

Menurut dia, mengenal sejarah merupakan bagian penting dalam membangun identitas masyarakat.

“Maka dari itu bagi generasi muda kita untuk mengenal akar identitas mereka, agar tumbuh rasa memiliki, kebanggaan, dan tanggung jawab untuk menjaga serta merawat warisan budaya dan sejarah kota kita,” katanya.

Harapan tersebut menjadi relevan karena pelestarian bangunan bersejarah tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik bangunan.

Ada persoalan yang lebih panjang, mulai dari pengetahuan publik, akses informasi, kegiatan edukasi hingga keterlibatan komunitas.

Palembang Good Guide melalui kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa komunitas masyarakat dapat mengambil peran dalam memperkenalkan kembali sejarah kota dengan pendekatan yang lebih dekat dengan publik.

Namun, sejauh mana kegiatan semacam ini dapat membuat lebih banyak warga mengenal sejarah Kantor Ledeng dan situs bersejarah lainnya di Palembang masih menjadi pertanyaan.

Hingga kini, perjalanan sebuah bangunan dari menara air pada masa kolonial menjadi pusat pemerintahan kota menyimpan cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar bentuk arsitekturnya.

Dan ketika 81 orang memilih berjalan kaki untuk menelusuri cerita itu, pertanyaan berikutnya adalah: berapa banyak warga Palembang yang sebenarnya mengetahui sejarah bangunan yang selama ini berdiri di tengah kotanya sendiri? (Poerba)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here