Beranda Nasional Wamenaker Dorong Generasi Muda Kuasai AI untuk Hadapi Perubahan Dunia Kerja

Wamenaker Dorong Generasi Muda Kuasai AI untuk Hadapi Perubahan Dunia Kerja

12
0
Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor saat memberikan kuliah umum di Universitas Batanghari, Jambi, Sabtu (12/9/2026), mendorong generasi muda memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas. (Foto: Timred/CN)

JAMBI, cimutnews.co.id — Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor mendorong generasi muda tidak melihat kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai ancaman, melainkan sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas dan memperkuat daya saing di dunia kerja.

Pesan itu disampaikan Afriansyah saat memberikan kuliah umum di Universitas Batanghari, Jambi, Sabtu (12/9/2026). Menurut dia, perubahan teknologi berlangsung jauh lebih cepat sehingga kemampuan beradaptasi kini menjadi bagian penting dari kompetensi tenaga kerja.

AI Mengubah Peta Kompetensi Tenaga Kerja

Afriansyah mengingatkan mahasiswa bahwa perubahan dunia kerja tidak lagi hanya berkaitan dengan penggunaan perangkat digital. AI dan otomatisasi mulai mengubah cara pekerjaan dilakukan, termasuk bagaimana seseorang menyelesaikan persoalan, mengolah informasi, menghasilkan produk, dan mengambil keputusan.

“Jangan takut pada AI, tapi jangan sampai tertinggal oleh AI. Jadikan teknologi sebagai alat pengganda produktivitas kalian,” kata Afriansyah.

Bagi generasi muda, persoalannya bukan sekadar mampu menggunakan aplikasi berbasis AI. Tantangan yang lebih besar adalah memiliki kemampuan untuk menggabungkan teknologi dengan kompetensi, kreativitas, karakter, komunikasi, serta kemampuan memecahkan masalah.

Dengan kata lain, teknologi dapat menjadi pengganda kemampuan, tetapi tidak otomatis menggantikan kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang kompeten.

Angka Pengangguran Turun, Tantangan Pemuda Tetap Besar

Dorongan untuk meningkatkan kompetensi tersebut datang ketika pasar kerja Indonesia menghadapi tantangan yang cukup kompleks.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah angkatan kerja Indonesia pada Februari 2026 mencapai 154,91 juta orang. Dari jumlah tersebut, penduduk yang bekerja mencapai 147,67 juta orang, sedangkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berada di level 4,68 persen.

Jika dibandingkan Februari 2025, TPT tersebut turun 0,08 persen poin. Namun, besarnya angkatan kerja menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap penciptaan pekerjaan dan peningkatan kualitas tenaga kerja tetap menjadi agenda penting.

Persoalan lain terlihat dari indikator youth NEET. BPS mencatat 19,44 persen penduduk usia 15–24 tahun pada 2025 berada dalam kategori tidak sekolah, tidak bekerja, dan tidak mengikuti pelatihan.

Baca juga  Kemnaker dan Pertamina Corporate University Bahas Kerja Sama Pelatihan HSE dan Operator SPBU di BBPVP/BPVP

Angka NEET tidak sama dengan tingkat pengangguran karena cakupannya berbeda. Namun, indikator tersebut penting untuk melihat berapa besar kelompok usia muda yang belum terhubung dengan pendidikan, pekerjaan, maupun pelatihan.

Kondisi inilah yang membuat penguatan kompetensi sejak bangku pendidikan menjadi semakin strategis.

Dari Pencari Kerja Menjadi Pencipta Kerja

Afriansyah juga mendorong perubahan pola pikir generasi muda. Mahasiswa tidak cukup dipersiapkan hanya untuk mencari pekerjaan setelah lulus, tetapi juga perlu memiliki kemampuan menciptakan pekerjaan.

Penguasaan teknologi, menurut dia, dapat menjadi salah satu modal untuk mewujudkan perubahan tersebut. AI dapat dimanfaatkan untuk membantu riset, mengembangkan produk, meningkatkan efisiensi usaha, memperluas pemasaran, hingga membuka model bisnis baru.

Namun, peluang tersebut tetap bergantung pada kemampuan manusia mengidentifikasi kebutuhan pasar. AI bukan tujuan akhir, melainkan instrumen untuk menghasilkan solusi yang memiliki nilai ekonomi maupun sosial.

Kompetensi Tidak Berhenti pada Ijazah

Afriansyah menekankan bahwa ijazah bukan satu-satunya ukuran kesiapan seseorang memasuki dunia kerja.

Kompetensi, karakter, kemauan belajar, kemampuan beradaptasi, dan pengalaman praktis semakin menentukan daya saing seseorang. Karena itu, hubungan antara perguruan tinggi dan industri menjadi penting agar pembelajaran tidak berhenti pada teori.

Kampus perlu memberikan ruang lebih besar bagi mahasiswa untuk mengenal persoalan nyata di dunia usaha dan industri. Pada saat yang sama, dunia industri membutuhkan lulusan yang bukan hanya memahami bidang akademiknya, tetapi juga mampu bekerja dalam lingkungan yang terus berubah.

Kemnaker Perkuat Jalur Pelatihan dan Pemagangan

Kebutuhan tersebut telah diikuti pemerintah melalui sejumlah program peningkatan kompetensi.

Kementerian Ketenagakerjaan menjalankan Program Pelatihan Vokasi Nasional (PVN), pemagangan nasional, serta penguatan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP).

Baca juga  Tamsil Linrung: Pembangunan IKN Harus Jadi Koreksi Arah Pembangunan Indonesia

Pada PVN Batch I 2026, misalnya, Kemnaker mencatat 10.405 peserta mengikuti pelatihan yang tersebar di berbagai satuan pelatihan. Program tersebut diarahkan agar keterampilan peserta lebih sesuai dengan kebutuhan industri.

Pada Batch II, pemerintah juga membuka kuota 30 ribu peserta dengan pelatihan yang disediakan secara gratis dan diarahkan untuk meningkatkan kompetensi kerja maupun kewirausahaan.

Sementara melalui Program Pemagangan Nasional, lulusan perguruan tinggi dapat memperoleh pengalaman kerja langsung, pengembangan kompetensi, serta kesempatan memperoleh sertifikasi sesuai ketentuan program.

Rangkaian program tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesiapan tenaga kerja tidak cukup dijawab dengan pendidikan formal. Pengalaman kerja dan pelatihan berbasis kebutuhan industri juga menjadi bagian penting dari transisi pemuda menuju pasar kerja.

Tantangan Berikutnya: Jangan Sampai AI Hanya Menjadi Alat Konsumsi

Ada satu persoalan yang perlu diperhatikan dari dorongan penguasaan AI. Kemampuan menggunakan AI untuk membuat konten atau mencari jawaban belum tentu identik dengan peningkatan kompetensi.

Generasi muda justru perlu didorong menggunakan teknologi untuk menghasilkan sesuatu yang sebelumnya sulit dilakukan: menyelesaikan persoalan, menciptakan produk, meningkatkan efisiensi usaha, atau membuka layanan baru.

Di titik inilah kualitas pendidikan dan pelatihan menjadi penting. Jika AI hanya digunakan sebagai alat konsumsi informasi, manfaat ekonominya akan terbatas. Sebaliknya, jika dipadukan dengan keterampilan teknis dan kemampuan memecahkan masalah, teknologi tersebut berpotensi memperluas produktivitas tenaga kerja.

Persoalannya Bukan AI Mengambil Pekerjaan, tetapi Siapa yang Siap Menggunakan AI

Pesan Wamenaker di Jambi sebenarnya menyentuh persoalan yang lebih luas daripada sekadar tren teknologi.

Ketika jumlah angkatan kerja mencapai 154,91 juta orang dan hampir seperlima pemuda berada dalam kategori NEET, tantangan Indonesia bukan hanya menciptakan pekerjaan sebanyak-banyaknya. Negara juga perlu memastikan tenaga kerja memiliki keterampilan yang relevan dengan pekerjaan yang sedang tumbuh.

Konteks tersebut sejalan dengan agenda pembangunan sumber daya manusia dalam RPJMN 2025–2029. Bappenas menempatkan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan penguatan daya saing sebagai bagian penting menghadapi perubahan teknologi, demografi, serta transformasi ekonomi.

Baca juga  Sejarah Baru Muhammadiyah: EMT Pertama di Indonesia yang Raih Verifikasi Internasional dari WHO

Artinya, persoalan AI pada akhirnya bukan hanya soal teknologi. Ini menyangkut kesiapan ekosistem pendidikan, pelatihan, industri, pemerintah, dan masyarakat dalam memastikan transformasi digital menghasilkan pekerjaan dan produktivitas, bukan memperlebar kesenjangan keterampilan.

Kampus dan Industri Perlu Bergerak Bersamaan

Afriansyah menilai perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menyiapkan generasi muda menghadapi perubahan tersebut. Pendidikan tinggi perlu memperkuat karakter, kompetensi, kemampuan adaptasi, dan kewirausahaan mahasiswa.

Hubungan kampus dengan industri juga perlu dibuat lebih konkret melalui magang, proyek bersama, sertifikasi, riset terapan, serta pembelajaran yang berangkat dari persoalan nyata.

Bagi pemerintah, tantangannya adalah memastikan berbagai program pelatihan tersebut benar-benar terhubung dengan kebutuhan pasar kerja. Bagi industri, keterlibatan dalam proses pendidikan menjadi investasi untuk memperoleh tenaga kerja yang lebih siap.

Sementara bagi generasi muda, kesempatan yang tersedia perlu diikuti kemauan untuk terus belajar.

Pada akhirnya, perubahan teknologi tidak dapat dihentikan. Yang dapat dipersiapkan adalah manusianya.

Dorongan Wamenaker agar generasi muda tidak takut terhadap AI karena itu harus dibaca sebagai ajakan untuk beradaptasi lebih cepat. Di tengah perubahan struktur pekerjaan, mereka yang mampu memadukan kompetensi manusia dengan kemampuan teknologi akan memiliki peluang lebih besar untuk menjadi bukan hanya pencari kerja, tetapi juga pencipta pekerjaan. (Timred/CN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here