Beranda Nusantara Kemendikdasmen Perkuat Pendidikan Pancasila, Abdul Mu’ti Dorong Budaya Sekolah dan Pembelajaran Mendalam

Kemendikdasmen Perkuat Pendidikan Pancasila, Abdul Mu’ti Dorong Budaya Sekolah dan Pembelajaran Mendalam

7
0
1. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyampaikan pentingnya penguatan pendidikan Pancasila melalui pembelajaran mendalam dan budaya sekolah dalam seminar lokakarya akademik di Bandung, Jawa Barat, Selasa (29/9/2026).(Foto: Siti/cimutnews)

BANDUNG, cimutnews.co.id – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkuat pendidikan Pancasila melalui pembelajaran mendalam (deep learning), budaya sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, serta pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Langkah ini diarahkan untuk membentuk peserta didik yang tidak hanya memahami Pancasila secara teori, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilainya dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyampaikan hal tersebut dalam Seminar Lokakarya Akademik bertema “Pancasila Sebagai Falsafah dan Dasar Negara: Penguatan Pendidikan Pancasila dalam Sistem Pendidikan Nasional” di Bandung, Jawa Barat, Selasa (29/9/2026). Ia menekankan pentingnya menjadikan sekolah sebagai lingkungan yang menanamkan nilai kebangsaan melalui pembelajaran, keteladanan, dan pengalaman nyata.

Pendidikan Pancasila Tak Cukup Berhenti di Ruang Kelas

Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa pendidikan Pancasila harus dikembangkan secara menyeluruh melalui tiga aspek utama, yakni pengetahuan tentang Pancasila, pengamalan nilai-nilainya dalam kehidupan nyata, serta internalisasi Pancasila sebagai bagian dari kepribadian bangsa Indonesia.

Menurutnya, penguatan pendidikan Pancasila tidak cukup hanya mengandalkan penyampaian materi dalam pembelajaran formal. Sekolah perlu menghadirkan suasana pendidikan yang memungkinkan peserta didik memahami, menghayati, sekaligus membiasakan nilai-nilai Pancasila dalam berbagai aktivitas.

“Kiita ingin perkuat lagi hidden curriculum. Jadi, kami sekarang ada kebijakan deep learning, pembelajaran mendalam yang kita berusaha untuk bagaimana konteks dan implementasi dari mata pelajaran itu menjadi lebih kuat lagi,” ujar Abdul Mu’ti.

Pendekatan tersebut menempatkan pengalaman belajar sebagai bagian penting dari pembentukan karakter. Interaksi antara guru dan murid, hubungan antarpeserta didik, serta kebiasaan yang berkembang di lingkungan sekolah menjadi sarana untuk menanamkan nilai gotong royong, toleransi, tanggung jawab, dan persatuan.

Budaya Sekolah Menjadi Sarana Pengamalan Pancasila

Penguatan pendidikan Pancasila juga diarahkan melalui optimalisasi hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi, yakni nilai dan kebiasaan yang terbentuk melalui lingkungan, interaksi, serta budaya sekolah di luar materi pelajaran formal.

Baca juga  Beraksi di 11 TKP, Residivis Curanmor Lintas Wilayah Akhirnya Tertangkap

Dalam penerapannya, sekolah diharapkan menjadi ruang pembelajaran sosial yang mendorong peserta didik menghargai perbedaan, membangun kerja sama, menghormati guru, serta mengembangkan kepedulian terhadap sesama.

Pendekatan ini juga menuntut keteladanan dari tenaga pendidik dan seluruh warga sekolah. Nilai-nilai Pancasila akan lebih mudah dipahami apabila peserta didik menyaksikan penerapannya secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar menghafal sila-sila Pancasila.

Dengan demikian, pendidikan karakter tidak hanya menjadi tanggung jawab guru mata pelajaran tertentu, tetapi juga bagian dari budaya dan tata kehidupan seluruh lingkungan pendidikan.

Ekstrakurikuler dan Pramuka Diperkuat untuk Membentuk Karakter

Selain pembelajaran di kelas, Kemendikdasmen mendorong perluasan pilihan kegiatan ekstrakurikuler agar peserta didik memiliki kesempatan mengembangkan keterampilan, bakat, dan kemampuan di luar kurikulum formal.

Abdul Mu’ti menyebut Pramuka sebagai salah satu sarana penguatan karakter dan nasionalisme. Berbagai kegiatan ekstrakurikuler lainnya juga diharapkan dapat memberikan pengalaman kolaborasi, kedisiplinan, kepemimpinan, serta tanggung jawab.

“Kami punya prinsip bahwa pilihan ekstrakurikuler itu perlu kita perbanyak bagi para murid dapat memiliki keterampilan, memiliki kemampuan di luar mata pelajaran yang diajarkan di pelajaran formal,” katanya.

Kegiatan tersebut memiliki peran dalam memperluas pengalaman sosial peserta didik. Melalui aktivitas kelompok, siswa dapat belajar menghargai perbedaan kemampuan, menyelesaikan persoalan bersama, serta membangun rasa tanggung jawab terhadap lingkungan.

Ikrar Pelajar Indonesia dan Pembiasaan Nasionalisme

Kemendikdasmen juga memperkuat pelaksanaan upacara bendera dan kegiatan peringatan hari besar nasional sebagai bagian dari pembentukan karakter kebangsaan.

Dalam kegiatan tersebut, peserta didik diajak menghayati Ikrar Pelajar Indonesia yang memuat nilai keimanan dan ketakwaan, penghormatan kepada orang tua dan guru, kesungguhan dalam belajar, kerukunan dengan teman, serta kecintaan terhadap tanah air.

Baca juga  Pemkab Banyuasin Matangkan Kerja Sama Penguatan Layanan Air Bersih, Tinjau Instalasi Pengolahan di Bekasi

Penguatan ikrar tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya perlu diterapkan melalui perilaku sehari-hari, termasuk menjaga kerukunan, menghormati keberagaman, menaati aturan, serta berkontribusi positif bagi masyarakat.

Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pengalaman langsung dalam lingkungan pendidikan yang mengamalkan nilai-nilai Pancasila menjadi salah satu kunci pembentukan sikap kebangsaan.

“Sikap-sikap seperti ini akan bisa ditumbuhkan kalau murid memiliki banyak pengalaman dalam lembaga pendidikan yang banyak mengamalkan nilai-nilai Pancasila,” ujarnya.

Tantangan Penerapan Pendidikan Pancasila di Sekolah

Penguatan pendidikan Pancasila menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan belajar yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga perkembangan karakter peserta didik. Namun, efektivitas pendekatan ini akan sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaan di sekolah, kesiapan guru, serta dukungan keluarga dan masyarakat.

Dalam praktiknya, tantangan yang perlu diperhatikan adalah memastikan nilai-nilai kebangsaan benar-benar diterapkan dalam interaksi sehari-hari. Pendidikan toleransi, misalnya, perlu tercermin dalam cara siswa menghargai perbedaan latar belakang, menyelesaikan konflik, dan bekerja sama dengan teman.

Dari sisi implementasi, pendekatan deep learning dan hidden curriculum membuka peluang bagi sekolah untuk menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman konkret. Meski demikian, keberhasilannya memerlukan pendampingan guru, kegiatan yang terencana, serta evaluasi yang tidak semata-mata mengukur hafalan, tetapi juga perkembangan sikap dan perilaku.

Kolaborasi Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat

Pendidikan karakter tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada sekolah. Keluarga memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan menghormati orang lain, bertanggung jawab, disiplin, dan peduli terhadap lingkungan sejak dini.

Karena itu, penguatan pendidikan Pancasila memerlukan kesinambungan antara pembelajaran di sekolah dan pola pengasuhan di rumah. Dukungan masyarakat juga dibutuhkan agar peserta didik memperoleh ruang untuk mempraktikkan nilai gotong royong, kepedulian sosial, dan penghargaan terhadap keberagaman.

Baca juga  Cegah Konflik Horizontal FABEM Maluku Apresiasi Kinerja Kapolda dan Pangdam XV Pattimura

Perspektif CimutNews

Salah satu aspek penting dari kebijakan ini adalah pergeseran pendidikan Pancasila dari sekadar materi hafalan menjadi pengalaman nyata. Ukuran keberhasilannya bukan hanya pemahaman siswa terhadap lima sila, melainkan juga bagaimana nilai tersebut tercermin dalam perilaku, budaya sekolah, dan kehidupan sosial.

Pendidikan Karakter sebagai Bekal Generasi Mendatang

Penguatan pendidikan Pancasila melalui pembelajaran mendalam, budaya sekolah, ekstrakurikuler, dan pembiasaan merupakan upaya membangun karakter generasi muda secara berkelanjutan. Dalam jangka pendek, pendekatan ini diharapkan mendorong terciptanya lingkungan belajar yang lebih inklusif, tertib, dan kolaboratif.

Dalam jangka panjang, pembentukan karakter kebangsaan diharapkan dapat memperkuat sikap toleransi, persatuan, dan tanggung jawab sosial generasi penerus. Namun, dampak tersebut perlu didukung pelaksanaan yang konsisten dan evaluasi berkala agar kebijakan tidak berhenti pada kegiatan seremonial.

Keterangan yang disampaikan Kemendikdasmen dalam seminar tersebut belum memuat data kuantitatif mengenai tingkat keberhasilan penerapan program maupun perbandingan hasil antarsekolah. Oleh sebab itu, perkembangan implementasi dan dampaknya terhadap perilaku peserta didik masih perlu dipantau melalui evaluasi pendidikan yang terukur.

Melalui sinergi pemerintah, sekolah, guru, keluarga, dan masyarakat, Kemendikdasmen berharap pendidikan Pancasila semakin bermakna serta mampu membentuk generasi yang berkarakter, menghargai keberagaman, mencintai tanah air, dan siap berkontribusi bagi kemajuan Indonesia. (Siti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here