Beranda Palembang Delapan Kelurahan di Palembang Jadi Pilot Project Ruang Bersama Indonesia, Ratu Dewa...

Delapan Kelurahan di Palembang Jadi Pilot Project Ruang Bersama Indonesia, Ratu Dewa Targetkan 107 Kelurahan

3
0
Wali Kota Palembang Ratu Dewa saat meluncurkan program Ruang Bersama Indonesia di Kelurahan Plaju, Rabu (30/9/2026), yang menetapkan delapan kelurahan sebagai lokasi percontohan pemberdayaan masyarakat.(Foto:Poerba/cimutnews)

PALEMBANG, cimutnews.co.id – Pemerintah Kota Palembang menetapkan delapan kelurahan sebagai proyek percontohan atau pilot project Ruang Bersama Indonesia (RBI), sebuah program pemberdayaan masyarakat yang diarahkan untuk menciptakan lingkungan inklusif, aman, produktif, dan ramah bagi seluruh warga.

Peluncuran program tersebut dilakukan Wali Kota Palembang Ratu Dewa di Kelurahan Plaju, Rabu (30/9/2026). Selain mendorong optimalisasi delapan lokasi percontohan, Ratu Dewa menargetkan pengembangan RBI di seluruh 18 kecamatan dan 107 kelurahan di Kota Palembang.

Program ini diharapkan tidak berhenti pada seremoni peluncuran, tetapi berkembang menjadi pusat aktivitas masyarakat yang memperkuat perlindungan kelompok rentan, ketahanan keluarga, serta partisipasi warga dalam pembangunan di tingkat lokal.

Delapan Kelurahan di Palembang Menjadi Lokasi Percontohan RBI

Delapan kelurahan yang ditetapkan sebagai lokasi awal Ruang Bersama Indonesia meliputi:

  1. Kelurahan Plaju Ulu.
  2. Kelurahan Lorok Pakjo.
  3. Kelurahan 3-4 Ulu.
  4. Kelurahan Sungai Selayur.
  5. Kelurahan Talang Jambe.
  6. Kelurahan Srijaya.
  7. Kelurahan Talang Aman.
  8. Kelurahan Ario Kemuning.

Penetapan tersebut menjadi langkah awal Pemerintah Kota Palembang dalam memperluas ruang partisipasi masyarakat. Melalui RBI, pemerintah ingin menghadirkan wadah yang dapat dimanfaatkan warga untuk menjalankan kegiatan sosial, pendidikan, pemberdayaan, serta penguatan hubungan antarwarga.

Wali Kota Palembang Ratu Dewa menegaskan, keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah lokasi yang diresmikan. Menurutnya, setiap kelurahan yang menjadi percontohan harus mampu menghidupkan kegiatan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

“Saya mengharapkan sekali dengan terpilihnya delapan kelurahan ini sebagai pilot project, Ruang Bersama Indonesia bukan sebatas hanya dilaunching saja,” tegas Ratu Dewa.

Pemberdayaan Perempuan, Lansia, dan Anak Menjadi Prioritas

RBI diarahkan menjadi ruang inklusif

Salah satu fokus utama program ini adalah pemberdayaan kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus, terutama perempuan, lanjut usia (lansia), dan anak-anak.

Baca juga  90 PPK di Palembang Disumpah, Fitri: KPU Jalankan Tugasnya Tanpa Ada Campur Tangan Pemkot

Ratu Dewa meminta agar pengelolaan RBI mengutamakan kegiatan yang memberikan kesempatan bagi perempuan untuk mengembangkan potensi dan kepemimpinan, sekaligus menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak serta meningkatkan perhatian terhadap kebutuhan lansia.

“Di dalam RBI ini harus ada optimalisasi kerja karena di sana ada kaum perempuan, lansia, anak-anak, hal ini menjadi pemberdayaan yang harus diutamakan. Selain delapan kelurahan yang menjadi sampel, saya juga akan minta di 18 kecamatan dan 107 kelurahan harus ada,” ujarnya.

Pendekatan tersebut menempatkan RBI bukan sekadar fasilitas fisik, melainkan ruang sosial yang menghubungkan berbagai kelompok masyarakat. Kegiatan yang dirancang di dalamnya diharapkan mampu membuka akses partisipasi, memperkuat solidaritas, dan mendorong warga agar lebih aktif dalam menyelesaikan persoalan lingkungan.

Memperkuat ketahanan keluarga dan partisipasi warga

Menurut Ratu Dewa, RBI juga memiliki peran strategis dalam membangun lingkungan ramah anak, memperkuat ketahanan keluarga, serta mendorong penyelesaian persoalan masyarakat melalui kerja sama.

Ia menginginkan setiap warga merasa diterima, dihargai, didengar, dan memiliki kesempatan yang setara untuk berkontribusi. Dengan demikian, ruang tersebut diharapkan menjadi wadah interaksi yang mempertemukan kebutuhan masyarakat dengan program pemberdayaan pemerintah.

Camat dan Lurah Diminta Integrasikan Program

Dalam pelaksanaannya, Ratu Dewa menekankan pentingnya keterlibatan aparatur pemerintahan di tingkat kecamatan dan kelurahan. Camat dan lurah diminta mengintegrasikan RBI dengan berbagai program pemberdayaan masyarakat yang telah berjalan agar kegiatan tidak tumpang tindih dan pemanfaatannya lebih optimal.

Ruang Bersama Indonesia diharapkan menjadi pusat kegiatan yang aktif, inovatif, serta memberikan manfaat nyata. Pemerintah juga mengajak masyarakat di delapan kelurahan percontohan untuk bersama-sama menjaga, merawat, dan menghidupkan fasilitas maupun aktivitas yang tersedia.

Keterlibatan masyarakat menjadi unsur penting karena keberlanjutan program tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada kesediaan warga untuk berpartisipasi dan memanfaatkan ruang tersebut.

Baca juga  Zafa Tour Hadirkan Promo “Muharram Cashback” Umroh: Potongan Vaksin Hingga Rp500 Ribu, Berlaku 3–6 Juli 2025

Ratu Dewa menyampaikan apresiasi kepada masyarakat atas dukungan dan kepercayaan terhadap program tersebut. Ia berharap delapan kelurahan percontohan dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lain di Palembang.

Tantangan Implementasi RBI di 107 Kelurahan

Keberlanjutan program menjadi ukuran keberhasilan

Perluasan RBI ke seluruh 107 kelurahan akan membutuhkan koordinasi lintas sektor, kesiapan pengelola, serta dukungan masyarakat. Tantangan utamanya adalah memastikan setiap ruang memiliki kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan warga, bukan sekadar tersedia secara fisik.

Dalam jangka pendek, delapan kelurahan percontohan dapat menjadi tempat untuk menguji pola pengelolaan, jenis kegiatan, dan bentuk kolaborasi antara pemerintah dengan masyarakat. Hasil pelaksanaan di lokasi awal tersebut berpotensi menjadi bahan evaluasi sebelum program diperluas ke wilayah lainnya.

Penguatan program memerlukan evaluasi terukur

Dalam jangka panjang, keberhasilan RBI dapat dilihat dari konsistensi kegiatan, keterlibatan kelompok rentan, serta manfaat yang dirasakan masyarakat. Pemerintah kota juga perlu memperhatikan ketersediaan fasilitas, pendampingan, dan mekanisme evaluasi agar program dapat berjalan secara berkesinambungan.

Dari sisi kebijakan pembangunan daerah, pendekatan berbasis kelurahan ini membuka peluang bagi masyarakat untuk terlibat lebih aktif dalam merumuskan dan menjalankan kegiatan sosial. Namun, efektivitasnya tetap perlu dibuktikan melalui pelaksanaan dan evaluasi di lapangan.

Insight: Tantangan terbesar RBI bukan hanya memperluas jumlah lokasi, melainkan memastikan setiap kelurahan memiliki kegiatan yang hidup dan benar-benar dibutuhkan warganya. Delapan kelurahan percontohan dapat menjadi tolok ukur awal untuk mengidentifikasi model pemberdayaan yang dapat diterapkan secara lebih luas.

Sebagai catatan, data pembanding mengenai jumlah RBI yang telah beroperasi di daerah lain, anggaran program, serta capaian pemberdayaan sebelumnya belum tercantum dalam bahan informasi. Karena itu, evaluasi keberhasilan program secara kuantitatif masih memerlukan data resmi tambahan.

Baca juga  Pelatihan Antikorupsi Dibuka, Tapi Mampukah Menjawab Tantangan Lama?

Ratu Dewa Harapkan RBI Menjadi Inspirasi Kelurahan Lain

Ratu Dewa mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga semangat kebersamaan dalam menjalankan program tersebut. Ia berharap keberadaan RBI dapat memperkuat hubungan antara pemerintah dan warga sekaligus mendorong lahirnya kegiatan pemberdayaan yang berkelanjutan.

“Saya berharap delapan kelurahan ini dapat menjadi contoh dan inspirasi bagi kelurahan-kelurahan lainnya di Kota Palembang,” tutupnya.

Dengan dimulainya program di delapan kelurahan, Pemerintah Kota Palembang memiliki kesempatan untuk membangun model pemberdayaan masyarakat yang lebih terarah. Keberhasilan tahap percontohan akan sangat ditentukan oleh konsistensi pelaksanaan, keterlibatan warga, dan evaluasi manfaat sebelum RBI diperluas ke seluruh wilayah kota. (Poerba)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here