Beranda Pagar Alam KTNA Pagar Alam Dikukuhkan 2026–2031, Pemkot Serahkan 2,5 Hektare Lahan Bawang Putih

KTNA Pagar Alam Dikukuhkan 2026–2031, Pemkot Serahkan 2,5 Hektare Lahan Bawang Putih

3
0
Wali Kota Pagar Alam H. Ludi Oliansyah bersama Wakil Wali Kota Hj. Bertha saat mengukuhkan Pengurus KTNA Kota Pagar Alam periode 2026–2031 di lahan pertanian Dinas Pertanian Kota Pagar Alam, Rabu (30/9/2026).(Foto: Hafis/cimutnews)

PAGAR ALAM, cimutnews.co.id – Wali Kota Pagar Alam H. Ludi Oliansyah bersama Wakil Wali Kota Hj. Bertha mengukuhkan Pengurus Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Pagar Alam periode 2026–2031 di lahan pertanian Dinas Pertanian Kota Pagar Alam, Rabu (30/9/2026). Pengukuhan ini menandai penguatan kemitraan pemerintah dan organisasi petani, sekaligus membuka peluang pengembangan pertanian melalui pengelolaan lahan bawang putih seluas 2,5 hektare.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Pagar Alam mengoptimalkan aset daerah agar lebih produktif, memperkuat kemandirian organisasi petani, serta mendukung ketahanan pangan melalui pengembangan komoditas pertanian lokal.

KTNA Pagar Alam Perkuat Kemitraan Pemerintah dan Petani

Pengukuhan pengurus KTNA dihadiri Wakil Ketua KTNA Provinsi Sumatera Selatan M. Ardiansyah, Sekretaris KTNA Sumsel sekaligus anggota DPRD Provinsi Sumsel Abusari, Sekda Kota Pagar Alam, perwakilan Polres Pagar Alam, seluruh kepala organisasi perangkat daerah (OPD), serta sejumlah pengurus KTNA dari Palembang, Muara Enim dan wilayah Kota Pagar Alam.

Kehadiran unsur pemerintah daerah, legislatif, kepolisian dan organisasi petani menunjukkan luasnya pemangku kepentingan yang terlibat dalam pengembangan sektor pertanian. Forum tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi antara petani dan pemerintah dalam menghadapi tantangan produksi serta peningkatan kesejahteraan masyarakat tani.

Ketua KTNA Kota Pagar Alam, Sidarhan, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terbentuknya kepengurusan periode baru. Ia mengucapkan terima kasih kepada pengurus KTNA tingkat provinsi, Pemerintah Kota Pagar Alam dan seluruh anggota organisasi atas dukungan yang diberikan.

Dukungan tersebut diharapkan menjadi modal bagi kepengurusan baru untuk menjalankan program kerja yang berorientasi pada kebutuhan petani, pengembangan usaha pertanian dan peningkatan kapasitas organisasi.

KTNA Dapat Mengelola 2,5 Hektare Lahan Bawang Putih

Dukungan Pemkot untuk kemandirian organisasi petani

Sekretaris KTNA Provinsi Sumatera Selatan, Abusari, menekankan pentingnya posisi KTNA sebagai organisasi kemitraan yang dibina pemerintah untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sektor pertanian.

Baca juga  Terungkap, 87 Lulusan IAI Pagar Alam Kini Dihadapkan Pertanyaan Besar

Ia juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Kota Pagar Alam yang dinilai memberikan ruang bagi organisasi petani untuk mengembangkan kegiatan produktif secara mandiri.

“Dari 17 kabupaten/kota di Sumsel, baru di Pagar Alam ini pemerintah secara langsung menyerahkan pengelolaan lahan seluas 2,5 hektare yang ditanami bawang putih untuk dikelola oleh KTNA. Ini komitmen nyata agar organisasi bisa berdiri mandiri,” ungkapnya.

Penyerahan pengelolaan lahan tersebut menjadi salah satu poin penting dalam pengukuhan kepengurusan KTNA periode 2026–2031. Selain membuka kesempatan bagi organisasi untuk mengembangkan kegiatan pertanian, pemanfaatan lahan juga berpotensi menjadi sarana pembelajaran bagi anggota dalam mengelola usaha tani secara lebih terstruktur.

Namun, keberhasilan pengelolaan lahan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan tanah. Produktivitas tanaman, kualitas benih, teknik budidaya, ketersediaan sarana produksi, pengendalian organisme pengganggu tanaman serta akses pemasaran turut menentukan keberlanjutan usaha pertanian tersebut.

Optimalisasi Aset Daerah Masuk Agenda Pagar Alam Terang Benderang

Bukan sekadar penerangan, tetapi juga produktivitas aset

Wali Kota Pagar Alam H. Ludi Oliansyah menjelaskan bahwa penataan dan pemanfaatan aset daerah, termasuk kebun dan lahan pertanian milik Dinas Pertanian, merupakan bagian dari komitmen program “Pagar Alam Terang Benderang”.

Menurut dia, konsep tersebut tidak hanya berkaitan dengan penerangan jalan, tetapi juga mencakup kejelasan pengelolaan dan optimalisasi aset daerah yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara maksimal.

“Terang benderang bukan sekadar lampu jalan, melainkan kejelasan dan optimalisasi aset-aset daerah yang selama ini belum tertata. Lahan dan sarana yang sebelumnya tidak terpakai kini kita fungsikan secara produktif,” tegasnya.

Kebijakan pemanfaatan aset pertanian ini memperlihatkan pendekatan pemerintah daerah dalam menghubungkan pengelolaan barang milik daerah dengan kegiatan ekonomi produktif. Melalui kemitraan dengan KTNA, lahan yang sebelumnya belum optimal diharapkan dapat memberikan manfaat langsung bagi pengembangan pertanian.

Meski demikian, pengelolaan aset daerah tetap memerlukan kejelasan tanggung jawab, mekanisme pemanfaatan, pemeliharaan fasilitas, pencatatan hasil produksi dan evaluasi berkala. Aspek tersebut penting agar pemanfaatan lahan berlangsung berkelanjutan serta memberikan manfaat yang terukur bagi organisasi dan masyarakat.

Baca juga  Kunjungan ARSADA ke RSD Besemah Soroti Kondisi dan Kebutuhan Pelayanan Kesehatan Pagar Alam

Uji Coba Bawang Putih Jadi Bagian dari Ketahanan Pangan

Dalam arahannya, Ludi Oliansyah juga memaparkan keberhasilan uji coba penanaman bawang putih di Pagar Alam. Pengembangan komoditas ini disebut sebagai bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap program ketahanan pangan dan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

Pengembangan bawang putih memiliki arti strategis karena komoditas tersebut merupakan salah satu kebutuhan pangan rumah tangga. Upaya meningkatkan produksi lokal dapat menjadi bagian dari diversifikasi pertanian, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi petani apabila didukung produktivitas dan rantai pemasaran yang memadai.

Meski demikian, hasil uji coba penanaman perlu ditindaklanjuti dengan data konkret mengenai luas tanam, produktivitas per hektare, biaya produksi, kualitas hasil panen dan potensi pasar. Data tersebut diperlukan untuk menilai kelayakan pengembangan dalam skala lebih luas, bukan hanya berdasarkan keberhasilan tahap awal.

Tantangan KTNA dalam Mewujudkan Kemandirian Petani

Pengukuhan pengurus KTNA periode 2026–2031 membawa tanggung jawab untuk menerjemahkan dukungan pemerintah menjadi program yang memberikan manfaat nyata bagi anggota. Organisasi diharapkan tidak hanya menjadi wadah koordinasi, tetapi juga berperan dalam memperkuat kapasitas petani, pertukaran pengetahuan, pengembangan usaha dan akses terhadap informasi pertanian.

Dari sisi ekonomi, pengelolaan lahan bawang putih seluas 2,5 hektare dapat menjadi proyek percontohan bagi KTNA. Apabila dikelola dengan perencanaan yang matang, kegiatan ini berpotensi menghasilkan pengalaman budidaya, pembelajaran manajemen usaha tani dan model kemitraan yang dapat dikembangkan untuk komoditas lainnya.

Pentingnya evaluasi dan keberlanjutan

Dalam konteks ketahanan pangan nasional, pengembangan produksi daerah perlu memperhatikan kesesuaian lahan, iklim, ketersediaan benih bermutu, teknologi budidaya dan kepastian penyerapan hasil panen. Tanpa dukungan aspek tersebut, peningkatan luas tanam belum tentu berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan petani.

Baca juga  FPK Pagar Alam 2026 Bahas Toleransi, Pelestarian Budaya dan Deteksi Dini Konflik

Sebagai pembanding, penilaian keberhasilan program pertanian tidak cukup hanya melihat luas lahan yang dikelola atau jumlah kelompok yang terlibat. Indikator seperti hasil panen, efisiensi biaya, peningkatan pendapatan petani dan keberlanjutan produksi juga perlu diperhitungkan. Data pembanding produktivitas bawang putih Pagar Alam dengan daerah lain belum disampaikan dalam keterangan kegiatan ini sehingga belum dapat ditarik kesimpulan mengenai keunggulan hasil budidayanya.

Momentum Penguatan Pertanian Pagar Alam

Pengukuhan KTNA dan dukungan pengelolaan lahan bawang putih menjadi momentum bagi Pemerintah Kota Pagar Alam untuk memperkuat kolaborasi dengan organisasi petani. Sinergi tersebut dapat diarahkan pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pemanfaatan aset daerah dan pengembangan komoditas yang sesuai dengan potensi wilayah.

Dalam jangka pendek, perhatian utama adalah memastikan pengurus baru mampu menyusun program kerja dan mengelola lahan secara produktif. Sementara dalam jangka panjang, keberhasilan program dapat diukur melalui peningkatan kesejahteraan anggota, keberlanjutan usaha tani dan kontribusi terhadap ketersediaan pangan daerah.

Dengan dukungan pemerintah dan keterlibatan aktif petani, pengelolaan lahan bawang putih di Pagar Alam berpeluang menjadi model kemitraan pertanian daerah. Keberhasilannya akan sangat bergantung pada transparansi pengelolaan, pendampingan teknis dan evaluasi hasil secara berkala.

Pengukuhan KTNA Pagar Alam periode 2026–2031 bukan sekadar pergantian kepengurusan, melainkan kesempatan memperkuat peran organisasi petani sebagai mitra pembangunan. Tantangan berikutnya adalah memastikan dukungan berupa lahan dan fasilitas benar-benar menghasilkan peningkatan produktivitas, kemandirian organisasi dan kesejahteraan masyarakat tani. (Hafis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here