
OKI, cimutnews.co.id — Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) mencatat lonjakan prestasi pada ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) XXXI Tingkat Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2026. Dalam satu kali penyelenggaraan, posisi Kabupaten OKI berhasil naik empat tingkat, dari peringkat kedelapan menjadi peringkat keempat dari 17 kabupaten/kota se-Sumatera Selatan.
Capaian tersebut diumumkan pada malam penutupan MTQ XXXI di Kabupaten Lahat, Senin (29/6). Bagi dunia pembinaan Al-Qur’an di OKI, hasil ini menjadi sinyal bahwa upaya yang selama ini dilakukan mulai menunjukkan hasil nyata.
Namun, di balik raihan tersebut, muncul pertanyaan yang tak kalah penting. Apakah prestasi ini menjadi awal lahirnya tradisi juara yang berkelanjutan, atau hanya momentum sesaat yang sulit dipertahankan pada penyelenggaraan berikutnya?
Berdasarkan hasil penilaian dewan hakim, kafilah Kabupaten OKI mampu bersaing pada berbagai cabang perlombaan. Prestasi diraih pada cabang kaligrafi, fahmil Quran, syarhil Quran, murattal, tafsir bahasa Inggris, tahfiz 20 juz, tilawah anak, tilawah remaja, hingga tilawah tunanetra.
Keberhasilan tersebut sekaligus mengangkat posisi Kabupaten OKI ke jajaran empat besar, sebuah pencapaian yang dalam beberapa tahun terakhir belum berhasil diraih.
Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Kabupaten OKI, Dani Oktavian, mengatakan peningkatan prestasi itu merupakan hasil dari pembinaan yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan sebelum pelaksanaan MTQ tingkat provinsi.
Menurutnya, seluruh peserta dipersiapkan melalui tahapan latihan yang lebih sistematis dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Mereka telah menunjukkan kemampuan terbaiknya di berbagai cabang lomba. Pemerintah Kabupaten OKI akan terus memberikan dukungan dan pembinaan agar para kafilah mampu meraih prestasi yang lebih tinggi, termasuk pada ajang MTQ tingkat nasional,” ujar Dani.
Pada MTQ XXXI ini, Pemerintah Kabupaten OKI mengirimkan sebanyak 55 orang yang terdiri atas peserta, pelatih, pendamping, serta tim pendukung untuk mengikuti seluruh cabang yang diperlombakan.
Pembinaan tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Bupati OKI H. Muchendi Mahzareki yang sebelumnya menginstruksikan agar proses pembinaan dilakukan lebih terstruktur, berjenjang, dan berorientasi pada peningkatan kualitas.
Instruksi itu diwujudkan melalui pemusatan latihan, evaluasi berkala, simulasi perlombaan, hingga pendampingan selama pelaksanaan MTQ berlangsung.
Bupati Muchendi juga memberikan apresiasi kepada seluruh unsur yang terlibat dalam keberhasilan tersebut, mulai dari pengurus LPTQ, pelatih, pembina, pendamping hingga para peserta yang dinilai telah membawa nama baik Kabupaten OKI di tingkat provinsi.
“Prestasi ini menunjukkan bahwa pembinaan yang dilakukan dengan serius akan menghasilkan capaian yang membanggakan. Ke depan, pembinaan harus terus ditingkatkan agar prestasi ini dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan hingga tingkat nasional,” kata Muchendi.
Namun Tantangan Belum Selesai
Meski berhasil menembus empat besar, namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa mempertahankan prestasi sering kali jauh lebih sulit dibanding meraihnya.
Dalam berbagai penyelenggaraan MTQ di tingkat daerah maupun provinsi, perubahan peringkat antardaerah kerap terjadi karena dipengaruhi regenerasi peserta, kesinambungan pembinaan, kualitas pelatih, hingga kesiapan anggaran.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan oleh sebagian pembina MTQ di berbagai daerah yang menilai pembinaan tidak cukup dilakukan menjelang perlombaan saja, tetapi membutuhkan proses panjang sejak usia dini melalui TPQ, rumah tahfiz, madrasah, dan lembaga pendidikan Al-Qur’an.
Sejumlah pemerhati pembinaan Al-Qur’an menilai keberhasilan sebuah daerah biasanya lahir dari sistem pembinaan yang berlangsung sepanjang tahun, bukan hanya ketika MTQ akan digelar.
Karena itu, capaian OKI tahun ini dinilai dapat menjadi momentum memperkuat ekosistem pembinaan qari dan qariah agar mampu bersaing secara konsisten pada level provinsi maupun nasional.
Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah peningkatan peringkat yang diraih tahun ini akan menjadi fondasi lahirnya prestasi jangka panjang, atau masih membutuhkan penguatan sistem pembinaan yang lebih menyeluruh hingga ke tingkat kecamatan dan desa.
Hingga kini, belum semua indikator mengenai keberlanjutan pembinaan pasca-MTQ dipublikasikan secara rinci. Ke depan, konsistensi program pembinaan diperkirakan akan menjadi faktor penentu apakah Kabupaten OKI mampu menembus tiga besar bahkan bersaing di tingkat nasional.
Prestasi telah berhasil diraih. Namun perjalanan untuk mempertahankannya baru saja dimulai.(Asep)

















