JAKARTA, cimutnews.co.id — Bencana hidrometeorologi kembali terjadi di sejumlah daerah.
Namun di tengah imbauan kesiapsiagaan yang terus disampaikan, sejumlah warga justru mengaku masih menghadapi persoalan yang sama setiap kali hujan deras datang.
Lalu, kenapa banjir dan kerusakan akibat cuaca ekstrem terus berulang?
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat banjir dan cuaca ekstrem masih mendominasi sejumlah wilayah Indonesia pada periode 24–25 Mei 2026.
Di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, banjir terjadi setelah hujan deras mengguyur cukup lama hingga menyebabkan Sungai Rengas dan Sungai Cijayanti meluap.
Banjir merendam dua desa, yakni Desa Waru Jaya di Kecamatan Parung dan Desa Cijayanti di Kecamatan Babakan Madang.
Sebanyak 611 jiwa dari 178 kepala keluarga terdampak dan terpaksa mengungsi ke rumah kerabat.
Tidak hanya banjir, angin kencang juga menerjang dua wilayah lain di Kabupaten Bogor.
BPBD mencatat 320 jiwa terdampak, dengan puluhan rumah mengalami kerusakan mulai ringan hingga berat.
Sementara itu di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, banjir akibat hujan deras dan jebolnya tanggul juga masih menyisakan genangan.
Ratusan rumah terdampak dan warga mulai membersihkan lumpur serta sampah yang terbawa arus banjir.
BNPB menyebut kejadian hidrometeorologi basah masih berpotensi terjadi meski sebagian wilayah mulai memasuki musim dengan curah hujan menengah hingga rendah.
Pemerintah daerah bersama BPBD disebut telah melakukan penanganan darurat, pembersihan material pohon tumbang, hingga asesmen kerusakan rumah warga.
BNPB juga mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi banjir, angin kencang, hingga ancaman bencana lainnya.
Namun fakta di lapangan menunjukkan sebagian warga masih harus menangani dampak bencana secara mandiri.
Di Bogor, sejumlah warga dilaporkan membersihkan rumah sendiri setelah genangan mulai surut.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan warga yang rumahnya mengalami kerusakan akibat angin kencang.
Sejumlah warga mengaku harus memperbaiki bagian rumah secara swadaya karena kerusakan harus segera ditangani agar tetap bisa ditempati.
Berdasarkan temuan di lapangan, banjir di Bogor juga diduga diperparah oleh sistem drainase yang kurang optimal.
Sementara di Pati, jebolnya tanggul kembali memunculkan pertanyaan lama soal kesiapan infrastruktur pengendali banjir di daerah rawan.
Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah mitigasi yang selama ini dilakukan sudah benar-benar mampu mengurangi dampak bencana tahunan.
“Kalau hujan deras mulai lama, warga sudah waswas duluan,” ujar seorang warga di wilayah terdampak banjir.
Warga lainnya mengaku kerusakan rumah akibat angin kencang membuat mereka harus mengeluarkan biaya tambahan secara mendadak.
“Perbaikan harus cepat, takut tambah rusak kalau hujan lagi,” kata warga tersebut.
Hingga kini, belum semua warga terdampak mendapatkan kepastian terkait penanganan lanjutan maupun bantuan perbaikan rumah.
Cuaca ekstrem memang menjadi salah satu faktor utama meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi.
Namun sejumlah pengamat menilai persoalan drainase, tata ruang hingga kondisi tanggul juga diduga ikut memperparah dampak di lapangan.
Bencana yang terus berulang akhirnya membuat masyarakat mulai mempertanyakan efektivitas langkah pencegahan dibanding sekadar penanganan darurat setelah kejadian.
Apalagi, pola cuaca yang sulit diprediksi diperkirakan masih akan terjadi dalam beberapa waktu ke depan.
BNPB terus mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi ancaman hidrometeorologi.
Namun dengan banjir, tanggul jebol dan kerusakan rumah yang kembali terjadi di sejumlah daerah, perhatian publik terhadap kesiapan mitigasi diperkirakan akan terus meningkat.
Apakah ke depan penanganan bencana bisa lebih fokus pada pencegahan jangka panjang, atau masyarakat akan kembali menghadapi siklus yang sama setiap musim hujan datang? (Timred/CN)
Sumber : BNPB


















