Beranda Pagar Alam Terungkap di Balik Meriahnya Festival Lagu Daerah, Pelestarian Budaya Besemah Belum Sepenuhnya...

Terungkap di Balik Meriahnya Festival Lagu Daerah, Pelestarian Budaya Besemah Belum Sepenuhnya Terjawab

6
0
Plt. Wali Kota Pagar Alam Hj. Bertha menghadiri Grand Final Festival Lagu Daerah Besemah Expo 2026 di Gunung Gare. (Foto: Hafis/cimutnews.co.id)

PAGAR ALAM, cimutnews.co.id — Panggung Apresiasi Seni di kawasan Gunung Gare, Kota Pagar Alam, dipenuhi alunan lagu-lagu khas Besemah saat Grand Final Festival Lagu Daerah Besemah Expo 2026 digelar pada Rabu malam (10/6/2026).

Acara yang menjadi bagian dari rangkaian Besemah Expo 2026 tersebut menampilkan para finalis dari berbagai kalangan yang bersaing menunjukkan kemampuan terbaik mereka membawakan lagu daerah warisan masyarakat Besemah.

Kegiatan ini mendapat perhatian langsung dari Plt. Wali Kota Pagar Alam Hj. Bertha yang hadir sekaligus memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan festival tersebut.

Namun di balik kemeriahan panggung dan antusiasme peserta, muncul pertanyaan yang lebih besar. Apakah upaya pelestarian budaya daerah cukup dilakukan melalui festival tahunan, atau masih dibutuhkan langkah yang lebih berkelanjutan agar lagu-lagu Besemah tetap hidup di tengah perubahan zaman?

Pelestarian Budaya Jadi Sorotan

Dalam sambutannya, Hj. Bertha menyebut festival lagu daerah merupakan salah satu upaya menjaga warisan budaya yang dimiliki masyarakat Besemah.

Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya lokal.

“Melalui kegiatan ini, kita berharap lagu-lagu daerah Besemah dapat terus dikenal, dicintai, dan diwariskan kepada generasi penerus. Pemerintah Kota Pagar Alam akan terus mendukung berbagai kegiatan yang bertujuan melestarikan budaya daerah,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan adanya komitmen pemerintah untuk menjaga identitas budaya daerah melalui berbagai kegiatan seni dan budaya.

Meski festival berlangsung meriah, sejumlah pegiat budaya menilai tantangan pelestarian lagu daerah masih cukup besar.

Berdasarkan temuan di lapangan, lagu-lagu Besemah saat ini lebih sering terdengar pada momen tertentu seperti festival, acara adat, maupun perayaan daerah.

Di luar kegiatan tersebut, ruang ekspresi bagi seni musik tradisional masih relatif terbatas dibandingkan derasnya arus budaya populer yang mudah diakses generasi muda melalui media digital.

Baca juga  Perkuat Iman dan Integritas, Polres Pagaralam Gelar Tausyiah Bersama Ustadz Supiyan Hadi

Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas program pelestarian budaya dalam jangka panjang.

Apakah generasi muda benar-benar mengenal makna lagu-lagu Besemah, atau hanya mengenalnya ketika mengikuti perlombaan dan kegiatan seremonial?

Di Sisi Lain, Kondisi Berbeda Dirasakan

Sejumlah warga yang ditemui di lokasi mengaku senang dengan adanya festival lagu daerah karena dianggap mampu menghidupkan kembali kesenian lokal yang mulai jarang terdengar.

Namun, beberapa warga menilai promosi budaya daerah perlu dilakukan lebih luas, termasuk melalui sekolah, media sosial, hingga ruang publik yang lebih dekat dengan anak muda.

Menurut mereka, festival menjadi langkah awal yang baik, tetapi belum cukup jika tidak dibarengi pembinaan berkelanjutan.

Hingga kini, belum semua generasi muda memiliki akses yang sama untuk mengenal dan mempelajari lagu-lagu daerah Besemah secara mendalam.

Tantangan Regenerasi Masih Terbuka

Pelestarian budaya pada dasarnya tidak hanya bergantung pada penyelenggaraan acara tahunan.

Regenerasi seniman, dokumentasi karya, pendidikan budaya di sekolah, hingga pemanfaatan platform digital menjadi faktor penting yang menentukan apakah sebuah warisan budaya dapat bertahan dalam jangka panjang.

Festival Lagu Daerah Besemah Expo 2026 menjadi bukti bahwa minat terhadap budaya lokal masih ada.

Namun tantangan sesungguhnya justru muncul setelah panggung ditutup dan lampu acara dipadamkan.

Apakah semangat melestarikan lagu daerah akan terus hidup dalam keseharian masyarakat, atau hanya ramai ketika festival berlangsung?

Pertanyaan itu hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah bersama bagi pemerintah, pegiat budaya, dan masyarakat Kota Pagar Alam. (Hafis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here