
KOTA BANDUNG, CimutNews.co.id – Semangat Konferensi Asia Afrika (KAA) yang lahir di Kota Bandung pada 1955 kembali digaungkan dalam International Student Gathering 2026 bertajuk “From Bandung to Gaza: The Unfinished Promise of Solidarity” yang berlangsung di De Majestic, Kota Bandung, Minggu (12/7/2026).
Forum yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara tersebut menjadi ruang dialog lintas budaya sekaligus refleksi mengenai pentingnya solidaritas global dalam menghadapi berbagai krisis kemanusiaan yang masih berlangsung di berbagai belahan dunia, termasuk konflik berkepanjangan di Gaza.
Salah satu pembicara utama, Haddy Joof, alumni Telkom University asal Gambia sekaligus peraih penghargaan 3rd Best Outstanding Graduate, mengajak generasi muda untuk menghidupkan kembali semangat solidaritas internasional melalui tindakan nyata, bukan sekadar kepedulian yang berhenti pada media sosial atau pernyataan simbolik.
Menurut Haddy, nilai-nilai yang lahir dari Konferensi Asia Afrika—persatuan, kesetaraan, penghormatan terhadap hak asasi manusia, serta kerja sama antarbangsa—tetap relevan menghadapi tantangan global pada abad ke-21.
“71 tahun lalu para pemimpin rela menempuh perjalanan jauh demi membangun persatuan. Kini kita memiliki teknologi yang menghubungkan kita dengan mudah, tetapi justru merasa semakin terpecah. Karena itulah saya percaya janji Bandung belum sepenuhnya terwujud,” ujar Haddy.
Solidaritas Harus Berubah Menjadi Aksi Nyata
Dalam paparannya, Haddy menekankan bahwa solidaritas tidak cukup diwujudkan melalui rasa simpati atau ungkapan empati. Menurutnya, setiap individu memiliki ruang untuk berkontribusi melalui langkah-langkah sederhana yang berdampak nyata.
Ia mengajak mahasiswa dan generasi muda untuk terus belajar mengenai isu-isu kemanusiaan, memperkuat literasi global, menjadi relawan, membangun kolaborasi lintas negara, hingga menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan melalui karya tulis maupun berbagai ruang publik.
“Saya mungkin tidak bisa mengubah dunia, tetapi saya bisa memilih langkah. Saya bisa mengedukasi, menulis, dan menyuarakan apa yang benar. Kita tidak harus memiliki kewarganegaraan yang sama untuk peduli terhadap sesama,” katanya.
Haddy juga mengingatkan bahwa krisis kemanusiaan tidak boleh hanya dipahami melalui angka statistik. Di balik setiap data terdapat manusia yang kehilangan keluarga, rumah, keamanan, pendidikan, hingga harapan untuk masa depan.
Bandung Spirit Masih Menjadi Warisan Diplomasi Dunia
Konferensi Asia Afrika yang berlangsung di Bandung pada April 1955 menjadi salah satu tonggak penting diplomasi internasional. Sebanyak 29 negara Asia dan Afrika saat itu menyepakati semangat kerja sama, anti-kolonialisme, penghormatan terhadap kedaulatan negara, serta penyelesaian konflik secara damai.
Nilai-nilai tersebut kemudian dikenal sebagai Bandung Spirit, yang hingga kini masih menjadi salah satu fondasi diplomasi negara-negara berkembang dalam berbagai forum internasional.
Indonesia sendiri secara konsisten menempatkan penyelesaian konflik melalui dialog damai dan penghormatan terhadap hukum internasional sebagai bagian dari politik luar negeri bebas aktif. Prinsip tersebut juga sejalan dengan amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang menegaskan komitmen Indonesia untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Generasi Muda Dinilai Memiliki Peran Strategis
Keterlibatan mahasiswa internasional dalam forum seperti International Student Gathering dinilai memiliki arti strategis karena mempertemukan perspektif dari berbagai negara dalam membahas tantangan global.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, generasi muda memiliki akses yang lebih luas terhadap informasi, jejaring internasional, hingga peluang kolaborasi lintas negara. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan berupa penyebaran disinformasi, polarisasi, hingga menurunnya empati sosial apabila tidak disertai literasi digital yang baik.
Pendidikan tinggi kemudian tidak hanya berfungsi menghasilkan lulusan yang kompeten secara akademik, tetapi juga membentuk warga dunia (global citizens) yang memiliki kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan, keberlanjutan, dan perdamaian dunia.
Selaras dengan Agenda Pembangunan SDM Indonesia
Penguatan karakter, kepemimpinan global, dan kolaborasi internasional menjadi bagian dari arah pembangunan sumber daya manusia Indonesia sebagaimana tercermin dalam berbagai agenda pembangunan nasional, termasuk RPJMN serta visi Indonesia Emas 2045.
Perguruan tinggi didorong tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan riset, tetapi juga ruang dialog antarbangsa yang menghasilkan inovasi, diplomasi masyarakat (people-to-people diplomacy), serta kontribusi terhadap penyelesaian berbagai persoalan global.
Forum mahasiswa internasional seperti ini menunjukkan bahwa diplomasi tidak selalu berlangsung di meja perundingan antarnegara, melainkan juga tumbuh melalui interaksi akademik, pertukaran budaya, dan kolaborasi lintas komunitas.
Solidaritas Global Memerlukan Kolaborasi yang Berkelanjutan
Meningkatnya perhatian mahasiswa terhadap isu kemanusiaan menunjukkan adanya perubahan pola partisipasi generasi muda dalam hubungan internasional. Jika sebelumnya diplomasi didominasi pemerintah, kini masyarakat sipil, akademisi, dan mahasiswa memiliki ruang lebih besar untuk membangun jejaring solidaritas global.
Namun demikian, tantangan terbesar bukan terletak pada meningkatnya perhatian publik, melainkan bagaimana kepedulian tersebut diterjemahkan menjadi aksi yang berkelanjutan. Edukasi, riset, penggalangan bantuan kemanusiaan sesuai ketentuan yang berlaku, serta kolaborasi lintas institusi menjadi bentuk kontribusi konkret yang dapat dilakukan tanpa harus terlibat langsung di wilayah konflik.
Selain itu, forum lintas negara seperti International Student Gathering berpotensi memperkuat citra Indonesia sebagai ruang dialog internasional. Posisi historis Bandung sebagai kota lahirnya Konferensi Asia Afrika memberikan nilai simbolik yang kuat dalam mendorong diplomasi kemanusiaan berbasis masyarakat.
Dalam jangka panjang, semakin banyak ruang dialog internasional yang melibatkan generasi muda akan memperkuat kapasitas kepemimpinan global sekaligus memperluas jejaring kerja sama pendidikan, penelitian, dan inovasi antarnegara. (Siti)

















