
KOTA BANDUNG, CimutNews.co.id – Bandung Bernyanyi Vol. 13 kembali menjadi salah satu daya tarik dalam rangkaian Asia Africa Festival (AAF) 2026 yang digelar di Kota Bandung. Bertempat di Gedung De Majestic, Minggu (12/7/2026), kegiatan ini menghadirkan pengalaman musikal yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memperkuat semangat persatuan, kolaborasi, dan kebanggaan terhadap keberagaman budaya Indonesia.
Ratusan masyarakat dari berbagai usia memenuhi lokasi acara untuk menikmati pertunjukan paduan suara sekaligus ikut bernyanyi bersama. Antusiasme penonton menciptakan atmosfer hangat yang menunjukkan bahwa musik masih menjadi bahasa universal yang mampu menjembatani perbedaan latar belakang sosial, budaya, maupun generasi.
Bandung Bernyanyi merupakan salah satu program seni partisipatif yang secara konsisten menjadi bagian dari kalender budaya Kota Bandung. Kehadirannya dalam Asia Africa Festival mempertegas posisi festival tersebut bukan hanya sebagai agenda wisata, melainkan juga ruang interaksi budaya yang melibatkan masyarakat secara aktif.
Harmoni Paduan Suara Warnai Panggung De Majestic
Para peserta yang tergabung dalam Bandung Bernyanyi tampil membawakan komposisi lagu dengan harmonisasi empat pembagian suara, yakni sopran, alto, tenor, dan bas. Penampilan tersebut memperlihatkan kualitas musikal yang matang sekaligus mencerminkan kekompakan hasil latihan intensif sebelum tampil di hadapan publik.
Berbagai lagu dipersembahkan sepanjang pertunjukan, mulai dari medley lagu-lagu daerah Jawa Barat yang mengangkat kekayaan budaya lokal, “Symphoni yang Indah”, “Heal the World”, “Bandung”, “Bando”, hingga “Ekspresi”. Variasi repertoar tersebut mampu membangun suasana emosional sekaligus mengajak penonton ikut bernyanyi bersama.
Selain menyuguhkan hiburan, pemilihan lagu-lagu daerah juga menjadi upaya memperkenalkan kembali warisan budaya Sunda kepada generasi muda di tengah derasnya arus globalisasi.
Salah seorang penonton, Salwa, mengaku bangga dapat menyaksikan langsung Bandung Bernyanyi dalam gelaran Asia Africa Festival tahun ini.
“Menurut saya, acara hari ini membuat saya bangga, terharu, sekaligus merinding. Mendengar suara teman-teman di sini yang sangat bagus, bahkan sejak sesi latihan, sudah membuat saya sangat kagum. Saya benar-benar menikmati seluruh rangkaian kegiatan Bandung Bernyanyi ini,” ujarnya.
Asia Africa Festival Perkuat Diplomasi Budaya
Asia Africa Festival merupakan agenda tahunan Pemerintah Kota Bandung yang terinspirasi dari semangat Konferensi Asia Afrika 1955. Festival ini tidak hanya menampilkan seni pertunjukan, tetapi juga menjadi media diplomasi budaya, promosi pariwisata, ekonomi kreatif, serta penguatan identitas Kota Bandung sebagai kota kreatif.
Sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam pengembangan ekonomi kreatif dan kebudayaan, penyelenggaraan festival seperti AAF mendukung implementasi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang menempatkan seni sebagai bagian penting dalam pembangunan nasional.
Di sisi lain, penguatan sektor seni dan budaya juga selaras dengan arah pembangunan nasional dalam RPJMN serta visi Indonesia Emas 2045 yang menempatkan kebudayaan sebagai modal sosial untuk meningkatkan daya saing bangsa.
Seni Budaya Berkontribusi pada Ekonomi Kreatif
Data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menunjukkan bahwa sektor ekonomi kreatif, termasuk seni pertunjukan, musik, dan penyelenggaraan festival, terus menjadi salah satu penyumbang penting terhadap pertumbuhan ekonomi nasional melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan kunjungan wisatawan, serta penguatan ekosistem pelaku kreatif daerah.
Bandung sendiri dikenal sebagai salah satu kota dengan ekosistem ekonomi kreatif terbesar di Indonesia. Berbagai festival budaya yang rutin digelar setiap tahun menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah dalam meningkatkan daya tarik wisata sekaligus memperluas ruang ekspresi bagi komunitas seni.
Keberadaan komunitas paduan suara, musisi independen, dan pegiat budaya menjadi modal penting dalam menjaga keberlanjutan kegiatan seni yang melibatkan partisipasi publik secara luas.
Festival Musik Mendorong Kohesi Sosial
Bandung Bernyanyi menunjukkan bahwa festival seni tidak lagi sekadar menjadi tontonan, melainkan berkembang sebagai ruang interaksi sosial yang mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang. Keterlibatan aktif penonton melalui kegiatan bernyanyi bersama menciptakan rasa memiliki terhadap ruang publik dan memperkuat kohesi sosial.
Di tengah meningkatnya aktivitas digital yang sering mengurangi interaksi langsung antarwarga, kegiatan berbasis komunitas seperti ini menjadi alternatif untuk membangun kembali hubungan sosial melalui pengalaman budaya bersama. Musik menghadirkan ruang komunikasi yang inklusif tanpa memandang usia, profesi, maupun identitas sosial.
Dari sisi pembangunan kota, penyelenggaraan festival budaya secara konsisten juga berdampak pada peningkatan aktivitas ekonomi lokal. Kehadiran pengunjung memberikan manfaat bagi pelaku UMKM, sektor kuliner, transportasi, perhotelan, hingga industri kreatif yang terlibat dalam penyelenggaraan acara.
Dalam jangka panjang, konsistensi penyelenggaraan festival budaya berpotensi memperkuat citra Bandung sebagai destinasi wisata berbasis seni dan kreativitas. Reputasi tersebut menjadi nilai tambah dalam menarik wisatawan domestik maupun mancanegara serta memperluas jejaring kerja sama budaya internasional. (Siti)

















