Beranda OKI Mandira Karhutla OKI Dipetakan, 5 Wilayah Jadi Prioritas Setelah Ribuan Hotspot Sumsel Terdeteksi

Karhutla OKI Dipetakan, 5 Wilayah Jadi Prioritas Setelah Ribuan Hotspot Sumsel Terdeteksi

14
0
Pemerintah Kabupaten OKI memetakan lokasi kebakaran berulang untuk menentukan prioritas patroli, personel, peralatan dan sumber air. (Foto: Asep/cimutnews)

KAYUAGUNG, cimutnews.co.idKarhutla OKI menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir setelah sejumlah wilayah tercatat berulang mengalami kebakaran sepanjang musim kemarau 2026. Evaluasi tidak lagi hanya berfokus pada jumlah titik panas, tetapi juga lokasi berulang, penyebab, kecepatan respons, keterbatasan personel hingga dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.

Pembahasan itu dilakukan dalam Rapat Koordinasi Terbatas Pemantauan dan Tindak Lanjut Penanganan Karhutla Kabupaten OKI, Senin (21/9/2026). Pemkab OKI kini mengarahkan penanganan berbasis zona kerawanan agar sumber daya yang terbatas dapat ditempatkan pada lokasi dengan risiko paling tinggi.

Pemkab OKI Ubah Pola Penanganan Karhutla

Bupati OKI H. Muchendi Mahzareki mengatakan evaluasi dilakukan setelah aktivitas karhutla meningkat pada Agustus, sementara jumlah hotspot menunjukkan penurunan pada September.

Menurut Muchendi, penurunan titik panas belum cukup menjadi indikator keberhasilan apabila kebakaran terus muncul di lokasi yang sama.

“Bukan hanya berapa banyak titik api yang berhasil dipadamkan. Kita harus melihat apakah titik itu baru atau berulang, apa penyebabnya, bagaimana respons kita, apa yang belum berhasil dan apa yang perlu diperbaiki,” kata Muchendi.

Pendekatan tersebut membuat pemerintah mulai menggeser perhatian dari sekadar pemadaman api menuju pengenalan pola kebakaran. Lokasi yang berulang terbakar akan dikelompokkan berdasarkan tingkat kerawanan untuk menentukan kebutuhan patroli, personel, peralatan, logistik dan sumber air.

Lima wilayah mencatat hotspot tinggi

Kepala BPBD OKI Pratama Suryadi mengatakan berdasarkan data pemerintah provinsi pada 21 September terdapat 175 hotspot di OKI.

Sebarannya antara lain:

  • Sungai Menang: 42 hotspot
  • Tulung Selapan: 41 hotspot
  • Cengal: 29 hotspot
  • Mesuji: 17 hotspot
  • Kayuagung: 14 hotspot

Data tersebut menunjukkan bahwa konsentrasi hotspot tidak tersebar secara merata. Sungai Menang dan Tulung Selapan menjadi dua wilayah dengan jumlah titik panas paling tinggi dalam pemantauan tersebut.

Namun, hotspot perlu dibaca sebagai indikator adanya anomali panas yang terdeteksi sensor, bukan secara otomatis berarti seluruh titik merupakan kejadian kebakaran yang sedang aktif. Karena itu, verifikasi lapangan tetap penting sebelum menentukan operasi pemadaman.

Baca juga  Blokir Jalan Dibuka, Pelajar Kembali Sekolah

Data Hotspot Sumsel Menunjukkan Tekanan Karhutla Masih Tinggi

Kondisi OKI juga perlu dilihat dalam konteks Sumatera Selatan secara keseluruhan.

BNPB dalam peninjauan operasi karhutla di Sumsel pada 18 September menyebut berdasarkan paparan Satgas Karhutla Sumsel, hingga 17 September pukul 05.00 WIB terdapat 3.039 hotspot di Sumatera Selatan. OKI menjadi wilayah dengan angka tertinggi dalam paparan tersebut, yakni 1.034 hotspot, disusul Musi Banyuasin 684 dan Banyuasin 379 hotspot.

Perbedaan angka antara data 1.034 hotspot pada 17 September dan 175 hotspot pada 21 September tidak serta-merta menunjukkan pertentangan data. Angka tersebut berasal dari waktu pemantauan dan konteks data yang berbeda, sehingga tidak tepat dibandingkan sebagai satu rangkaian angka harian tanpa melihat metode dan periode pengamatannya.

Yang lebih penting, kedua data sama-sama menunjukkan bahwa OKI berada dalam kawasan yang mendapat perhatian serius dalam penanganan karhutla Sumatera Selatan.

Cuaca Kering Memperbesar Risiko Kebakaran

Faktor cuaca menjadi konteks penting dalam membaca perkembangan karhutla OKI.

BMKG Sumatera Selatan pada 20 September memperingatkan sebagian besar wilayah Sumatera Selatan, terutama bagian tengah hingga timur, masih berpeluang mengalami curah hujan rendah pada dasarian III September. Sebagian besar wilayah juga mengalami kondisi hari tanpa hujan yang panjang, sementara sebagian wilayah OKI masuk kategori hari tanpa hujan sangat panjang dan sebagian kecil mengalami kekeringan ekstrem.

BMKG juga menyebut kondisi atmosfer Indonesia pada periode tersebut relatif kering dan memperingatkan potensi peningkatan hotspot di daerah rawan karhutla.

Dengan kondisi tersebut, pemadaman satu kejadian belum otomatis menghilangkan risiko kebakaran berikutnya. Lahan yang masih kering, terutama kawasan yang memiliki karakteristik gambut, dapat kembali menjadi titik rawan apabila sumber api muncul.

Kendala personel, alat dan sumber air

Pratama mengakui keterbatasan personel, peralatan dan sumber air masih menjadi tantangan ketika beberapa titik kebakaran muncul dalam waktu bersamaan.

“Memang ada keterbatasan alat dan personel. Ketika beberapa titik muncul bersamaan, kami harus menentukan prioritas penanganan,” ujar Pratama.

Baca juga  Teknologi Karhutla Makin Canggih, Tapi Ancaman Api Gambut Belum Benar-Benar Hilang

Karena itu, Pemkab OKI akan mempercepat pemenuhan sarana dan prasarana yang diusulkan BPBD, TNI maupun Polri, termasuk kebutuhan tambahan personel dan relawan.

Patroli terpadu juga akan disusun berdasarkan zona rawan sehingga pergerakan tim tidak hanya bersifat reaktif setelah api muncul.

Kawasan Konsesi Diminta Jadi Perhatian Khusus

Salah satu penekanan dalam evaluasi Pemkab OKI adalah kebakaran yang berulang di kawasan konsesi.

Muchendi meminta perusahaan dan pengelola lahan memperkuat pencegahan serta penanganan di wilayah tanggung jawab masing-masing.

“Kalau terjadi kebakaran berulang di satu lokasi, kita harus tahu penyebabnya dan siapa yang bertanggung jawab. Perusahaan yang memiliki atau mengelola lahan harus terlibat maksimal,” ujarnya.

Pemerintah juga akan memetakan kebutuhan sumur bor, embung dan sekat kanal di lokasi rawan. Infrastruktur tersebut penting bukan hanya ketika api sudah muncul, tetapi juga untuk menjaga ketersediaan air sebagai bagian dari strategi pencegahan.

Dampak Karhutla tidak berhenti di kawasan terbakar

Evaluasi Pemkab OKI juga memasukkan dampak kesehatan masyarakat. Sebanyak 33 puskesmas akan menjadi bagian dari pemantauan kondisi kesehatan, termasuk perkembangan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan kondisi kelompok rentan.

Data kesehatan tersebut nantinya dapat digunakan untuk menentukan kebutuhan dukungan seperti masker, vitamin dan pelayanan kesehatan.

Langkah ini sejalan dengan perhatian pemerintah terhadap dampak asap karhutla yang tidak mengenal batas administratif. BMKG sebelumnya mengingatkan bahwa asap dari kebakaran dapat berdampak terhadap kualitas udara dan jarak pandang, sementara kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia perlu mendapat perhatian khusus.

Analisis: Dari Memadamkan Api ke Mencegah Api Kembali

Perubahan pendekatan Pemkab OKI memiliki arti penting karena persoalan karhutla tidak selesai ketika api padam. Jika lokasi yang sama kembali terbakar, maka persoalan utamanya bukan hanya kemampuan pemadaman, melainkan efektivitas pencegahan, pengawasan dan pengelolaan lahan.

Karena itu, pemetaan kebakaran berulang dapat menjadi dasar evaluasi yang lebih terukur. Pemerintah dapat melihat apakah suatu kawasan memerlukan tambahan sumber air, patroli lebih sering, pengawasan terhadap aktivitas pembukaan lahan, atau penanganan khusus terhadap karakteristik lahannya.

Baca juga  Warga OKI Gunakan Hak Pilih, Pilkada Berjalan Damai dan Kondusif

Micro-insight: titik panas yang terus muncul di kawasan yang sama seharusnya dipandang sebagai pola, bukan sekadar kumpulan angka. Dengan menggabungkan data hotspot, kejadian kebakaran, kondisi cuaca, akses menuju lokasi, sumber air dan data kesehatan, pemerintah memiliki peluang membangun sistem pencegahan yang lebih presisi.

Tantangannya adalah memastikan data tersebut benar-benar diterjemahkan menjadi keputusan lapangan. Sebab, dalam kondisi personel dan peralatan terbatas, keberhasilan penanganan tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat tim tiba di lokasi, tetapi juga seberapa tepat pemerintah mengetahui di mana mereka harus ditempatkan sebelum api membesar.

Penanganan Karhutla OKI Masuk Tahap Penguatan Sistem

Pemerintah Kabupaten OKI selanjutnya akan menggunakan hasil evaluasi sebagai dasar penataan strategi penanganan karhutla, mulai dari pembagian zona prioritas, patroli terpadu, penguatan sarana pemadaman, keterlibatan pengelola lahan hingga perlindungan masyarakat.

Kondisi cuaca juga membuat kewaspadaan belum dapat diturunkan sepenuhnya. BMKG pada 22 September masih menyebut sebaran asap dan karhutla sebagai perhatian dalam prakiraan cuaca nasional periode 22–28 September 2026. Hingga 21 September, Sumatera Selatan tercatat memiliki 1.485 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi dalam 10 hari terakhir.

Dengan demikian, penurunan hotspot pada periode tertentu perlu diikuti dengan pengawasan yang konsisten. Seperti ditegaskan Muchendi, penanganan karhutla tidak boleh hanya berhenti pada persoalan api.

“Jangan sampai kita hanya bicara api, tetapi lupa dampaknya kepada masyarakat.”

Sumber : Diskominfo OKI

Penulis : Asep

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here