Beranda OKI Mandira Gotong Royong Bersih Kota Digelar, Namun Sampah di Kayuagung Masih Jadi Pekerjaan...

Gotong Royong Bersih Kota Digelar, Namun Sampah di Kayuagung Masih Jadi Pekerjaan Rumah

10
0
Bupati OKI H. Muchendi Mahzareki memimpin ribuan peserta aksi gotong royong membersihkan kawasan Kota Kayuagung dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026. (Foto: Diskominfo OKI/CN)

KAYUAGUNG, cimutnews.co.id — Pariwisata dan kualitas hidup sebuah daerah tak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kebersihan lingkungannya. Di Kayuagung, ribuan orang turun langsung memungut sampah dalam aksi besar memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.

ASN, TNI, Polri, pelajar dan masyarakat mengangkut sampah dari tepian Sungai Komering sebagai upaya membangun budaya hidup bersih di Kabupaten OKI. (Foto: Diskominfo OKI/CN)

Namun muncul pertanyaan yang masih menggantung. Apakah gerakan sehari mampu mengubah persoalan sampah yang selama ini terjadi, atau hanya menjadi rutinitas seremonial tahunan?

Ribuan aparatur sipil negara (ASN), personel TNI-Polri, pelajar, komunitas peduli lingkungan hingga masyarakat umum memadati sejumlah titik di Kota Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Kamis (18/6/2026). Mereka bergotong royong membersihkan kawasan permukiman, jalan protokol hingga tepian Sungai Komering.

Sejak pukul 07.00 WIB, peserta membawa sapu, pengait sampah, karung, dan kantong plastik berukuran besar. Berbagai jenis sampah berhasil dikumpulkan, mulai dari plastik sekali pakai, limbah rumah tangga, ranting pohon hingga sampah organik yang selama ini menumpuk di sejumlah lokasi.

Aksi tersebut dipimpin langsung Bupati OKI H. Muchendi Mahzareki sebagai bagian dari peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia sekaligus menjadi langkah awal membangun budaya hidup bersih di tengah masyarakat.

Dalam keterangannya, Muchendi menegaskan bahwa persoalan lingkungan tidak mungkin diselesaikan hanya melalui kebijakan pemerintah. Menurutnya, perubahan harus dimulai dari kebiasaan sehari-hari masyarakat.

Ia mengajak warga membangun budaya sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan serta mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Langkah kecil itu, menurutnya, akan memberikan dampak besar apabila dilakukan secara konsisten oleh seluruh lapisan masyarakat.

Selain itu, ia juga mengingatkan ancaman perubahan iklim yang diperkirakan semakin terasa pada musim kemarau tahun ini akibat fenomena El Nino. Kondisi tersebut dinilai menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan bersama.

Baca juga  Lomba Bidar Mini, Cara Warga OKI Rayakan HUT RI dan Jaga Tradisi

Namun fakta di lapangan menunjukkan persoalan kebersihan lingkungan belum sepenuhnya selesai. Di sejumlah sudut kota maupun kawasan bantaran Sungai Komering, sampah rumah tangga masih kerap ditemukan, terutama setelah aktivitas masyarakat pada pagi maupun sore hari.

Berdasarkan temuan di lapangan, kesadaran warga untuk membuang sampah pada tempatnya memang mulai meningkat, tetapi belum merata. Sejumlah pelaku kebersihan mengaku masih menemukan tumpukan sampah di beberapa lokasi yang sebenarnya telah dibersihkan sebelumnya.

Kondisi itu menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukan sekadar mengangkut sampah, melainkan mengubah pola pikir masyarakat agar tidak kembali menghasilkan persoalan yang sama.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten OKI mulai menyiapkan langkah jangka panjang. Salah satunya dengan menetapkan kegiatan bersih lingkungan setiap hari Kamis yang melibatkan ASN di seluruh organisasi perangkat daerah (OPD).

Program tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai agenda rutin pegawai pemerintah, melainkan mampu menular menjadi kebiasaan masyarakat di lingkungan tempat tinggal masing-masing.

Muchendi juga menyoroti pentingnya Sungai Komering sebagai identitas Kota Kayuagung sekaligus sumber kehidupan masyarakat sejak puluhan tahun lalu. Ia mengapresiasi berbagai upaya yang telah dilakukan untuk mengurangi aktivitas mandi, cuci dan kakus (MCK) langsung di sungai demi menjaga kualitas air baku.

Menurutnya, wajah sebuah kota dapat dilihat dari tingkat kebersihan lingkungannya. Karena itu, gerakan menjaga lingkungan harus diwariskan sebagai budaya, bukan sekadar memenuhi agenda tahunan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten OKI, Muktaqid, menjelaskan bahwa ribuan ASN disebar ke berbagai kelurahan untuk melakukan pembersihan sekaligus penataan lingkungan.

Ia berharap kegiatan tersebut mampu menjadi pemicu tumbuhnya kepedulian masyarakat sehingga kawasan permukiman menjadi lebih bersih, sehat, dan nyaman dihuni.

Meski demikian, sejumlah pemerhati lingkungan menilai keberhasilan program serupa akan sangat bergantung pada konsistensi pengawasan, ketersediaan fasilitas persampahan, serta partisipasi masyarakat setelah kegiatan selesai. Tanpa ketiga hal tersebut, aksi gotong royong berpotensi hanya menghasilkan perubahan sesaat.

Baca juga  📰 Mudik Lebaran 2026 di OKI: Pesona Sungai Komering, Midang Bebuke hingga Kuliner Khas Sambut Pemudik

Hal ini menimbulkan pertanyaan yang patut dijawab bersama. Ketika ribuan orang mampu membersihkan kota dalam sehari, mampukah kebiasaan menjaga kebersihan itu bertahan sepanjang tahun?

Hingga kini, membangun budaya sadar lingkungan masih menjadi pekerjaan besar yang memerlukan kolaborasi pemerintah, dunia pendidikan, komunitas, hingga masyarakat. Tantangan berikutnya bukan lagi soal menggelar aksi bersih-bersih, melainkan memastikan tidak ada lagi sampah yang kembali mengotori ruang-ruang publik beberapa hari setelah kegiatan berakhir.

Informasi dihimpun dari keterangan resmi Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir melalui DISKOMINFO OKI dan hasil penelusuran lapangan.

(Asep)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here