
PALEMBANG, cimutnews.co.id — Sebanyak 19 mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas PGRI Palembang (UPGRIP), resmi mengikuti program magang di Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mempertemukan pembelajaran akademik dengan praktik profesional sekaligus memperluas pengalaman mahasiswa di bidang kebahasaan dan kesastraan.
Penyerahan mahasiswa dilakukan oleh tiga dosen UPGRIP, yakni Dr. Hetilaniar, M.Pd., Assoc. Prof. Dr. Darwin Effendi, M.Pd., dan Juaidah Agustina, M.Pd. Rombongan disambut langsung Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan, Desi Ari Pressanti, S.S., M.Hum., didampingi Kasubag Umum, Hadiah, S.E., serta sejumlah pegawai Balai Bahasa.
Magang Jadi Jembatan antara Teori Perkuliahan dan Dunia Kerja
Program magang tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengenal secara langsung lingkungan kerja di institusi kebahasaan. Selain memperdalam pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan, peserta juga berkesempatan mengembangkan keterampilan komunikasi, administrasi, kerja sama tim, serta pemahaman mengenai penerapan ilmu bahasa dan sastra dalam lingkungan profesional.
Bagi mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia, pengalaman tersebut memiliki relevansi dengan kompetensi akademik yang dipelajari di bangku kuliah. Penguasaan bahasa, keterampilan menulis, pemahaman sastra, serta kemampuan berkomunikasi merupakan bekal yang dapat diterapkan dalam berbagai bidang pekerjaan, termasuk pendidikan, penelitian, penyuntingan, dan pengembangan literasi.
Keterlibatan mahasiswa di Balai Bahasa juga membuka ruang untuk mengenal peran lembaga pemerintah dalam pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia serta pelestarian bahasa daerah.
UPGRIP Dorong Mahasiswa Manfaatkan Pengalaman Profesional
Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UPGRIP, Dr. Hetilaniar, M.Pd., mengatakan bahwa magang di Balai Bahasa merupakan kesempatan strategis bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan pengetahuan akademik ke dalam dunia kerja nyata.
Menurut Hetilaniar, program tersebut tidak semata-mata ditujukan untuk memenuhi kewajiban akademik, tetapi juga menjadi sarana membangun etos kerja, meningkatkan kompetensi, serta membentuk kesiapan mahasiswa menghadapi tantangan profesional.
“Kami berharap 19 mahasiswa yang mengikuti magang ini dapat memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya. Magang bukan hanya untuk memenuhi kewajiban akademik, tetapi menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar secara langsung, membangun etos kerja, meningkatkan kompetensi, dan memahami bagaimana ilmu bahasa dan sastra diterapkan dalam institusi profesional,” ujar Hetilaniar.
Ia menambahkan, pengalaman langsung di lingkungan kerja diharapkan mampu memperluas wawasan mahasiswa mengenai penerapan ilmu yang selama ini dipelajari di perguruan tinggi.
Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya mengandalkan pemahaman teoretis, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengasah keterampilan praktis, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemampuan beradaptasi.
Kolaborasi Perguruan Tinggi dan Balai Bahasa Perluas Ruang Pembelajaran
Kerja sama antara UPGRIP dan Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan menjadi salah satu bentuk keterhubungan antara pendidikan tinggi dan lembaga profesional. Kolaborasi semacam ini memberikan ruang pembelajaran di luar kampus sekaligus mendukung pengembangan kompetensi calon lulusan.
Dalam konteks pendidikan tinggi, program magang dapat menjadi sarana untuk memperkaya pengalaman belajar mahasiswa melalui interaksi dengan lingkungan kerja, budaya organisasi, serta penerapan pengetahuan sesuai bidang keilmuan.
Bagi mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia, kesempatan tersebut juga berpotensi memperkenalkan beragam jalur karier yang berkaitan dengan keahlian bahasa dan sastra. Selain menjadi tenaga pendidik, lulusan memiliki peluang untuk berkiprah dalam bidang penelitian, penyuntingan, penerbitan, komunikasi, dan kegiatan literasi.
Namun, manfaat program magang tidak hanya ditentukan oleh keikutsertaan mahasiswa. Kualitas pendampingan, kesesuaian aktivitas dengan kompetensi program studi, serta evaluasi hasil pembelajaran menjadi unsur penting agar pengalaman tersebut memberikan dampak nyata terhadap kesiapan lulusan.
Penguatan Kompetensi Bahasa dan Sastra Menjadi Bekal Lulusan
Hetilaniar menilai kolaborasi dengan Balai Bahasa memiliki nilai strategis dalam mendukung peningkatan kualitas calon lulusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Pengalaman selama magang diharapkan dapat menjadi bekal bagi mahasiswa ketika memasuki dunia kerja maupun menjalankan profesi sesuai bidang keahliannya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan yang telah memberikan kesempatan kepada mahasiswa UPGRIP untuk memperoleh pengalaman belajar di lingkungan institusi kebahasaan.
“Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan yang telah memberikan ruang belajar bagi mahasiswa kami. Harapannya, kerja sama ini dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi penguatan pendidikan bahasa dan sastra,” tambahnya.
Magang dan Tantangan Menyiapkan Lulusan yang Adaptif
Program magang 19 mahasiswa UPGRIP ini mencerminkan pentingnya pengalaman lapangan dalam proses pendidikan calon sarjana. Di tengah kebutuhan dunia kerja terhadap lulusan yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki keterampilan praktis, pembelajaran berbasis pengalaman menjadi salah satu unsur penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia.
Dari sisi pengembangan kompetensi, terdapat tiga manfaat utama yang dapat diperoleh mahasiswa melalui kegiatan magang:
- Pengalaman profesional: mengenal budaya kerja, kedisiplinan, tanggung jawab, dan tata kelola institusi.
- Penguatan keterampilan: mengembangkan kemampuan kebahasaan, kesastraan, komunikasi, administrasi, dan kolaborasi.
- Pemetaan karier: memperluas wawasan mengenai peluang profesi yang relevan dengan bidang Pendidikan Bahasa Indonesia.
Pengalaman tersebut diharapkan dapat membantu mahasiswa mengidentifikasi kekuatan dan aspek kompetensi yang masih perlu ditingkatkan sebelum menyelesaikan studi.
Pada akhirnya, keberhasilan program magang tidak hanya diukur dari jumlah mahasiswa yang ditempatkan, tetapi juga dari keterampilan, wawasan, dan pengalaman yang berhasil diperoleh selama kegiatan berlangsung.
Melalui program ini, UPGRIP dan Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan diharapkan dapat terus memperkuat sinergi dalam mendukung pendidikan bahasa dan sastra, sekaligus menyiapkan lulusan yang adaptif, kompeten, dan siap berkontribusi bagi pengembangan literasi serta kebahasaan di Indonesia. (Poerba)

















