Beranda Palembang Karhutla Palembang Capai 406 Kejadian, ISPU Tembus 302 dan Kasus ISPA Terus...

Karhutla Palembang Capai 406 Kejadian, ISPU Tembus 302 dan Kasus ISPA Terus Meningkat

2
0
Menko Polkam Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago bersama Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru dan Wali Kota Palembang Ratu Dewa meninjau Posko Karhutla di Kecamatan Kertapati, Palembang, Jumat (18/9/2026).(Foto:Poerba/cimutnews)

PALEMBANG, cimutnews.co.id – Karhutla Palembang mencapai 406 kejadian dengan luas lahan terdampak sekitar 254,23 hektare hingga 17 September 2026. Pada saat yang sama, kualitas udara memburuk dengan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) mencapai 302 dan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) harian meningkat menjadi 752 kasus.

Situasi tersebut menjadi perhatian pemerintah pusat dan daerah. Dalam kunjungan kerja ke Sumatera Selatan, Jumat (18/9/2026), Menko Polkam Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago bersama Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dan Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru meninjau Posko Karhutla di Kantor Kecamatan Kertapati, Jalan Sriwijaya Raya KM 14, Palembang.

406 Kejadian Karhutla Tersebar di Sejumlah Kecamatan

Data Pemerintah Kota Palembang menunjukkan kebakaran lahan tidak hanya terjadi di satu kawasan. Sejumlah kecamatan bahkan mencatat puluhan kejadian sepanjang periode pemantauan.

Kecamatan Kertapati menjadi wilayah dengan jumlah kejadian tertinggi, yakni 64 kasus. Setelah itu Gandus 60 kejadian, Alang-Alang Lebar 56 kejadian, Ilir Barat I 50 kejadian, dan Sukarami 49 kejadian.

Pada tingkat kelurahan, Gandus mencatat 39 kejadian, disusul Bukit Baru 30 kejadian dan Sukamulya 28 kejadian.

Pola yang lebih penting terlihat pada lokasi yang mengalami kebakaran berulang. Jalan Tanjung Barangan di Kecamatan Ilir Barat I tercatat terbakar sebanyak 14 kali, Jalan Talang Kepuh di Kecamatan Gandus 12 kali, sedangkan Jalan Mayjend Satibi Darwis tujuh kali.

Pada periode 1 Agustus hingga 17 September 2026, sejumlah hari bahkan mencatat sekitar 10 hingga 15 kejadian kebakaran lahan.

Kebakaran Berulang Menjadi Sinyal Wilayah Rawan

Menurut data tersebut, persoalan Karhutla Palembang tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan memadamkan api setelah kebakaran terjadi. Lokasi yang berulang kali terbakar menunjukkan pentingnya pendekatan berbasis pemetaan risiko.

Menko Polkam menekankan agar personel dan peralatan diarahkan ke wilayah dengan potensi kebakaran tinggi. Strategi tersebut memungkinkan pemerintah melakukan respons lebih cepat sekaligus memperkuat pencegahan sebelum api meluas.

Baca juga  Ampera Tourism Run 2026 Resmi Dibuka, Target 5.000 Pelari Ramaikan HUT ke-1343 Palembang

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni juga menyampaikan bahwa sejumlah provinsi masih menghadapi tingginya titik panas, antara lain Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi.

Sumatera Selatan disebut masih menjadi salah satu wilayah dengan titik panas relatif tinggi meskipun trennya mulai menurun. Karena itu, penurunan titik panas belum dapat dipandang sebagai akhir ancaman kebakaran.

Kekeringan Memperbesar Tekanan Penanganan

Karhutla berlangsung bersamaan dengan persoalan kekeringan. Kondisi ini menambah tantangan karena ketersediaan sumber air menjadi salah satu faktor penting dalam operasi pemadaman.

Di Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Sukarami, kekurangan air untuk kebutuhan rumah tangga berdampak terhadap 720 kepala keluarga. Kondisi serupa terjadi di Karya Mulya, Kecamatan Sematang Borang, yang berdampak terhadap 58 kepala keluarga, serta Silaberanti, Kecamatan Jakabaring, sebanyak empat kepala keluarga.

Dampak kekeringan juga terasa pada sektor pertanian. Lahan dan sawah di Pulokerto, Kecamatan Gandus, terdampak sekitar 407 hektare. Sementara Bukit Baru dan Demang Lebar Daun di Kecamatan Ilir Barat I terdampak sekitar 22 hektare.

Di Kertapati, kekeringan tercatat terjadi di Karya Jaya, Kemasrindo, dan Keramasan dengan luas sekitar 21,5 hektare.

Meski demikian, pemerintah menyatakan kondisi air bersih Kota Palembang secara umum masih aman. Perumda Tirta Musi mencatat selama Mei hingga Agustus 2026 ketersediaan air baku meningkat 6,3 persen, produksi air bersih naik 5 persen, dan distribusi meningkat 5,1 persen.

Perumda Tirta Musi juga menyiapkan mobil tangki untuk distribusi air ke wilayah terdampak serta fasilitas pengisian air bagi mobil tangki di IPA dan booster.

ISPU Palembang Tembus 302, Kasus ISPA Naik

Dampak yang paling langsung dirasakan masyarakat adalah kualitas udara.

Berdasarkan pemantauan 17-18 September 2026, nilai ISPU dalam 24 jam terakhir, terutama pada periode pukul 23.00 WIB hingga 04.00 WIB, berada di atas angka 300. Pada 18 September pukul 04.00 WIB, ISPU Palembang tercatat mencapai 302.

Baca juga  Dinas Perdagangan Palembang Akan Gelar Bazar Digital Ramadhan di 22 Lokasi

Kondisi tersebut berjalan beriringan dengan kenaikan kasus ISPA. Hingga 17 September, kasus harian tercatat 752 kasus, meningkat 46 kasus dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 706 kasus.

Kecamatan Sukarami menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 91 kasus. Berdasarkan kelompok usia, kelompok 19-59 tahun mencatat jumlah tertinggi dengan 320 kasus.

Untuk merespons kondisi tersebut, Pemkot Palembang menyiapkan 61 posko kesehatan yang tersebar di 42 puskesmas. Distribusi masker melalui puskesmas juga telah mencapai 55.400 buah.

Sekolah Dapat Beralih ke Pembelajaran Jarak Jauh

Dampak kualitas udara juga berpengaruh terhadap aktivitas pendidikan.

Pemkot Palembang menerbitkan Surat Edaran Nomor 63 Tahun 2026 tentang penyelenggaraan layanan pendidikan pada satuan pendidikan di daerah terdampak asap Karhutla.

Kebijakan tersebut memungkinkan pembelajaran dilakukan secara daring, luring, maupun kombinasi dengan mempertimbangkan kondisi ISPU. Jika ISPU berada di atas 200, kegiatan belajar tatap muka dihentikan dan diganti dengan pembelajaran jarak jauh.

Kebijakan ini menunjukkan bahwa penanganan Karhutla tidak berhenti pada pemadaman api. Ketika kualitas udara memburuk, dampaknya meluas ke kesehatan, pendidikan, aktivitas ekonomi, hingga mobilitas masyarakat.

Pemerintah Perkuat Patroli dan Respons Darurat

Pemkot Palembang memperkuat pengawasan melalui program Jaga Kampung yang melibatkan 1.605 personel Satlinmas.

Selain itu, terdapat 327 sistem keamanan lingkungan (Siskamling), meskipun 160 di antaranya tercatat aktif dan 167 lainnya tidak aktif.

Posko siaga lapangan juga beroperasi di 18 kecamatan dengan pemantauan dan pelaporan selama 24 jam. Patroli diarahkan ke delapan kecamatan rawan serta lokasi yang memiliki riwayat kebakaran berulang.

Untuk penanganan kebakaran, Palembang memiliki 10 posko pemadam kebakaran dengan total 232 personel.

Masyarakat dapat menyampaikan laporan kondisi darurat melalui layanan 112 atau Call Center BPBD Kota Palembang di nomor 0821 6447 3403.

Baca juga  Gubernur Sumsel Tekankan Warisan Lingkungan Sehat dalam Temu Pelanggan UPTD Laboratorium Lingkungan

TPA Dipantau 24 Jam untuk Cegah Titik Api Baru

Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) juga menjadi salah satu titik yang mendapat perhatian. Pemkot Palembang melakukan penyiraman setiap hari dan menempatkan petugas piket selama 24 jam.

Hingga 17 September 2026, kondisi TPA dilaporkan aman. Sosialisasi larangan pembakaran sampah dan lahan terus dilakukan sebagai langkah pencegahan munculnya titik api baru.

Menurut Ratu Dewa, penanganan Karhutla masih menghadapi sejumlah kendala, antara lain keterbatasan sumber air akibat kekeringan, sulitnya akses menuju beberapa lokasi kebakaran, serta kemungkinan munculnya kebakaran secara bersamaan.

Kondisi angin dan lahan yang kering juga dapat mempercepat penyebaran api sehingga kecepatan respons menjadi faktor penting.

Analisis: Tantangan Karhutla Bukan Sekadar Memadamkan Api

Data 406 kejadian menunjukkan bahwa tantangan Palembang berada pada kemampuan mencegah kebakaran berulang. Ketika satu lokasi terbakar berkali-kali, pendekatan pemadaman semata berisiko membuat pemerintah terus bekerja dalam pola yang sama: api muncul, kemudian dipadamkan, lalu kembali muncul di kawasan yang serupa.

Karena itu, pemetaan lokasi berulang menjadi penting. Data Jalan Tanjung Barangan, Talang Kepuh, dan Mayjend Satibi Darwis misalnya, dapat menjadi dasar untuk menentukan prioritas patroli, pengawasan masyarakat, kesiapan armada, serta intervensi pencegahan.

Dari sisi kesehatan, kenaikan ISPA dari 706 menjadi 752 kasus dalam satu hari memperlihatkan bahwa kebakaran lahan memiliki konsekuensi yang melampaui batas lokasi kebakaran. Asap dapat mengubah persoalan lingkungan menjadi persoalan kesehatan publik, sementara kebijakan pembelajaran jarak jauh menunjukkan dampaknya juga merambah sektor pendidikan. (Poerba)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here