
KAYUAGUNG, cimutnews.co.id – Upaya mengatasi blankspot OKI memasuki fase percepatan setelah pemerintah daerah menggandeng operator telekomunikasi untuk memperluas akses internet di wilayah terpencil. Kolaborasi ini dibahas dalam rapat koordinasi Dinas Komunikasi dan Informatika OKI, Selasa (14/4), di Kantor Bupati OKI.
Langkah ini dinilai krusial karena akses internet kini tidak lagi sekadar pelengkap, melainkan telah menjadi kebutuhan dasar masyarakat, terutama dalam mendukung layanan publik, pendidikan, dan aktivitas ekonomi digital di Kabupaten Ogan Komering Ilir.
Tantangan Konektivitas di Wilayah Luas
Kabupaten OKI menghadapi persoalan serius dalam pemerataan jaringan. Dengan luas wilayah mencapai 17.071,33 kilometer persegi yang terdiri dari 18 kecamatan dan 327 desa/kelurahan, distribusi infrastruktur digital belum merata.
Data Konektivitas OKI
- 57 titik masih blankspot
- 75% wilayah hanya terjangkau 4G lemah
- 15% wilayah memiliki jaringan relatif stabil
- 15 desa belum teraliri listrik
Kepala Dinas Kominfo OKI, Adi Yanto, menjelaskan bahwa kondisi geografis menjadi salah satu hambatan utama.
“Validasi data bersama operator terus kami lakukan agar penanganan blankspot sesuai kondisi lapangan,” ujarnya.
Selain faktor geografis, rendahnya minat operator membangun jaringan di wilayah berpenduduk sedikit juga menjadi kendala klasik dalam pengembangan infrastruktur digital di daerah.
Strategi Internet Gotong Royong
Sebagai solusi, Pemkab OKI bersama Telkomsel mengembangkan skema Internet Gotong Royong (IGR). Model ini menekankan kolaborasi tiga pihak: pemerintah daerah, pemerintah desa, dan penyedia layanan.
Skema Kolaborasi:
- Pemda: regulasi & koordinasi
- Provider: pembangunan jaringan
- Desa: penyediaan lokasi & dukungan infrastruktur
Pendekatan ini dinilai mampu membuka akses di wilayah yang sebelumnya tidak layak secara bisnis bagi operator.
Delapan Desa Sudah Bebas Blankspot
Program ini mulai menunjukkan hasil nyata. Hingga April 2026, sebanyak delapan desa berhasil keluar dari zona blankspot, di antaranya:
- Desa Balian (Mesuji Raya)
- Desa Karya Mukti (Mesuji)
- Desa Suka Mulya (Lempuing)
- Desa Panca Tunggal Benawa (Teluk Gelam)
- Desa Kuripan (Teluk Gelam)
- Desa Pulau Geronggang (Pedamaran Timur)
- Desa Deling (Pangkalan Lampam)
- Desa Pematang Binatani (Mesuji Makmur)
Konektivitas di desa-desa tersebut mulai dimanfaatkan untuk layanan publik seperti pendidikan dan kesehatan.
Fokus pada Layanan Publik
Pemkab OKI menetapkan prioritas penguatan jaringan pada fasilitas publik, terutama:
- Sekolah
- Puskesmas
- Kantor desa
“Konektivitas di layanan publik menjadi prioritas agar pelayanan masyarakat tidak terhambat,” kata Adi.
Penataan Infrastruktur Jadi Sorotan
Selain ekspansi jaringan, pemerintah juga menyoroti persoalan kabel jaringan yang semrawut di sejumlah titik. Kondisi ini dinilai berpotensi membahayakan masyarakat.
Asisten III Setda OKI, Hj Nursula, menegaskan penertiban akan dilakukan bersama operator.
“Penataan kabel penting agar jaringan lebih aman dan tidak mengganggu pengguna jalan,” ujarnya.
Masalah Lama di Daerah
Permasalahan blankspot tidak hanya terjadi di OKI. Secara nasional, wilayah terpencil dan kepulauan masih menjadi tantangan utama dalam pemerataan jaringan digital.
Di banyak daerah, hambatan serupa muncul:
- biaya investasi tinggi
- jumlah pengguna terbatas
- akses geografis sulit
Hal ini membuat intervensi pemerintah menjadi faktor kunci dalam membuka akses digital yang merata.
Internet Jadi Infrastruktur Dasar Baru
Percepatan pengentasan blankspot OKI mencerminkan pergeseran penting: internet kini sejajar dengan kebutuhan dasar lain seperti listrik dan jalan.
Dalam jangka pendek, peningkatan konektivitas akan berdampak pada:
- kelancaran layanan administrasi
- akses pendidikan digital
- komunikasi masyarakat
Namun dalam jangka panjang, dampaknya jauh lebih strategis. Akses internet membuka peluang:
- pertumbuhan UMKM berbasis digital
- peningkatan literasi teknologi
- integrasi ekonomi desa ke pasar lebih luas
Tanpa konektivitas yang merata, daerah berisiko tertinggal dalam transformasi digital nasional.
Kolaborasi Jadi Kunci, Bukan Sekadar Infrastruktur
Yang menarik, pendekatan OKI tidak hanya mengandalkan pembangunan jaringan, tetapi juga mengubah model bisnis melalui kolaborasi.
Ini menunjukkan bahwa:
masalah blankspot bukan semata teknis, tetapi juga ekonomi dan kebijakan
Dengan melibatkan desa dan pemerintah daerah, wilayah yang sebelumnya “tidak menguntungkan” kini menjadi layak dijangkau. Model ini berpotensi direplikasi di daerah lain dengan kondisi serupa.
Percepatan penanganan blankspot di OKI menjadi langkah strategis dalam menjawab kebutuhan dasar masyarakat di era digital. Dengan kolaborasi lintas sektor, akses internet diharapkan tidak lagi menjadi kesenjangan, melainkan jembatan menuju pemerataan pembangunan. (Asep)

















