
OKI, cimutnews.co.id — Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, membawa empat tim sepak bola usia dini ke panggung nasional. Mereka akan berlaga dalam Liga Merah Putih tingkat nasional di Bandung, Jawa Barat.
Sekilas, keberangkatan ini menjadi kabar menggembirakan. Anak-anak dari OKI mendapat kesempatan bertanding melawan tim dari berbagai daerah.
Namun di balik keberangkatan tersebut, ada pertanyaan yang lebih panjang: apakah kompetisi nasional ini hanya menjadi ajang bertanding, atau benar-benar menjadi bagian dari pembinaan sepak bola usia dini yang berkelanjutan?
Empat Tim, Dua Kelompok Usia
Kontingen OKI dilepas Bupati OKI H. Muchendi Mahzareki di Aula Kantor Bupati OKI pada 5 Oktober 2026.
Empat tim tersebut merupakan pemenang Liga Merah Putih tingkat daerah. Mereka terdiri dari kategori U10 dan U12.
Untuk kategori U12, OKI mengirim SDN 1 Maribaya dengan 14 pemain dan SDN 2 Tugumulyo dengan 10 pemain.
Sementara kategori U10 diwakili SDN 2 Tugumulyo dengan 10 pemain serta SDN 2 Makarti Mulya yang telah lebih dahulu berangkat ke Bandung.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa potensi sepak bola usia dini di OKI tidak hanya bertumpu pada satu sekolah atau satu kelompok pemain.
Ada beberapa titik pembinaan yang mulai menghasilkan pemain untuk dibawa ke kompetisi yang lebih tinggi.
Bupati Minta Pemain Tak Terbebani Kemenangan
Dalam pelepasan tersebut, Muchendi menekankan bahwa keberangkatan para pemain bukan semata-mata untuk mengejar kemenangan.
Menurutnya, pengalaman bertanding di tingkat nasional justru menjadi bagian penting dalam proses pembentukan mental pemain muda.
“Adik-adik ini adalah pemenang dan menjadi perwakilan Kabupaten OKI. Kalian sudah membawa nama OKI sampai ke tingkat nasional. Jadikan kesempatan ini untuk menimba pengalaman, menambah teman dan memperluas wawasan,” kata Muchendi.
Pesan tersebut cukup penting untuk kategori usia U10 dan U12.
Pada usia tersebut, pengalaman bertanding, keberanian mengambil keputusan, sportivitas dan kemampuan beradaptasi menjadi bagian dari proses pembentukan atlet.
Tetapi, Apa yang Terjadi Setelah Turnamen?
Di sinilah persoalan pembinaan menjadi menarik untuk dilihat lebih jauh.
Namun fakta di lapangan menunjukkan, keberhasilan mengirim pemain ke kompetisi nasional belum otomatis menjawab bagaimana keberlanjutan pembinaan mereka setelah turnamen selesai.
Keikutsertaan di Bandung memang memberikan pengalaman. Tetapi, pembinaan atlet usia dini membutuhkan proses yang jauh lebih panjang.
Mulai dari latihan rutin, kompetisi berjenjang, kualitas pelatih, fasilitas latihan, dukungan sekolah, hingga kesempatan bagi pemain untuk terus berkembang setelah menyelesaikan satu kompetisi.
Dalam bahan informasi yang tersedia, belum ada penjelasan rinci mengenai bagaimana program pembinaan lanjutan bagi para pemain setelah Liga Merah Putih berakhir.
Hal ini bukan berarti keberangkatan empat tim tersebut tidak penting.
Justru sebaliknya, momentum ini dapat menjadi pintu masuk untuk melihat lebih jauh bagaimana OKI membangun ekosistem sepak bola usia dini.
Anak-Anak Bukan Sekadar Membawa Nama Daerah
Muchendi juga mengingatkan guru, pendamping dan wali peserta agar memperhatikan kesehatan, keamanan serta kenyamanan anak selama perjalanan dan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan di Bandung.
“Utamakan keselamatan selama perjalanan. Setelah sampai di sana, berjuanglah dengan sebaik-baiknya. Bawa nama baik dan kebanggaan masyarakat Kabupaten OKI,” ujarnya.
Pesan tersebut memperlihatkan bahwa keberangkatan pemain usia dini tidak hanya berkaitan dengan pertandingan.
Ada tanggung jawab yang lebih besar karena para pemain masih berada dalam usia anak-anak.
Mereka membutuhkan pendampingan, bukan sekadar instruksi untuk menang.
Di Sisi Lain, Kompetisi Nasional Bisa Menjadi Cermin
Di sisi lain, kondisi berbeda dapat muncul ketika pemain OKI berhadapan dengan tim dari daerah yang memiliki tradisi pembinaan sepak bola lebih panjang.
Pertandingan nasional menjadi semacam cermin.
Bukan hanya untuk mengetahui siapa yang menang dan siapa yang kalah, tetapi juga untuk melihat sejauh mana kemampuan pemain OKI dibandingkan dengan pemain seusianya dari daerah lain.
Dari sana, kekurangan dapat terlihat.
Begitu pula dengan potensi yang selama ini mungkin belum mendapatkan perhatian cukup.
Karena itu, hasil pertandingan seharusnya tidak berhenti pada skor akhir.
Evaluasi setelah kompetisi menjadi bagian penting agar pengalaman di Bandung tidak hanya menjadi cerita satu kali bagi anak-anak tersebut.
Pertanyaan Besarnya Justru Ada Setelah Pulang
Empat tim OKI kini membawa nama daerah ke tingkat nasional.
Mereka memiliki kesempatan mendapatkan pengalaman, membangun kepercayaan diri dan menguji kemampuan menghadapi lawan dari berbagai wilayah.
Tetapi ukuran keberhasilan sebenarnya mungkin bukan hanya berapa pertandingan yang dimenangkan.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang akan dilakukan setelah anak-anak ini kembali ke OKI?
Apakah pengalaman nasional tersebut akan ditindaklanjuti dengan kompetisi rutin, pembinaan yang lebih terarah dan pemantauan terhadap pemain potensial?
Atau pengalaman tersebut hanya berhenti sebagai satu catatan perjalanan menuju Bandung?
Hingga kini, belum semua jawaban mengenai keberlanjutan pembinaan itu terlihat dari informasi yang tersedia.
Namun satu hal jelas, empat tim muda OKI telah membuka pintu ke panggung yang lebih besar.
Kini, tantangannya bukan hanya membawa mereka bertanding.
Tantangannya adalah memastikan talenta-talenta muda tersebut tetap memiliki jalan untuk berkembang setelah sorotan kompetisi berakhir. (Asep)

















